Beijing, Bharata Online - Dengan bermunculannya produk-produk baru seperti robot humanoid, agen kecerdasan buatan (AI), dan kacamata berbasis AI secara pesat, AI kini terintegrasi dengan cepat ke dalam kehidupan sehari-hari dan menandai dimulainya tahap baru kolaborasi manusia-mesin, demikian menurut laporan industri yang dirilis pada hari Selasa.
Diterbitkan oleh China Internet Network Information Center, Laporan Pengembangan Aplikasi AI Generatif (2026) menunjukkan bahwa selama setahun terakhir, industri robotika Tiongkok telah mengalami pertumbuhan pesat. Pada paruh pertama tahun ini, negara tersebut mengembangkan lebih dari 400 produk robot humanoid utuh, yang mencakup lebih dari separuh total jumlah robot humanoid di dunia. Diperkirakan produksi robot humanoid Tiongkok akan melampaui 100.000 unit pada tahun ini.
Pada kuartal pertama tahun 2026, total ekspor robot yang dikategorikan secara khusus dari Tiongkok mencapai 11,32 miliar yuan (sekitar 30 triliun rupiah) dan menjangkau 148 negara serta wilayah, menurut data dari Administrasi Umum Kepabeanan (General Administration of Customs/GAC) Tiongkok.
"Perangkat dengan kecerdasan fisik (embodied intelligence), seperti robot humanoid, telah memunculkan 'mode kerja' baru dalam berbagai skenario, termasuk manufaktur, penyelamatan darurat, dan layanan katering. Agen AI di kantor telah menjadi 'asisten baru' dalam menangani pekerjaan, sementara kacamata AI berfungsi sebagai 'penerjemah' portabel. Oleh karena itu, kemunculan pesat produk-produk cerdas ini akan membantu menciptakan pasokan baru secara berkelanjutan, mendorong permintaan baru, serta membuka peluang baru bagi pertumbuhan ekonomi," ujar Wang Peng, Direktur China Internet Network Information Center.
Laporan tersebut mencatat bahwa hingga bulan Juni 2026, Tiongkok telah membina dan membangun total 16 klaster manufaktur maju tingkat nasional di bidang industri digital, seperti sirkuit terpadu dan AI, dan tingkat penetrasi aplikasi AI di kalangan perusahaan industri Tiongkok yang berskala di atas ambang batas tertentu (masing-masing dengan pendapatan bisnis utama tahunan minimal 20 juta yuan) telah melampaui 30 persen.
Selama setahun terakhir, sejumlah model AI berskala besar (large models) untuk sektor pertanian telah diluncurkan secara berturut-turut dalam waktu singkat, ungkap laporan tersebut. Laporan tersebut juga menyebutkan bahwa embodied AI (kecerdasan buatan yang terintegrasi dalam wujud fisik) merupakan salah satu bidang paling aktif dalam pengembangan AI. Berkat kemampuan yang terus meningkat dalam menjalankan tugas-tugas kompleks, robot berbasis embodied AI telah diterapkan di berbagai sektor, seperti manufaktur industri, operasi bedah, dan layanan kehidupan sehari-hari.
"AI secara bertahap bertransformasi dari sekadar teknologi dan produk yang relatif berdiri sendiri menjadi inti kemampuan serta infrastruktur baru yang mendukung berbagai aspek kehidupan. Dalam mengukur efektivitas pengembangan AI, kita tidak boleh hanya melihat laju perkembangan teknologi AI itu sendiri, tetapi juga bagaimana AI memberdayakan dan mendorong industri lain. Agar AI benar-benar dapat memberdayakan setiap sektor, penerapannya tidak boleh hanya sebatas wacana. Sebaliknya, teknologi ini harus terus berkembang menuju interaksi multimodal, penerapan langsung pada perangkat (on-device deployment), agen cerdas, dan embodied intelligence, serta mencapai penerapan berskala besar dalam skenario bisnis nyata," jelas Chao Lemen, Wakil Direktur Pusat Penelitian Analisis Informasi Cerdas di Universitas Renmin Tiongkok, Beijing.
Laporan tersebut dipublikasikan dalam acara Konferensi Sumber Daya Infrastruktur Internet Tiongkok 2026 di Beijing.