Beijing, Bharata Online - Diplomat senior Tiongkok, Wang Yi, pada hari Senin (28/9) mendesak Jepang untuk mengambil sikap yang benar terhadap sejarah serta mengoreksi pernyataan dan tindakan keliru para pemimpinnya terkait masalah Taiwan, mengingat hubungan Tiongkok-Jepang kembali menghadapi situasi sulit yang menuntut adanya "normalisasi kedua".
Wang, yang menjabat sebagai Direktur Kantor Komisi Urusan Luar Negeri Komite Sentral Partai Komunis Tiongkok sekaligus anggota Biro Politik Komite Sentral Partai Komunis Tiongkok, menyampaikan hal tersebut saat bertemu dengan Takeshi Iwaya, Presiden Asosiasi Jepang untuk Promosi Perdagangan Internasional atau Japanese Association for the Promotion of International Trade(JAPIT), di Beijing.
Wang menyatakan bahwa sejak didirikan, JAPIT senantiasa berkomitmen pada upaya persahabatan Tiongkok-Jepang. Bahkan ketika hubungan kedua negara menghadapi tantangan dan kerusakan, asosiasi ini tetap memegang teguh sikap bersahabat terhadap Tiongkok serta menjaga landasan politik hubungan bilateral.
Seraya mencatat bahwa tahun ini menandai peringatan 80 tahun dimulainya Pengadilan Tokyo, Wang mengatakan bahwa Jepang sekali lagi menghadapi ujian sejarah. Jika Jepang menolak belajar dari pelajaran sejarah, menantang Konstitusi pascaperang yang berlandaskan perdamaian, menyangkal sejarah agresinya, atau mengagungkan penjahat perang, maka Jepang tidak akan mampu menghadapi dunia dan tidak akan ada masa depan yang bisa diharapkan.
Tahun depan menandai peringatan 55 tahun normalisasi hubungan diplomatik antara Tiongkok dan Jepang. Hal yang terpenting adalah mengambil sikap yang benar terkait isu-isu sejarah. Pada dasarnya, Jepang perlu membangun persepsi yang objektif dan rasional mengenai Tiongkok, tambahnya.
Wang berharap JAPIT dan semua pihak yang berpikiran bijak akan meneruskan tradisi persahabatan, mendorong Jepang untuk membuat pilihan yang tepat, serta memberikan jawaban yang memuaskan.
Iwaya menyatakan keprihatinannya terhadap kondisi hubungan Jepang-Tiongkok saat ini. JAPIT berkomitmen untuk meneruskan warisan mantan presidennya, Yohei Kono, dan berupaya mengembalikan hubungan bilateral ke tujuan awal serta titik tolak yang tertuang dalam empat dokumen politik antara Jepang dan Tiongkok.
Ia menegaskan bahwa Jepang tidak boleh melupakan pelajaran masa lalu, dan para politisi Jepang harus mengarahkan negara ke jalan yang benar serta tetap berkomitmen teguh pada jalur pembangunan yang damai.