JAKARTA, Radio Bharata Online - Presiden Ekuador, Daniel Noboa mengatakan negaranya sedang "berperang" dengan geng narkoba, yang menyandera lebih dari 130 sipir penjara dan staf lainnya.
Insiden ini terjadi di tengah peningkatan kekerasan yang dramatis, di mana orang-orang bersenjata sempat mengambil alih siaran langsung TV Nasional TC, dan terjadi ledakan di beberapa kota.
Kepada stasiun radio lokal pada Rabu seperti dikutip Reuters, Noboa mengatakan, ada sekitar 20.000 anggota geng kriminal aktif di Ekuador. Sehari sebelumnya, Noboa menyebut 22 geng sebagai organisasi teroris, dan menjadikan mereka target resmi militer. Presiden yang menjabat sejak November 2023 ini berjanji untuk mengatasi masalah keamanan yang semakin meningkat, akibat peningkatan geng pengangkut kokain yang melalui Ekuador.
Penyanderaan, yang dimulai pada Senin dini hari, dan kaburnya pemimpin geng Los Choneros Adolfo Macias dari penjara pada akhir pekan, mendorong Noboa untuk mengumumkan keadaan darurat selama 60 hari.
Dia memperketat keputusan tersebut pada hari Selasa, pasca serangkaian ledakan di seluruh negeri, dan pembajakan stasiun televisi TC yang sedang melakukan siaran langsung oleh orang-orang bersenjata.
Pemerintah mengatakan, gelombang kekerasan terbaru ini merupakan reaksi terhadap rencana Noboa, untuk membangun penjara baru dengan keamanan tinggi bagi para pemimpin geng.
Badan penjara setempat mengatakan, ada 125 penjaga yang disandera, sementara 14 lainnya adalah staf administrasi. Sebanyak 11 orang diantaranya telah dibebaskan pada hari Selasa.
Video yang beredar di media sosial menunjukkan staf penjara menjadi sasaran kekerasan ekstrem, termasuk ditembak dan digantung. Namun video-video tersebut belum dapat diverifikasi keasliannya.
Noboa juga mengatakan bahwa dalam pekan ini, negaranya akan mulai mendeportasi tahanan asing terutama warga Kolombia, untuk mengurangi populasi dan biaya pengeluaran penjara. Ia menyebut ada sekitar 1.500 warga Kolombia yang dipenjara di Ekuador. (Forbes)