NAIROBI, Radio Bharata Online - Berkat sumber daya yang melimpah dan pasar konsumennya yang berkembang pesat, Afrika bisa menjadi tujuan manufaktur terkemuka untuk industri intensif teknologi, dan mata rantai utama dalam rantai pasokan global. Demikian menurut sebuah laporan terbaru.
Konferensi PBB tentang Perdagangan dan Pembangunan (UNCTAD), meluncurkan Laporan Pembangunan Ekonomi Afrika 2023 pada hari Rabu di Nairobi, ibu kota Kenya.
Laporan itu mengatakan, Afrika memiliki 48 persen cadangan kobalt global, dan 47,6 persen cadangan mangan global. Kobalt dan Mangan merupakan mineral logam yang penting untuk memproduksi baterai dan kendaraan listrik.
Selain itu, Afrika juga menghasilkan kromium, litium, grafit alami, nikel, logam tanah jarang, perak, telurium, dan titanium, yang penting untuk transisi rendah karbon.
Benua ini juga menawarkan keuntungan seperti akses input primer yang lebih singkat dan sederhana; angkatan kerja yang lebih muda, sadar teknologi dan mudah beradaptasi; dan kelas menengah yang sedang berkembang, yang dikenal karena meningkatnya permintaan akan barang dan jasa yang lebih canggih.
Pada acara peluncuran, Sekretaris Jenderal UNCTAD Rebeca Grynspan mengatakan, geopolitik dan dinamika perdagangan, termasuk Kawasan Perdagangan Bebas Benua Afrika, energi terbarukan, dan demografi mendorong peluang besar bagi Afrika.
Menurut Rebeca, secara geopolitik, negara dan bisnis mencari diversifikasi, karena ketergantungan hanya pada satu pemasok, sama berisikonya dengan komoditas yang bergantung pada satu bahan baku.
Rebeca Grynspan mendesak negara-negara Afrika untuk menciptakan lingkungan yang kondusif bagi industri padat teknologi, yang akan menaikkan tingkat upah di benua itu, yang berada di kisaran USD220 per bulan. Sedangkan upah rata-rata di Amerika sudah lebih dari USD668 per bulan. (China Daily)