Beijing, Radio Bharata Online - Mantan Presiden Kamar Dagang Italia, Irene Pivetti, menyoroti perlunya Italia melanjutkan kerja samanya dengan Tiongkok di bawah Prakarsa Sabuk dan Jalan atau Belt and Road Initiative (BRI). Ia menekankan bahwa membuka potensi kerja sama BRI sepenuhnya akan saling menguntungkan bagi kedua negara.
Berbicara di sebuah forum yang diselenggarakan oleh Institut Chongyang untuk Studi Keuangan di Universitas Renmin Tiongkok pada bulan Juli 2023, Pivetti membahas masa depan keterlibatan Italia dalam BRI dengan para ahli dan cendekiawan Tiongkok.
"Apa yang akan terjadi dengan penandatanganan memorandum Prakarsa Sabuk dan Jalan? Saya tidak tahu. Saat ini kami sudah berada di sana. Budaya Italia adalah teman Tiongkok. Begitu banyak pengusaha yang bekerja ke sana kemari dengan Tiongkok. Ada begitu banyak hubungan budaya dan juga hubungan ekonomi di antara orang-orang kami sehingga kenyataannya ada di sana," ujar Pivetti.
Pivetti mengakui kompleksitas politik, namun menekankan bahwa Italia tetap menjadi penandatangan BRI, meskipun ada desas-desus bahwa Italia dapat menarik diri.
"Sebagai warga negara Italia, saya berharap Italia tidak akan pernah menarik diri dari sana," kata Pivetti. Ia berjanji untuk terus membangun jembatan antara Tiongkok dan Italia, serta Tiongkok dan Eropa secara lebih luas.
"Bagaimanapun, akademisi, pengusaha dan masyarakat umum, kami terus mencari dan menghargai hubungan yang lebih erat dengan Tiongkok, dan sejauh yang saya ketahui, dan mungkin saya bisa melakukan sesuatu yang lebih. Kami akan memperbanyak jembatan antara Tiongkok dan Italia, Tiongkok dan Eropa," jelasnya.
Data dari pihak Italia menunjukkan tren yang menjanjikan, yakni dalam lima bulan pertama tahun ini, ekspor Italia ke Tiongkok meroket sebesar 58 persen dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu.