Amerika Serikat, Bharata Online - Menurut seorang pengusaha AS, hubungan ekonomi dan perdagangan yang stabil antara Tiongkok dan AS akan memberikan kepastian dan prediktabilitas yang lebih besar bagi usaha kecil yang rentan dan terlibat dalam perdagangan internasional.

Putaran terbaru perundingan perdagangan Tiongkok-AS telah memberikan angin segar bagi dunia usaha di kedua belah pihak. Kedua negara telah menyepakati penurunan tarif timbal balik yang mencakup barang senilai sekitar 30 miliar dolar AS (sekitar 541 triliun rupiah) dari masing-masing pihak, termasuk produk-produk seperti kursi mobil anak dan mainan.

Dalam wawancara dengan China Global Television Network (CGTN), Beth Benike, pendiri perusahaan produk bayi asal AS, Busy Baby, menyerukan adanya aturan tarif yang lebih jelas melalui dialog. Ia menekankan bahwa bagi usaha kecil Amerika yang mengandalkan Tiongkok untuk kegiatan manufaktur, pemotongan tarif dapat meringankan biaya pengadaan barang.

"Itu kabar yang sangat baik. Maksud saya, hal itu sangat membantu karena biaya yang harus saya tanggung jadi jauh lebih besar. Saya tidak dikenakan tarif sebelum Presiden Trump menjabat, jadi ini adalah biaya baru yang sebelumnya tidak diperhitungkan dalam model bisnis saya. Selama ini saya berusaha mencari cara untuk menanggung biaya-biaya tersebut. Saya telah bekerja sama dengan pabrik saya di Tiongkok untuk mencari efisiensi dalam hal kemasan maupun produk itu sendiri. Jadi, mengetahui bahwa tarif mungkin akan sedikit turun akan sangat membantu kelangsungan bisnis saya ke depannya," ujarnya.

Pengusaha tersebut mengatakan bahwa ia memandang prediktabilitas perdagangan sebagai pendorong investasi dan inovasi, serta berharap kesepakatan baru ini akan memberinya keyakinan lebih dalam merencanakan masa depan perusahaannya.

"Hal yang selama ini kita butuhkan adalah kepastian dan stabilitas. Tanpa itu, pengambilan keputusan menjadi sangat sulit. Saya berharap para pemimpin kita menyadari bahwa stabilitas akan membawa manfaat bagi kita semua di kedua belahan dunia; dengan stabilitas, kita bisa mengambil keputusan serta berinvestasi dalam pertumbuhan dan inovasi, alih-alih hanya berjuang untuk bertahan hidup seperti yang kita lakukan selama dua tahun terakhir. Saya berharap kita melangkah maju dengan semangat kerja sama yang lebih besar, mengingat kita hidup dalam ekonomi global. Kita semua di planet ini saling membutuhkan. Jadi, jika dua negara terbesar dan paling berpengaruh di dunia bekerja sama, bukan saling berkonflik, kita bisa mendorong pertumbuhan dan inovasi, meningkatkan efisiensi, serta memberikan manfaat lebih baik bagi konsumen dan keluarga di seluruh dunia," jelasnya.

Berdasarkan pengalaman sembilan tahun bekerja sama dengan mitra-mitranya di Tiongkok, Benike memahami betul pentingnya hubungan yang stabil. Ia pun mendesak para pembuat kebijakan untuk mempertimbangkan dampak ketidakstabilan terhadap bisnis seperti miliknya.

"Saya berharap mereka benar-benar memperhatikan sektor usaha kecil dan menengah. Usaha kecil di Amerika adalah pihak yang paling terdampak oleh situasi belakangan ini. Oleh karena itu, kita membutuhkan stabilitas, transparansi, dan perhatian terhadap usaha berskala kecil, karena kamilah yang melakukan inovasi dan melahirkan ide-ide baru. Kita masing-masing memiliki keunggulan yang berbeda dan saling membutuhkan untuk bisa sama-sama berkembang lebih kuat. Saya adalah pelaku usaha kecil. Saya telah bekerja sama dengan tim di Tiongkok selama sembilan tahun. Saya sangat menyayangi tim saya di Tiongkok, dan saya merasa mereka juga menyayangi saya, kami bisa bekerja sama dengan sangat baik. Jadi, ketika situasi di tingkat atas menimbulkan kekacauan, hal itu menyulitkan kita semua. Saya sangat berharap diskusi yang terus berlanjut ini, dan semoga kerja sama yang lebih erat, akan membawa perbaikan dan membuat hidup kita semua sedikit lebih mudah," tutur Benike.