JAKARTA, Radio Bharata Online - Negara-negara Arab, sedang mengupayakan inisiatif untuk menjamin gencatan senjata, dan pembebasan sandera di Gaza, sebagai bagian dari rencana yang lebih luas, yang dapat menawarkan normalisasi hubungan kepada Israel, dan pembentukan negara Palestina yang diakui seluruh dunia.
Dilansir Financial Times, Kamis (18/1), seorang pejabat senior Arab mengatakan, bahwa mereka berharap untuk mempresentasikan rencana tersebut. Para pejabat Arab telah mendiskusikan rencana tersebut dengan pemerintah Amerika Serikat dan Eropa. Hal ini mencakup negara-negara Barat yang setuju untuk secara resmi mengakui negara Palestina, atau mendukung Palestina untuk diberikan keanggotaan penuh di PBB.
Inisiatif ini muncul, ketika Israel menghadapi tekanan internasional yang makin besar untuk mengakhiri serangannya di Gaza, seiring dengan peningkatan upaya diplomatik AS untuk mencegah konflik yang lebih luas, dan mendorong resolusi jangka panjang terhadap konflik Israel-Palestina yang berkepanjangan.
Menteri Luar Negeri AS Antony Blinken pada hari Rabu, menggambarkan perang di Gaza sebagai hal yang menyedihkan, dan menambahkan bahwa yang dibutuhkan adalah negara Palestina, yang memberikan apa yang diinginkan rakyatnya, dan bekerja sama dengan Israel agar menjadi efektif.
Ketika Menteri Luar Negeri Saudi, Pangeran Faisal bin Farhan ditanya apakah Riyadh akan mengakui Israel sebagai bagian dari perjanjian politik yang lebih luas, dia menjawab "pasti."
Pada panel di Forum Ekonomi Dunia di Davos, Pangeran Faisal menyisyaratkan setuju, bahwa perdamaian regional juga mencakup perdamaian bagi Israel. Namun menurutnya, hal itu hanya dapat terjadi melalui perdamaian bagi Palestina, dan melalui negara Palestina.
Pada Selasa, penasihat keamanan nasional AS Jake Sullivan mengatakan, Washington tetap fokus untuk mencapai kesepakatan normalisasi hubungan Arab Saudi dengan Israel, sebagai bagian dari rencananya untuk era pascaperang. Namun, ada banyak tantangan untuk mencapai kesepakatan dengan Israel.
Sementara Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, mengesampingkan kerja sama dengan Otoritas Palestina yang didukung Barat, dan tetap menolak solusi dua negara.
Pada Desember lalu, Netanyahu mengaku bangga, bahwa dia telah mencegah pembentukan negara Palestina, dan mengatakan semua orang memahami apa yang akan terjadi, jika Israel menyerah pada tekanan internasional. (CNBC)