Rui'an, Bharata Online - Tiongkok telah mulai mencairkan tahap pertama dari fasilitas pembiayaan berbasis kebijakan senilai 800 miliar yuan (sekitar 2.118 triliun rupiah), dengan menyalurkan dana awal ke sektor manufaktur maju dan proyek infrastruktur guna mempercepat pembangunan serta memperluas investasi.

Fasilitas keuangan yang ditargetkan ini dikelola oleh bank-bank kebijakan negara utama, termasuk China Development Bank, Agricultural Development Bank of China, dan Export-Import Bank of China, yang dirancang untuk mendukung strategi nasional utama dengan menambah modal bagi proyek-proyek penting.

Di Rui'an, sebuah kota di Provinsi Zhejiang, Tiongkok Timur, sebuah perusahaan penyedia solusi sistem suspensi otomotif baru-baru ini memperoleh dana sebesar 100 juta yuan (sekitar 265 miliar rupiah) dari Export-Import Bank of China untuk proyek suspensi cerdas, yang merupakan inisiatif nasional utama di bidang kendaraan energi baru (New Energy Vehicle/NEV).

Dana tersebut akan digunakan untuk menambah modal proyek, sehingga meringankan beban biaya penelitian dan pengembangan sekaligus meningkatkan kapasitas kredit pembiayaan secara signifikan.

"Hal ini memungkinkan kami menggunakan dana tersebut sebagai modal dasar untuk membuka akses dan menarik lebih banyak pinjaman proyek. Skema ini tidak hanya sangat efisien, tetapi juga berbiaya rendah," ujar Wang Xiaoyan, Wakil Manajer Umum Zhejiang Gold Intelligent Suspension Co., Ltd.

Instrumen pembiayaan yang diumumkan oleh pemerintah Tiongkok pada bulan Maret 2026 itu dirancang untuk menyediakan modal proyek serta menarik pendanaan swasta dan perbankan dalam jumlah lebih besar bagi infrastruktur utama dan proyek-proyek strategis.

"(Dana tersebut) terutama diarahkan pada bidang-bidang utama seperti transformasi digital industri tradisional, energi hijau dan rendah karbon, serta penerapan percontohan kecerdasan buatan (AI) guna memastikan kemajuan pembangunan proyek," kata Ou Lin, Wakil Presiden Export-Import Bank of China cabang Zhejiang.

Di Wuhan, ibu kota Provinsi Hubei di Tiongkok Tengah, sebuah proyek jalan tol yang melibatkan kepemilikan saham oleh perusahaan swasta juga menjadi salah satu proyek pertama di tingkat nasional yang menerima dukungan dari dana pusat tersebut. Setelah rampung, proyek ini akan memperkuat konektivitas regional di wilayah metropolitan Wuhan serta memangkas waktu dan biaya logistik.

"Kami telah meningkatkan dukungan bagi perusahaan swasta untuk memastikan investasi yang lebih awal, cepat, dan substansial, serta memastikan investasi dan kredit berjalan beriringan," kata Ding Dong, Manajer Klien di China Development Bank cabang Hubei.

Pendanaan tersebut akan membuka akses bagi investasi konstruksi senilai sekitar 7 miliar yuan (sekitar 18,5 triliun rupiah), menurut Hu Zhihong, Kepala Proyek untuk Ruas Jiangxia-Danau Liangzi pada Jalan Tol Lingkar Kawasan Metropolitan Wuhan.

"Dana ini mampu mendorong total investasi sekitar tujuh miliar yuan dalam proyek-proyek konstruksi. Begitu dana tersedia, hal ini akan memastikan tercapainya target investasi dan konstruksi tahun ini dengan kualitas tinggi," ujar Hu.

Pada tahap pertama, dana dari pemerintah pusat disalurkan ke sejumlah provinsi, termasuk Yunnan, Fujian, dan Sichuan.

Tiongkok telah meningkatkan nilai instrumen pembiayaan berbasis kebijakan ini dari 500 miliar yuan (sekitar 1.324 triliun rupiah) menjadi 800 miliar yuan (sekitar 2.118 triliun rupiah) pada tahun ini. Dana pusat tersebut diharapkan dapat membantu membuka akses investasi proyek senilai 10 triliun yuan (sekitar 26.475 triliun rupiah).