Beijing, Bharata Online - Tiongkok berencana melaksanakan misi Tianwen-3 sekitar tahun 2028 untuk membawa pulang sampel dari Mars, seiring para ilmuwan antariksa Tiongkok membidik garis depan baru dalam eksplorasi antariksa jauh.

Tahun ini menandai peringatan 70 tahun berdirinya industri antariksa Tiongkok. Selama tujuh dekade terakhir, negara ini telah mencapai serangkaian terobosan besar dalam eksplorasi antariksa jauh, menjangkau Bulan, Mars, dan wilayah lebih jauh lagi.

Tiongkok secara resmi memulai "Proyek Chang'e" untuk eksplorasi Bulan pada tahun 2004. Sun Zezhou, seorang ahli eksplorasi antariksa jauh dari Akademi Teknologi Antariksa Tiongkok atau China Academy of Space Technology (CAST), memulai kariernya di bidang ini sejak saat itu.

Pada 24 Oktober 2007, Tiongkok meluncurkan Chang'e-1, wahana antariksa penjelajah Bulan pertamanya, yang menjadikan Tiongkok negara kelima yang mampu mengembangkan dan meluncurkan wahana penjelajah Bulan secara mandiri.

"Misi pertama kami untuk melangkah keluar dari Bumi menuju Bulan telah berjalan dengan sangat baik. Saya rasa hal ini memberikan kami kepercayaan diri yang vital untuk melangkah lebih jauh lagi di masa depan," ujar Sun dalam sebuah wawancara dengan China Media Group (CMG).

Pada tahun 2008, misi Chang'e-3 memasuki tahap pengembangan teknis. Sebagai langkah kunci dalam strategi tiga tahap program eksplorasi Bulan yang mencakup "mengorbit, mendarat, dan kembali", lebih dari 80 persen komponen misi Chang'e-3 terdiri dari produk dan teknologi baru.

"Awalnya, kami juga cukup cemas saat menghadapi masalah. Kami selalu menemui kendala dalam berbagai eksperimen. Saat telepon berbunyi, kami merasa gugup, mengira itu mungkin kabar tentang eksperimen lain yang hasilnya tidak sesuai harapan. Kami terus melangkah maju dan menguji teknologi-teknologi kunci di Bumi. Semakin banyak masalah yang kami hadapi, semakin sedikit kesalahan yang akan kami temui di masa depan. Itulah prinsipnya," kata Sun.

Pada 14 Desember 2013, Chang'e-3 mendarat di Bulan, menandai kali pertama Tiongkok mengirimkan wahana antariksa yang berhasil melakukan pendaratan lunak (soft landing) di permukaan benda langit di luar Bumi. Sejak saat itu, wahana antariksa Chang'e-4, yang diluncurkan pada 8 Desember 2018, berhasil melakukan pendaratan lunak pertama di sisi jauh Bulan. Wahana Chang'e-5 dan Chang'e-6 kemudian mengambil sampel dari permukaan Bulan.

Selain upaya eksplorasi Bulan, para ilmuwan Tiongkok juga mengalihkan perhatian mereka ke Mars.

Misi Tianwen-1 milik Tiongkok, yang terdiri dari pengorbit (orbiter), pendarat (lander), dan penjelajah (rover), diluncurkan pada Juli 2020. Wahana tersebut memasuki orbit Mars pada Februari 2021, dan penjelajah Mars Zhurong mendarat di Mars pada Mei 2021. Misi ini telah memenuhi tiga tujuan ilmiah, mengorbit Mars untuk pengamatan menyeluruh, mendarat di permukaan Mars, dan mengerahkan penjelajah untuk menjelajahi lokasi pendaratan, dalam satu misi tunggal.

Tiongkok akan meluncurkan misi Tianwen-3 untuk mengambil dan membawa kembali sampel dari Mars sekitar tahun 2028, dengan tujuan ilmiah utama mencari tanda-tanda kehidupan.

Pengambilan sampel dari Mars akan menjadi tonggak sejarah penting lainnya dalam eksplorasi antariksa jauh Tiongkok, mengingat belum pernah ada misi pengambilan sampel semacam itu yang berhasil dilakukan sebelumnya.

"Di antara kedelapan planet dalam tata surya, Mars adalah benda langit yang paling mirip dengan Bumi. Jika kita mengibaratkan Bumi sebagai orang dewasa muda yang sedang berada di puncak masa produktifnya, maka Mars lebih menyerupai sosok lanjut usia di penghujung hidupnya. Terkait eksplorasi Mars, secara sederhana dan langsung dapat dikatakan bahwa kami ingin memahami proses evolusi tetangga dekat kita ini serta wawasan apa yang dapat diberikannya kepada kita," ujar Sun.