Bharata Online - Ada sebuah pemandangan yang beberapa tahun lalu mungkin sulit dibayangkan. Pemandangan itu menampilkan Presiden Tiongkok Xi Jinping berdiri di halaman Gedung Putih, disambut langsung oleh Presiden Amerika Serikat Donald Trump dengan upacara kenegaraan yang megah, lengkap dengan pasukan kehormatan, musik militer, dan penghormatan diplomatik.
Presiden Xi bahkan mengatakan bahwa kunjungan ini adalah kunjungan kenegaraannya ke Washington untuk pertama kalinya dalam 11 tahun. Tetapi yang membuat pertemuan ini jauh lebih menarik bukan sekadar kemegahan penyambutan tersebut. Karena di balik senyum, jamuan makan malam, dan pembicaraan yang terlihat hangat, ada persoalan yang ternyata jauh lebih besar.
Apa itu? Yakni perdagangan, kecerdasan buatan, Taiwan, Iran, keamanan global, hingga pertanyaan tentang bagaimana dua kekuatan besar dunia akan hidup berdampingan pada abad ke-21. Lantas, apa sebenarnya yang berubah dalam hubungan Amerika Serikat dan Tiongkok setelah Presiden Xi meninggalkan Washington?
Presiden Xi melakukan kunjungan kenegaraan ke Amerika Serikat pada 23 hingga 25 September 2026. Kunjungan ini menjadi penting karena terjadi dalam situasi ketika hubungan Washington dan Beijing masih dipenuhi persaingan, tetapi pada saat yang sama kedua negara juga sedang berusaha mencegah persaingan tersebut berubah menjadi konflik yang lebih besar.
Dalam pertemuan di Gedung Putih pada 24 September, Presiden Xi dan Presiden Trump membicarakan hubungan bilateral serta sejumlah persoalan internasional dan regional. Dari sisi Beijing, Presiden Xi menekankan perlunya membangun hubungan strategis yang stabil berdasarkan rasa hormat, keadilan dan prinsip timbal balik.
Sementara Presiden Trump juga menggambarkan pertemuan tersebut secara positif dan mengatakan kedua negara perlu terus berdialog, termasuk mengenai perdagangan dan kecerdasan buatan. Menariknya, Presiden Xi sendiri menggunakan sebuah istilah yang sangat penting, yakni “Thucydides Trap”. Istilah ini merujuk pada risiko konflik ketika sebuah kekuatan yang sedang naik berhadapan dengan kekuatan yang sudah dominan.
Dalam konteks hubungan Amerika Serikat dan Tiongkok, pertanyaannya tentu sangat besar. Apakah kebangkitan Tiongkok pada akhirnya akan menghasilkan benturan dengan Amerika Serikat, atau kedua negara justru bisa menemukan cara baru untuk bersaing tanpa berperang?
Dan justru di sinilah kita bisa memahami mengapa kunjungan Presiden Xi ke Washington kali ini jauh lebih penting daripada sekadar sebuah pertemuan kepala negara. Dan salah satu hasil paling konkret adalah persoalan perdagangan.
Selama bertahun-tahun, perang dagang Amerika Serikat–Tiongkok telah menjadi salah satu sumber ketidakpastian terbesar bagi perekonomian dunia. Tarif, pembatasan ekspor, teknologi, rantai pasok, dan mineral strategis menjadi bagian dari persaingan ekonomi kedua negara.
Namun dalam kunjungan kali ini, kedua pihak mencapai sejumlah kesepahaman ekonomi. Pemerintah Tiongkok menyebut adanya pengaturan pengurangan tarif timbal balik senilai sekitar 30 miliar dolar Amerika atau hampir 540 triliun rupiah, pembentukan dan pengembangan mekanisme Dewan Perdagangan, serta kelanjutan hasil konsultasi perdagangan sebelumnya.
Ini tentu bukan berarti seluruh persoalan perdagangan Amerika Serikat dan Tiongkok sudah selesai. Bahkan Reuters Breakingviews menilai perpanjangan gencatan perdagangan yang disepakati masih memberikan waktu tambahan bagi kedua pihak untuk bernegosiasi, sementara banyak persoalan struktural tetap belum terselesaikan.
Jadi, lebih tepat jika kita melihatnya sebagai sebuah upaya untuk membuat persaingan ekonomi menjadi lebih terkendali. Dan kalau perdagangan saja sudah menarik, ada satu bidang lain yang bahkan mungkin jauh lebih menentukan masa depan dunia, yakni kecerdasan buatan.
