New York, Bharata Online - Pada peringatan 55 tahun pemulihan kursi sah Republik Rakyat Tiongkok (RRT) di Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), Tiongkok menekankan dorongannya untuk dialog peradaban global. PBB telah mengadopsi resolusi yang diusulkan oleh Tiongkok untuk menetapkan tanggal 10 Juni sebagai Hari Internasional untuk Dialog antarperadaban.

Pada tanggal 25 Oktober 1971, Sidang Majelis Umum PBB ke-26 mengadopsi Resolusi 2758, yang memulihkan seluruh hak sah RRT di PBB.

Saat ini, PBB memiliki 193 negara anggota, yang masing-masing memiliki bahasa, budaya, dan sejarahnya sendiri. Stephane Dujarric, Juru Bicara Sekretaris Jenderal PBB yang telah mengabdi di PBB selama lebih dari 25 tahun, mengatakan bahwa pemahaman di tengah perbedaan tersebut dimulai dengan memberikan ruang bagi setiap suara untuk didengar.

"Saya telah berada di PBB selama lebih dari 25 tahun dan saya belajar banyak hal. Hal yang membantu saya memahami berbagai orang dan budaya yang berbeda adalah dengan mendengarkan. Butuh waktu lama bagi saya untuk menyadari bahwa mendengarkan adalah hal yang paling penting. Saya belajar untuk mendengarkan dan memastikan bahwa mereka yang mungkin tidak bersuara diberikan ruang untuk berbicara," ujar Dujarric.

Untuk memperdalam pemahaman antarnegara dengan sejarah dan budaya yang berbeda, Tiongkok mengusulkan Inisiatif Peradaban Global pada tahun 2023. Setahun kemudian, Tiongkok mengajukan usulan di PBB untuk menetapkan hari internasional bagi dialog antarperadaban.

Pada bulan Juni 2024, Sidang Majelis Umum PBB ke-78 mengadopsi resolusi usulan Tiongkok tersebut melalui konsensus, dengan menetapkan tanggal 10 Juni sebagai Hari Internasional untuk Dialog antarperadaban.

Fu Cong, Wakil Tetap Tiongkok untuk PBB, mengenang kembali suasana di dalam ruang sidang Majelis Umum saat resolusi tersebut disahkan.

"Yang sangat membekas dalam ingatan saya adalah momen di ruang Majelis Umum saat ketua sidang mengetukkan palu dan mengumumkan bahwa resolusi tersebut telah diadopsi melalui konsensus, yang disambut dengan tepuk tangan hangat oleh seluruh negara anggota. Ini merupakan praktik sukses dari penerapan Inisiatif Peradaban Global oleh Tiongkok, sekaligus menunjukkan dengan jelas bahwa gagasan-gagasan Tiongkok semakin berkembang menjadi konsensus internasional, yang mencerminkan kepemimpinan yang kuat serta vitalitas yang nyata," ujarnya.

Sejak saat itu, resolusi tersebut telah diwujudkan dari sekadar dokumen tertulis menjadi tindakan nyata, dengan diselenggarakannya acara peringatan pertama untuk Hari Internasional Dialog antarperadaban di Markas Besar PBB pada tahun 2025.

Pada tanggal 10 Juni tahun ini, Tiongkok bersama sejumlah perutusan tetap negara lain dan berbagai mitra, termasuk Aliansi Peradaban PBB (UN Alliance of Civilizations) serta Organisasi Pendidikan, Keilmuan, dan Kebudayaan PBB (UNESCO), menjadi tuan rumah bagi acara tingkat tinggi lainnya yang dihadiri oleh hampir 300 perwakilan.

"Tiongkok bekerja sama dengan semua pihak untuk secara aktif mengimplementasikan semangat resolusi Majelis Umum PBB tersebut, serta berupaya membangun wadah bagi dialog yang setara di antara berbagai peradaban. Serangkaian acara peringatan yang beragam, baik di Markas Besar PBB maupun di berbagai belahan dunia, ibarat aliran air kecil yang menyatu menjadi sungai pemahaman dan rasa saling percaya," kata Fu.