Antalya, Bharata Online - Tiongkok berkeinginan untuk secara aktif terlibat dalam pertukaran dengan negara-negara lain serta menjajaki peluang kerja sama dalam program penerbangan antariksa berawaknya. Hal ini disampaikan oleh Yang Liwei, Wakil Kepala Perancang Program sekaligus astronaut pertama Tiongkok, saat pembukaan Kongres Astronautika Internasional (International Astronautical Congress/IAC) ke-77 pada hari Senin (5/10) di Turki.
IAC yang berlangsung selama lima hari yang merupakan pertemuan tahunan bidang antariksa terbesar di dunia itu diselenggarakan di kota resor Antalya di tepi Laut Mediterania. Acara ini mempertemukan para pemimpin sektor antariksa, peneliti, dan perwakilan industri dari seluruh dunia dengan mengusung tema "Dunia Membutuhkan Lebih Banyak Antariksa" (The World Needs More Space).
Agenda tahun ini mencakup berbagai topik, mulai dari eksplorasi Bulan dan sistem satelit hingga kecerdasan buatan, keamanan antariksa, dan kerja sama internasional, guna membahas prioritas-prioritas utama yang dihadapi industri tersebut.
Saat berbicara dalam forum mengenai program penerbangan antariksa berawak Tiongkok, Yang, yang menjadi astronaut Tiongkok pertama di luar angkasa dalam misi bersejarah Shenzhou-5 pada Oktober 2003, memaparkan perkembangan terkini stasiun luar angkasa Tiangong serta upaya penerbangan antariksa Tiongkok secara lebih luas, sembari menekankan pentingnya peningkatan kerja sama internasional.
"Stasiun luar angkasa Tiongkok akan berfungsi sebagai platform terbuka untuk penelitian sains antariksa, yang dapat dimanfaatkan oleh para ilmuwan di seluruh dunia demi kerja sama yang lebih mendalam dalam bidang penelitian, pelatihan astronaut, peluang penerbangan, pemasyarakatan sains, dan pendidikan," ujarnya.
Yang juga menyampaikan bahwa persiapan sedang berlangsung untuk misi yang akan menghadirkan astronaut asing pertama yang mengunjungi stasiun luar angkasa Tiangong. Saat ini, dua kandidat asal Pakistan sedang menjalani program pelatihan intensif, di mana salah satu dari mereka akan dipilih untuk mendapatkan kehormatan tersebut.
"Kedua kandidat astronaut asal Pakistan tersebut telah menunjukkan kinerja yang luar biasa selama masa pelatihan mereka," kata Yang.
Beralih ke program eksplorasi Bulan berawak, Yang menyatakan bahwa Tiongkok terus memacu langkah untuk mewujudkan target mengirim astronaut ke Bulan pada tahun 2030. Ia menyebutkan bahwa roket Long March 10, pesawat antariksa Mengzhou (yang berarti "wahana impian"), dan wahana pendarat Bulan Lanyue semuanya telah lulus uji coba tahap penting.
Menatap masa depan, Yang mengatakan bahwa Tiongkok menyambut baik partisipasi dari seluruh mitra global untuk berbagi ilmu pengetahuan, data, dan peluang, sehingga dapat bersama-sama menjelajahi hal-hal yang belum diketahui.
"Kami kemudian akan melaksanakan penelitian dan pengembangan ilmiah di Bulan, serta membangun stasiun penelitian bulan. Untuk itu, kami sangat berharap dapat menjalin kerja sama aktif dengan negara-negara lain dan menjajaki peluang kerja sama," ujarnya.
Diselenggarakan setiap tahun oleh International Astronautical Federation, ajang IAC berfungsi sebagai konferensi ilmiah, pameran dagang, dan pertemuan tingkat tinggi diplomatik, sekaligus menjadi wadah utama bagi pertukaran gagasan dan diskusi mengenai pengembangan sektor antariksa global.