Amerika Serikat dan Tiongkok sekarang bukan hanya bersaing dalam perdagangan barang. Keduanya juga berlomba dalam kecerdasan buatan, semikonduktor, komputasi, teknologi canggih dan berbagai sektor yang akan menentukan ekonomi masa depan. Karena itu, salah satu hasil penting pertemuan Presiden Xi dan Presiden Trump adalah kesepakatan untuk membangun dialog Amerika Serikat–Tiongkok mengenai kecerdasan buatan.
Kedua negara akan membicarakan risiko dan manfaat kecerdasan buatan, bahkan sepakat membangun saluran komunikasi untuk menangani insiden yang berkaitan dengan kecerdasan buatan, yang pertemuan tersebut direncanakan akan berlangsung pada November 2026.
Bayangkan betapa pentingnya hal ini. Dulu, pada masa Perang Dingin, Amerika Serikat dan Uni Soviet membutuhkan saluran komunikasi agar sebuah kesalahpahaman tidak berubah menjadi perang nuklir. Sekarang dunia menghadapi situasi yang berbeda. Senjata nuklir masih ada, tetapi teknologi kecerdasan buatan mulai memasuki sistem militer, ekonomi, informasi dan kehidupan sehari-hari.
Maka ketika dua negara dengan kemampuan kecerdasan buatan terbesar dunia mulai membangun mekanisme komunikasi mengenai kecerdasan buatan, itu artinya bahwa ini bukan sekadar kerja sama teknologi melainkan mekanisme untuk mengurangi risiko ketika persaingan teknologi semakin tajam.
Presiden Xi sendiri menyampaikan bahwa Amerika Serikat dan Tiongkok memang memiliki persaingan dalam kecerdasan buatan, tetapi menurutnya keduanya juga dapat bekerja sama, termasuk untuk mencegah penyalahgunaan teknologi tersebut.
Namun tentu saja, tidak semua persoalan bisa diselesaikan dengan dialog. Ada satu isu yang selalu berada di tengah hubungan Amerika Serikat dan Tiongkok, yaitu Taiwan. Dalam pertemuannya dengan Presiden Trump, Presiden Xi kembali menegaskan posisi Beijing mengenai reunifikasi dan integritas wilayah Tiongkok serta meminta Amerika Serikat menangani persoalan Taiwan secara hati-hati.
Pemerintah Taiwan kemudian menanggapi pernyataan tersebut dan menolak apa yang mereka anggap sebagai penyampaian posisi Beijing yang tidak sesuai dengan pandangan Taiwan. Inilah salah satu alasan mengapa hubungan Amerika Serikat dan Tiongkok tidak bisa hanya dibaca melalui angka perdagangan.
Karena di satu sisi mereka bisa sepakat menurunkan tarif. Mereka bisa membangun dialog kecerdasan buatan. Mereka bahkan bisa berbicara mengenai stabilitas strategis. Tetapi pada saat yang sama, Taiwan tetap menjadi persoalan yang sangat sensitif. Dan karena itu, ada bagian lain yang tidak kalah penting, yaitu keamanan.
Di luar delapan hasil dan kesepahaman utama yang diumumkan setelah kunjungan Presiden Xi, militer Amerika Serikat dan Tiongkok juga sepakat untuk segera memperkuat komunikasi krisis dan pencegahan konflik melalui sebuah memorandum, sekaligus melanjutkan kerja sama dalam pencarian jasad personel militer Amerika Serikat yang hilang di Tiongkok.
Ini mungkin terdengar sederhana. Tetapi justru komunikasi seperti inilah yang sangat penting ketika dua kekuatan militer besar beroperasi di kawasan yang sama. Karena perang tidak selalu dimulai dari keputusan bahwa seseorang ingin berperang. Kadang perang bisa dimulai dari salah perhitungan, salah komunikasi, atau sebuah insiden yang tidak segera dikendalikan.
Dan karena itulah, ketika Washington dan Beijing membangun saluran komunikasi untuk mencegah krisis, kita sedang melihat sisi lain dari persaingan kedua negara. Mereka memang bersaing, tetapi mereka juga sadar bahwa persaingan tersebut harus memiliki batas.
Hal yang sama terlihat dalam pembicaraan mengenai isu-isu internasional lainnya. Presiden Xi dan Presiden Trump membicarakan situasi Timur Tengah, krisis Ukraina, Semenanjung Korea, dan persoalan lainnya yang sedang hangat diperbincangkan.
Dalam hasil kesepahaman mereka, Amerika Serikat dan Tiongkok juga menyatakan pandangan bersama bahwa Iran harus memenuhi komitmennya untuk tidak mengembangkan senjata nuklir dan bahwa jalur air internasional tidak boleh dikenai pungutan oleh negara atau lembaga tertentu.
