Xi'an, Bharata Online - Menurut seorang pakar asal Tiongkok, seiring dengan terus meningkatnya bentrokan antara Arab Saudi dan kelompok Houthi Yaman, Amerika Serikat kemungkinan akan melancarkan gelombang serangan udara baru terhadap Houthi. Langkah ini berpotensi memperparah ketegangan regional dan menjadikan Yaman sebagai titik api utama dalam konflik Timur Tengah.
Pertempuran antara Houthi dan koalisi pimpinan Saudi tidak menunjukkan tanda-tanda mereda pada hari Minggu (11/10), saat gelombang serangan baru menghantam sejumlah bandara utama di Arab Saudi. Houthi mengaku bertanggung jawab atas operasi rudal dan pesawat nirawak (drone) baru yang menyasar bandara serta fasilitas energi, sementara pihak koalisi bersumpah akan memberikan tanggapan tegas.
Otoritas Umum Penerbangan Sipil (General Authority of Civil Aviation/GACA) Arab Saudi melaporkan adanya korban akibat serangan baru di Bandara Internasional King Khalid di Riyadh pada hari Minggu (11/10), serangan keempat yang menghantam bandara tersebut dalam kurun waktu empat hari, menyusul dua serangan pada 8 Oktober 2026 dan satu serangan lainnya pada Sabtu (10/10) sore, serta mengambil langkah untuk menangguhkan operasional demi penilaian kerusakan dan pemeriksaan keselamatan.
GACA kemudian menyatakan bahwa Bandara Internasional King Fahd di dekat Dammam juga diserang pada Minggu (11/10) malam, dan pemeriksaan sedang dilakukan untuk mengetahui tingkat kerusakannya.
Dalam wawancara dengan China Media Group (CMG), Wang Jin, seorang Profesor di Institut Studi Timur Tengah Universitas Northwest, mengatakan bahwa AS sangat mungkin melancarkan gelombang serangan udara baru terhadap Houthi. Namun, ia memperkirakan operasi semacam itu akan berskala terbatas dan sulit dipertahankan dalam jangka panjang, terutama karena didorong oleh kebutuhan untuk menjaga hubungan militer AS-Saudi serta merespons jatuhnya korban jiwa di pihak Amerika akibat serangan bandara tersebut.
"AS telah mengancam akan melancarkan gelombang serangan baru terhadap Houthi, dan kemungkinan dilakukannya tindakan tersebut sangat tinggi. Selama dua hingga tiga hari terakhir, situasi di medan perang Yaman serta konflik antara Yaman dan Arab Saudi telah memasuki babak baru. Houthi melancarkan gelombang serangan baru terhadap bandara-bandara internasional Saudi, yang menyebabkan jatuhnya korban jiwa dalam jumlah yang cukup signifikan. Dalam situasi seperti ini, AS perlu mempertahankan hubungan militernya dengan Arab Saudi, sehingga, sampai batas tertentu, perlu menggunakan serangan militer untuk menunjukkan kepada Arab Saudi bahwa AS tetap menjadi sekutu regional yang dapat diandalkan," ujar Wang.
"Selain itu, terdapat warga negara Amerika di antara para korban serangan terhadap bandara-bandara di Arab Saudi, sehingga AS perlu melancarkan respons militer. Namun, respons semacam itu kemungkinan besar akan dilakukan melalui pasukan militer pimpinan AS di Timur Tengah dalam bentuk serangan udara terhadap target-target tertentu, alih-alih mengerahkan pasukan darat dalam jumlah besar ke Yaman. Terlebih lagi, serangan tersebut kemungkinan hanya akan berlangsung satu atau dua gelombang, setelah itu situasi akan mereda. Hal ini dikarenakan, mengingat kemampuan tempur dan pengerahan pasukan AS saat ini di Timur Tengah, mereka tidak dapat mendukung intervensi jangka panjang, langsung, dan berskala besar di medan perang Yaman," jelasnya.
Menatap masa depan, Wang memperkirakan serangan militer AS akan menjadi variabel baru yang penting bagi Yaman dan kawasan yang lebih luas, seiring berlanjutnya ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran serta masuknya situasi di medan perang Yaman ke fase baru.
"Faktanya, ketegangan di seluruh Timur Tengah terus menyebar mengikuti garis perpecahan akibat perang dan konflik, dengan intensitas pertempuran yang meningkat pesat. Risiko konfrontasi terus menumpuk dengan cepat, dan cakupan pertempuran pun terus meluas. Oleh karena itu, menurut saya, kemungkinan terjadinya eskalasi dan perluasan lebih lanjut sangatlah tinggi," kata Wang.
Menurutnya, perang di Yaman masih jauh dari kata usai, dan arah perkembangannya kelak dapat menentukan apakah negara tersebut akan menjadi titik api penentu dalam konflik Timur Tengah yang lebih luas.
"Meskipun Yaman masih terjebak dalam perang, beberapa perkembangan di negara tersebut bisa menjadi krusial di masa mendatang. Sebagai contoh, akankah Taiz direbut oleh kelompok Houthi dalam waktu dekat? Jika ya, akankah Houthi kemudian mengarahkan serangan militer mereka secara langsung ke Aden, tempat kedudukan pemerintahan sementara Yaman sekaligus pusat administrasinya? Jika perkembangan besar yang bertahap dan signifikan muncul dalam persaingan di medan perang, situasi secara keseluruhan bisa menjadi semakin rapuh, memicu babak baru persaingan dan perombakan posisi di antara berbagai negara Timur Tengah serta kekuatan luar yang berada di belakang mereka. Oleh karena itu, melihat ke depan, saya meyakini bahwa variabel kunci dalam situasi Timur Tengah yang lebih luas terletak pada Yaman, dan peluang terjadinya perubahan kemungkinan besar akan muncul dalam waktu dekat," papar Wang.