Beijing, Bharata Online - Zhang Hongzhang, seorang peneliti berusia 40 tahun yang beralih profesi menjadi astronaut, menjadi ahli muatan (payload expert) kedua dari Tiongkok yang mencapai luar angkasa dengan pesawat Shenzhou-21 pada 31 Oktober 2025. Ia melakukan penelitian inovatif mengenai baterai litium-ion untuk aplikasi antariksa dan menantikan proyek eksperimental lebih lanjut di luar angkasa di masa mendatang.
Baru-baru ini, ia berbagi pengalamannya di luar angkasa, wawasan mengenai proses seleksinya, serta harapannya di masa depan dalam sebuah wawancara dengan China Central Television (CCTV) di Beijing.
Sebagai salah satu dari empat spesialis muatan dalam kelompok astronaut ketiga Tiongkok, Zhang dan awaknya menghabiskan waktu 210 hari di orbit, mulai dari peluncuran pada 31 Oktober 2025 hingga kepulangan mereka pada 29 Mei 2026, yang mencetak rekor baru bagi durasi misi terlama yang dijalani oleh satu kelompok awak astronaut Tiongkok.
Selama misi tersebut, mereka menyelesaikan tiga kegiatan berjalan di luar wahana antariksa (spacewalk) dan melakukan berbagai eksperimen sains antariksa yang ekstensif. Yang paling menonjol adalah keterlibatan mereka dalam menyaksikan dan melaksanakan operasi penyelamatan darurat di orbit untuk pertama kalinya dalam sejarah program penerbangan antariksa berawak Tiongkok.
Sebelum bergabung dengan korps astronaut, Zhang adalah seorang peneliti di Akademi Ilmu Pengetahuan Tiongkok atau Chinese Academy of Sciences (CAS) yang berfokus pada material dan teknologi utama untuk baterai penyimpanan energi berskala besar. Penelitian mengenai elektrokimia baterai litium-ion untuk aplikasi antariksa tersebut dikembangkan melalui kerja sama antara Institut Fisika Kimia Dalian dan Pusat Penelitian dan Pelatihan Astronaut Tiongkok.
Selama misinya, Zhang melakukan pengamatan optik in-situ terhadap baterai litium-ion dalam kondisi mikrogravitasi. Ia mengambil gambar seluruh proses pertumbuhan dendrit litium, menyesuaikan prosedur eksperimen, memantau kondisi eksperimen secara real-time, serta mengidentifikasi dan mencatat fenomena ilmiah yang penting.
"Tujuan eksperimen ini adalah, pertama, untuk memverifikasi peralatan eksperimen saya, ini adalah kali pertama eksperimen elektrokimia dilakukan di orbit, dan memastikan semuanya berjalan lancar. Kedua, saya berharap dapat mengamati fenomena eksperimen yang saya incar serta memperoleh data yang diperlukan saat berada di orbit. Setelah menganalisis data eksperimen, kami dapat meningkatkan kinerja baterai, lalu melakukan verifikasi lanjutan di stasiun luar angkasa. Hal ini dapat membentuk siklus tertutup yang utuh. Saat ini, kita masih berada di tahap awal. Jika kita mampu menganalisis masalah ini dengan jelas, hasilnya akan menjadi acuan yang sangat berharga bagi pengembangan jenis baterai lain di luar baterai litium-ion," jelasnya.
Zhang merasa beruntung telah menekuni bidang energi baru dan penyimpanan energi.
"Sebab, bidang ini sangat penting bagi masa depan Bumi kita. Kita perlu mengurangi emisi karbon dioksida yang tak terkendali, meminimalkan efek rumah kaca, serta menekan konsumsi bahan bakar fosil. Pasalnya, cadangan bahan bakar fosil, seperti batu bara, minyak bumi, dan gas alam, di Bumi tidaklah tak terbatas. Oleh karena itu, kita mengembangkan energi baru dan energi ramah lingkungan. Menurut saya, keputusan untuk memilih bidang ini kala itu sungguh merupakan langkah yang tepat," tuturnya.
Zhang merupakan lulusan Fakultas Kimia dan Teknik Kimia Universitas Shandong. Pada tahun 2018, saat berusia 32 tahun, ia mulai menonjol dalam dunia penelitian ilmiah dengan memimpin sejumlah proyek besar. Pada tahun yang sama, Tiongkok untuk pertama kalinya membuka proses seleksi astronaut bagi para peneliti dan teknisi rekayasa, dan Zhang pun mendaftarkan diri.
Pada bulan September 2020, Zhang terpilih sebagai salah satu anggota kelompok astronaut ketiga Tiongkok. Setelah melalui evaluasi menyeluruh, ia terpilih untuk menjalankan misi penerbangan Shenzhou-21. Misi ini menandai kali kedua Tiongkok menugaskan awak yang terdiri dari pilot pesawat antariksa, insinyur penerbangan, dan ahli muatan untuk melaksanakan sebuah misi.
"Berbekal pengalaman lebih dari 10 tahun dalam penelitian di Institut Fisika Kimia Dalian, saya sangat memahami apa yang ingin dicapai oleh para peneliti di Bumi melalui eksperimen ini, apa yang menjadi perhatian mereka, serta hal-hal yang mungkin luput dari pengamatan mereka. Saya dapat membantu pelaksanaan eksperimen ini, memastikan kelancarannya, sekaligus berpotensi menghasilkan temuan tak terduga serta memberikan solusi lebih baik atas masalah yang mungkin muncul di luar rencana awal," ungkapnya.
Saat mengenang pengalamannya di luar angkasa, Zhang berkata: "Kesan yang paling mendalam adalah betapa luar biasa luas dan dalamnya ruang angkasa. Manusia, termasuk kita semua, dan bahkan Bumi tampak sangat kecil. Sungguh, saat merenungkan waktu yang cukup lama saya habiskan di luar angkasa, rasanya semua itu seperti sebuah mimpi."
Zhang juga mengungkapkan keinginannya untuk kembali ke luar angkasa.
"Saya sangat menantikannya. Saya juga berharap akan ada lebih banyak proyek eksperimen, dan lebih banyak ilmuwan yang dapat melakukan eksperimen di orbit, atau setidaknya mengirimkan eksperimen mereka ke stasiun luar angkasa, sehingga di lingkungan yang unik ini, kita dapat memberikan kontribusi lebih besar dalam eksplorasi dan pemanfaatan ruang angkasa," ujarnya.