Beijing, Bharata Online - Tiongkok telah melampaui target kepatuhan tahap pembekuan (freeze-phase) berdasarkan Amendemen Kigali terhadap Protokol Montreal, sehingga memberikan kontribusi signifikan terhadap tata kelola lingkungan global. Hal ini diumumkan pada hari Selasa (15/9) dalam sebuah konferensi peringatan 10 tahun diadopsinya amendemen tersebut serta Hari Internasional untuk Pelestarian Lapisan Ozon tahun 2026.
Sejak bergabung dengan Protokol Montreal, Tiongkok secara kumulatif telah menghentikan produksi dan penggunaan sekitar 720.000 ton bahan perusak lapisan ozon, yang mencakup lebih dari separuh total pengurangan yang dilakukan oleh seluruh negara berkembang.
Tiongkok menerima Amendemen Kigali terhadap Protokol Montreal pada tahun 2021. Amendemen ini bertujuan untuk mengurangi secara bertahap penggunaan hydrofluorocarbon (HFC), yaitu gas rumah kaca kuat yang banyak digunakan dalam sistem pendingin dan penyejuk udara. Sejak tahun 2024, negara itu telah mengendalikan produksi dan penggunaan HFC secara ketat.
Sejauh ini, total produksi HFC Tiongkok secara kumulatif telah berkurang lebih dari 1,185 miliar ton setara karbon dioksida dibandingkan dengan target kepatuhan nasional, sementara total jumlah yang digunakan secara kumulatif berkurang lebih dari 759 juta ton setara karbon dioksida dibandingkan dengan target kepatuhan nasional. Angka-angka itu melampaui target kepatuhan bertahap yang ditetapkan.
"Kami sebenarnya bisa saja menggunakan lebih banyak HFC, namun dengan mengadopsi refrigeran ber-GWP (Global Warming Potential atau Potensi Pemanasan Global) rendah, kami berhasil mengurangi produksi dan penggunaan HFC. Selisih antara target pengendalian dan penggunaan aktual kami mencapai hampir 1,2 miliar ton. (Sebagai contoh), jika sebuah pembangkit listrik tenaga air seperti Three Gorges mampu mengurangi emisi sebesar 100 juta ton setara karbon dioksida setiap tahunnya dibandingkan dengan pembangkit listrik tenaga batu bara, maka pengurangan yang kami capai dalam tiga tahun ini setara dengan pengurangan emisi pembangkit listrik tenaga air Three Gorges selama 12 tahun," ujar Hu Jianxin, Profesor di Fakultas Ilmu dan Teknik Lingkungan Universitas Peking.