BEIJING, Radio Bharata Online - Para pemimpin AS, Jepang dan Korea Selatan bertemu di Camp David, Maryland pada hari Jumat (18/08) untuk meningkatkan kerja sama, sebuah langkah yang dikritik oleh para pengamat sebagai tembakan awal untuk perang dingin.
Para ahli memperingatkan bahwa KTT ini akan membawa lebih banyak risiko regional.
Kantor Berita Yonhap pada hari Kamis melaporkan, bahwa pertemuan puncak di Camp David dijadwalkan untuk mengadopsi dua dokumen, yang secara tentatif berjudul "Prinsip-Prinsip Camp David" dan "Spirit of Camp David".
Yang pertama akan berisi pedoman untuk kerja sama trilateral, dan dokumen lainnya akan menguraikan visi mereka untuk kerja sama, rencana, dan implementasinya.
Juru bicara Kementerian Luar Negeri Tiongkok Wang Wenbin pada hari Jumat, mengomentari KTT AS, Korea Selatan dan Jepang di Camp David, mengatakan, bahwa kawasan Asia-Pasifik adalah tataran tinggi perdamaian dan pembangunan, dan tanah kerja sama yang tidak boleh menjadi arena permainan geopolitik.
Wang mendesak semua pihak untuk menegakkan multilateralisme sejati di tengah situasi keamanan internasional yang kompleks.
Wang mengatakan, upaya untuk membentuk kelompok kecil eksklusif dan membawa konfrontasi kamp dan blok militer ke kawasan Asia-Pasifik, adalah tidak populer, dan akan memicu kehati-hatian dan penentangan dari negara-negara di kawasan itu. Keamanan satu negara, tidak boleh mengorbankan keamanan negara lain, atau mengorbankan perdamaian dan stabilitas regional.
Sebelumnya, Presiden AS Joe Biden mengundang para pemimpin Jepang dan Korea Selatan untuk menghadiri KTT Camp David pada hari Jumat di Maryland. Namun, suasana perang dingin sudah merebak bahkan sebelum KTT dimulai.
Lü Chao, seorang pakar masalah Semenanjung Korea dari Liaoning Academy of Social Sciences, kepada Global Times pada hari Jumat mengatakan, KTT Camp David mungkin merupakan titik awal untuk perang dingin baru. (Global Times)