Beijing, Bharata Online - Menurut Presiden dan Chief Executive Officer World Economic Forum (WEF), Alois Zwinggi, Tiongkok akan memainkan peran sentral dalam membantu bisnis global membangun ketahanan organisasi menghadapi gangguan rantai pasok dan volatilitas ekonomi.

Dalam wawancara dengan China Global Television Network (CGTN), Zwinggi menekankan pentingnya peran Tiongkok dalam menghadapi tantangan global sekaligus menyatakan harapannya untuk memperdalam kerja sama bilateral di sektor-sektor yang sedang berkembang.

Menanggapi konsep "China Opportunity 2.0", istilah yang diperkenalkan oleh Perdana Menteri Li Qiang pada Pertemuan Tahunan New Champions ke-17 (yang juga dikenal sebagai Summer Davos) di Dalian, Zwinggi mencatat bahwa kerangka kerja tersebut menandakan terbukanya peluang yang semakin luas bagi perusahaan internasional.

"Menurut saya, memang ada peluang yang semakin besar bagi bisnis global untuk menjalin kerja sama dengan Tiongkok. Terkait tantangan rantai pasok yang berdampak pada perekonomian global, saya rasa Tiongkok juga akan memainkan peran penting. Bagi seorang pemimpin bisnis saat ini, memiliki 'Rencana B' yang sekadar tersimpan saja tidaklah cukup. Sesuatu pasti bisa terjadi kapan saja. Oleh karena itu, para pemimpin bisnis kini lebih berfokus membangun ketahanan dalam organisasi mereka. Dan jika Anda menjalankan perusahaan berskala global, tidak ada pilihan lain selain menyertakan Tiongkok dalam rancangan ketahanan organisasi tersebut. Jadi, dalam konteks ini, menurut saya Tiongkok akan memainkan peran penting di masa depan," ujarnya.

Tahun 2026 menandai peringatan 20 tahun berdirinya kantor WEF di Beijing. Menilik kembali hampir lima dekade kerja sama antara WEF dan Tiongkok, Zwinggi menyoroti Summer Davos, sebuah acara yang diselenggarakan oleh Forum tersebut di Tiongkok setiap tahunnya secara bergantian antara Tianjin dan Dalian.

Sejak tahun 2007, acara itu telah menjadi platform unggulan Forum tersebut bagi kewirausahaan, inovasi, dan perusahaan-perusahaan yang tumbuh pesat (growth companies) generasi mendatang. Acara ini mempertemukan para pemimpin global, inovator, dan penggerak perubahan untuk membahas tantangan ekonomi yang mendesak, sekaligus menjajaki bagaimana inovasi dan teknologi baru dapat membuka model pertumbuhan baru serta mendorong momentum ekonomi yang positif. Zwinggi juga menyatakan harapannya untuk mempererat kerja sama antara WEF dan Tiongkok, khususnya di sektor-sektor yang sedang berkembang seperti energi hijau dan kecerdasan buatan (AI).

"Seperti yang saya sampaikan sebelumnya, saya rasa kita bisa membangun kerja sama ini di atas fondasi yang kuat. Kita telah bekerja sama sejak tahun 1979, kurun waktu yang cukup lama. Kami telah hadir secara fisik di sini sejak 2006 dan menyelenggarakan Summer Davos sejak 2007. Menurut saya, hal-hal tersebut telah membangun tingkat kepercayaan antara World Economic Forum dan Tiongkok untuk melanjutkan kerja sama ini. Kami sangat berharap dapat memperdalam hubungan tersebut, terutama terkait teknologi baru, khususnya teknologi yang berperan dalam menjaga kelestarian planet kita. Dalam hal ini, teknologi hijau dan energi hijau merupakan faktor penting, begitu pula dengan kecerdasan buatan. Jadi, menurut saya Summer Davos adalah ajang masa depan. Acara ini akan lebih menjadi wadah bagi jaringan yang lebih luas, dengan orang-orang berkumpul di Tiongkok untuk memikirkan solusi atas tantangan-tantangan global. Acaranya akan jauh melampaui sekadar kunjungan ke Tiongkok untuk melihat situasi di sini. Oleh karena itu, saya berharap dapat terbangun jaringan yang kuat untuk mendukung kerja sama kita di masa mendatang," jelasnya.