Santa Clara, Bharata Online - KTT Energi Hijau AS-Tiongkok ke-18 telah diselenggarakan di Universitas Stanford, California, pada hari Sabtu (10/10) lalu, mempertemukan para peserta dari kedua negara dan wilayah lain untuk menjajaki cara-cara memajukan transisi hijau global.

Dalam acara tersebut, para hadirin, termasuk peraih Nobel, pembuat kebijakan senior, ilmuwan terkemuka, eksekutif industri, investor, dan pemimpin internasional, mengupas berbagai teknologi, kebijakan, pasar, dan kemitraan yang membentuk masa depan transisi energi global, mulai dari kecerdasan buatan (AI) dan sistem kelistrikan generasi mendatang hingga teknologi energi bersih yang inovatif serta kerja sama energi global.

Meskipun kerja sama global terkait perubahan iklim sering kali dibayangi oleh sengketa perdagangan dan persaingan teknologi, para peserta menegaskan bahwa skala dan urgensi transisi energi tidak menyisakan ruang bagi pola pikir zero-sum (Ketika keuntungan satu pihak berarti kerugian bagi pihak lain).

"Kita harus keluar dari polarisasi politik karena saat ini pembangunan hijau telah menjadi semacam isu perang budaya—terutama di AS, tetapi juga di Eropa," ujar Erik Solheim, Mantan Wakil Sekretaris Jenderal PBB dan Direktur Eksekutif Program Lingkungan PBB (UNEP), dalam sebuah diskusi panel di sela-sela KTT tersebut.

Acara ini juga berlangsung di tengah meningkatnya kejadian cuaca ekstrem secara global, mulai dari gelombang panas yang memecahkan rekor di Asia dan Amerika Utara hingga banjir dahsyat di Eropa, yang menyoroti kerentanan bersama yang melampaui batas-batas negara.

Dalam konteks ini, KTT tersebut sangat menekankan pentingnya kolaborasi praktis, mulai dari optimalisasi jaringan listrik berbasis AI hingga penelitian bersama mengenai penangkapan karbon.

"Menurut saya, bisa terjalin kemitraan nyata yang memadukan inovasi dari Tiongkok dan Amerika Serikat," kata Mantan Menteri Energi AS, Steven Chu, dalam diskusi panel tersebut.

Ia menambahkan bahwa Amerika Serikat tidak perlu takut untuk belajar dari Tiongkok.

"Kemampuan Tiongkok dalam melakukan industrialisasi dulu merupakan keunggulan Amerika Serikat di kancah dunia. Kini, hal itu menjadi keunggulan Tiongkok. Namun, kita juga bisa belajar dari Tiongkok mengenai cara melakukannya. Terkait perubahan iklim, taruhannya sangat besar sehingga kita harus bekerja sama," ujarnya dalam wawancara dengan China Global Television Network (CGTN).

Selain itu, jejak energi yang terus meningkat akibat penggunaan AI itu sendiri telah menambah dimensi baru dalam perdebatan ini. Seiring dengan menjamurnya pusat data dan melonjaknya permintaan listrik, teknologi yang digadang-gadang sebagai solusi iklim justru berisiko menjadi bagian dari masalah, kecuali jika diatur oleh standar yang kuat dan kerja sama internasional, sebuah konsensus utama yang dicapai oleh para peserta.

Steve Westly adalah dosen di Stanford Graduate School of Business sekaligus pendiri The Westly Group, salah satu dana investasi terbesar di Amerika Utara yang berfokus pada energi cerdas, transportasi, dan bangunan. Ia termasuk di antara peserta yang menyoroti bahwa meningkatnya permintaan akan AI dan pusat data AI menimbulkan tantangan bagi sektor energi dan sumber daya alam.

"AI akan membantu kita mengatasi berbagai penyakit. Teknologi ini akan membawa banyak manfaat bagi masa depan yang dapat membuka berbagai peluang besar bagi umat manusia, namun juga akan membutuhkan energi yang sangat besar. Saya yakin kita bisa mengatasi masalah energi ini, dan kita sedang melakukannya saat ini. Namun, kita harus berhati-hati agar peningkatan industrialisasi tidak memperparah pemanasan global," ujar Westly kepada CGTN.

U.S.-China Green Energy Council, selaku penyelenggara pertemuan puncak tersebut, memanfaatkan tiga model AI terkemuka dari AS dan tiga model terkemuka dari Tiongkok untuk mengeksplorasi apa yang dapat dipelajari oleh dua ekonomi terbesar dunia ini satu sama lain dalam hal transisi energi.

Berdasarkan model-model AI tersebut, Amerika Serikat dapat memperoleh manfaat dengan belajar lebih banyak dari Tiongkok di bidang-bidang seperti jaringan transmisi tegangan ultra-tinggi dan manufaktur, sementara Tiongkok dapat memperoleh keuntungan melalui pemahaman yang lebih mendalam mengenai pasar dan sinyal harga.

Namun, para ahli menyatakan bahwa pertanyaan terpenting adalah pertanyaan terakhir: bagaimana kedua negara dapat memenuhi komitmen iklim nasional mereka pada tahun 2035, sehingga turut menjaga pemanasan global tetap di bawah ambang batas 1,5 derajat Celsius dan beradaptasi dengan perubahan iklim.

"Keenam model tersebut menunjukkan bagaimana tantangan dapat diatasi melalui sistem tenaga listrik berbasis energi terbarukan dengan persentase tinggi. Jika AS dan Tiongkok mampu menyelesaikan masalah ini, berarti kita telah menyelesaikan masalah bagi seluruh dunia," ujar Qi Wang, Ketua sekaligus CEO dewan tersebut, kepada CGTN.

Kesepakatan penting lainnya dalam pertemuan puncak tersebut adalah bahwa mempertemukan para pelajar dari Tiongkok, Amerika Serikat, dan berbagai belahan dunia lainnya untuk bekerja bahu-membahu mungkin merupakan strategi jangka panjang terbaik dalam menghadapi salah satu tantangan paling krusial yang dihadapi dunia saat ini.