Singapura, Radio Bharata Online - Mantan Presiden Dewan Keamanan PBB, Kishore Mahbubani, mengatakan komitmen Tiongkok terhadap kebijakan keterbukaan telah memberikan kontribusi yang luar biasa terhadap pertumbuhan perdagangan global, terutama perdagangannya dengan negara-negara Perhimpunan Bangsa-Bangsa Asia Tenggara (ASEAN), sangat kontras dengan kebijakan negara-negara Barat yang "menutup diri".

Mahbubani, yang saat ini menjadi peneliti terkemuka di Asia Research Institute yang berafiliasi dengan National University of Singapore, berbagi pandangannya mengenai kebijakan keterbukaan Tiongkok dalam sebuah wawancara baru-baru ini dengan China Global Television Network (CGTN).

Ia percaya bahwa Tiongkok telah membuat keputusan yang tepat untuk membuka diri kepada dunia, yang tidak hanya mendorong perkembangannya sendiri, tetapi juga memberikan kontribusi besar bagi dunia. Mahbubani menggambarkan dampak dari keterbukaan Tiongkok dengan statistik perdagangan antara Tiongkok dan negara-negara ASEAN.

"Ketika Barat menutup pintunya, sangat penting bagi Tiongkok untuk tetap membuka pintunya bagi seluruh dunia. Dan dengan melakukan hal tersebut, Tiongkok memberikan kontribusi yang luar biasa. Pada tahun 2000, ketika Tiongkok mengusulkan perjanjian perdagangan bebas dengan ASEAN, perdagangan Amerika Serikat dengan ASEAN mencapai 135 miliar dolar, dan lebih dari tiga kali lipat perdagangan Tiongkok dengan ASEAN yang hanya 40 miliar dolar. Namun pada tahun 2022 lalu, perdagangan Tiongkok dengan ASEAN telah tumbuh dari 40 miliar menjadi 975 miliar dolar, hampir satu triliun dolar. Hal ini menunjukkan bahwa ada dua keputusan penting yang diambil oleh Tiongkok: pertama, membuka perekonomiannya di dalam negeri, dan yang lebih penting lagi adalah membuka Tiongkok kepada dunia," ujar Mahbubani.