JAKARTA, Radio Bharata Online - Jambore Pramuka Dunia Korea Selatan menuai banyak kecaman. Kegiatan yang diadakan ditengah cuaca ekstrem dengan suhu panas memanggang ini, dilaporkan banyak menelan korban hingga jatuh sakit.
Lebih dari 100 orang dirawat karena penyakit yang berhubungan dengan panas,
Melansir Independent.co.uk, suhu ekstrem itu sebelumnya telah mendorong tiga kontingen nasional mengundurkan diri. Meski begitu, penyelenggara Jambore Pramuka Dunia di Korea Selatan, memutuskan untuk tetap melanjutkan acara tersebut.
Sehari sebelumnya, pelaksanaan Jambore Pramuka Dunia di Korea Selatan mendapat tekanan, agar kegiatan pada hari Sabtu dibatalkan. Hal ini bermula dari kelompok pramuka dari Amerika Serikat dan Inggris memutuskan untuk pulang seminggu lebih cepat dari jadwal, karena panas yang parah dan kondisi cuaca buruk.
Suhu telah naik hingga 34 derajat Celcius di Saemangeum, yang terletak di dekat kota Buan, di garis pantai barat Korea Selatan. Di sinilah 39.000 peserta, terutama pramuka berusia 14 hingga 18 tahun, telah berkemah sejak hari Jumat.
Untuk diketahui, lebih dari 43.000 pramuka muda dari 158 negara, berpartisipasi dalam Jambore Pramuka Dunia, yang diadakan di areal tanah hasil reklamasi laut di barat daya kota Buan.
Dari Indonesia, sebanyak 1.569 anak dari berbagai wilayah, turut hadir dalam acara Jambore Pramuka Dunia ke-23 di Korea Selatan, yang berlangsung dari tanggal 1 sampai 12 Agustus 2023.
Kondisi Cuaca ekstrim di lokasi Jambore, membuat para orangtua peserta kontingen khawatir, dan meminta pemerintah turun tangan dan berbuat sesuatu demi keselamatan para peserta.
Pada hari Kamis jumlah orang yang jatuh sakit karena suhu ekstrim telah meningkat menjadi setidaknya 400 orang. (CNBC)