Artinya, pertemuan Presiden Xi dan Presiden Trump sebenarnya tidak hanya berbicara tentang hubungan bilateral. Ada pembicaraan mengenai bagaimana dua kekuatan besar ini akan berinteraksi dalam persoalan dunia yang jauh lebih luas.
Dan kemudian ada satu simbol yang mungkin terlihat kecil, tetapi menarik dalam diplomasi. Apa itu? Diketahui bahwasanya dua panda akan segera datang ke Zoo Atlanta. Tiongkok juga menyatakan akan mengundang 100.000 anak muda Amerika Serikat untuk berkunjung dan melakukan pertukaran di Tiongkok dalam lima tahun mendatang.
Mengapa hal seperti ini penting? Karena hubungan internasional bukan hanya mengenai tarif, kapal perang dan teknologi. Ada juga hubungan antarmanusia seperti mahasiswa, wisatawan, ilmuwan, pengusaha dan generasi muda yang bisa menjadi jembatan ketika hubungan antarnegara sedang tegang. Dan mungkin justru inilah pesan yang paling menarik dari kunjungan Presiden Xi ke Washington.
Mungkin pertemuan tersebut tidak menghasilkan akhir dari persaingan Amerika Serikat dan Tiongkok. Tetapi juga tidak menunjukkan bahwa kedua negara ingin membiarkan persaingan itu berkembang tanpa kendali.
Sebaliknya, yang terlihat adalah upaya untuk menciptakan semacam stabilitas baru. Amerika Serikat tetap mengejar kepentingannya dan Tiongkok tetap mempertahankan kepentingannya. Kedua negara tetap akan menjaga kepentingan nasional masing-masing.
Persaingan teknologi tetap ada, perbedaan mengenai Taiwan tetap ada, dan persoalan perdagangan juga belum selesai. Tetapi pada saat yang sama, kedua pihak memperluas saluran komunikasi dan mencari ruang kerja sama di bidang-bidang tertentu.
Inilah yang membuat kunjungan Presiden Xi ke Amerika Serikat menjadi sangat penting. Karena mungkin pertanyaan yang sebenarnya bukan lagi siapa yang menang dan siapa yang kalah dalam persaingan Amerika Serikat dan Tiongkok.
Pertanyaan yang lebih besar adalah, apakah dua kekuatan besar dunia dapat bersaing tanpa menghancurkan stabilitas dunia yang menjadi tempat mereka sendiri berkembang?
Presiden Xi mengatakan bahwa kebangkitan Tiongkok dan upaya Amerika Serikat untuk kembali kuat dapat berjalan berdampingan. Dalam pidatonya di Washington, ia juga menekankan bahwa dua negara besar tersebut perlu menghindari konflik dan konfrontasi.
Dan jika melihat hasil pertemuan kali ini, memang belum ada alasan untuk mengatakan bahwa persaingan Amerika Serikat dan Tiongkok telah berakhir. Justru sebaliknya, persaingan itu kemungkinan masih akan berlangsung panjang, terutama dalam kecerdasan buatan, teknologi, perdagangan, keamanan dan pengaruh global.
Tetapi sekarang muncul satu pertanyaan yang jauh lebih menarik. Apakah Washington dan Beijing sedang menuju sebuah hubungan baru, ketika mereka tetap menjadi pesaing tetapi berusaha membangun batas agar persaingan tersebut tidak berubah menjadi konflik? Ataukah semua kesepakatan ini hanya merupakan jeda sementara sebelum kompetisi Amerika Serikat dan Tiongkok memasuki babak yang jauh lebih besar?
Dan yang tidak kalah penting, ketika dua kekuatan terbesar dunia sedang menyusun kembali hubungan mereka, di manakah posisi Indonesia dalam tatanan dunia yang sedang berubah ini? Indonesia dalam hal ini perlu menjadikan dinamika hubungan Amerika Serikat dan Tiongkok sebagai peluang untuk memperkuat kepentingan nasional.
Dengan menjaga politik luar negeri yang bebas aktif, memperluas kerja sama ekonomi dan teknologi dengan berbagai negara, meningkatkan kualitas sumber daya manusia, serta memperkuat industri dalam negeri, Indonesia dapat mengambil manfaat dari perubahan tatanan global tanpa harus terjebak dalam persaingan kedua kekuatan besar tersebut.
Sebab, di tengah dunia yang semakin kompetitif, kunci bagi Indonesia bukan memilih untuk berdiri di pihak Amerika Serikat atau Tiongkok, tapi memastikan bahwa setiap hubungan internasional mampu mendorong kemakmuran rakyat, memperkuat kemandirian bangsa, dan menempatkan Indonesia sebagai negara yang memiliki peran nyata dalam membentuk masa depan kawasan maupun dunia.