Arktik, Bharata Online - Ekspedisi Samudra Arktik ke-16 Tiongkok berhasil melakukan panggilan video pertama yang menghubungkan wilayah Kutub Utara dan Kutub Selatan pada tanggal 25 September 2026, bertepatan dengan Festival Pertengahan Musim Gugur, menggunakan sistem satelit buatan dalam negeri dengan jeda waktu (latensi) tidak lebih dari satu detik.
Ekspedisi ini mengerahkan empat kapal, Xuelong, Xuelong 2, Jidi, dan Tansuo 3, untuk mempelajari perubahan lingkungan ekstrem di Arktik di tengah pemanasan global yang semakin cepat. Pada tanggal 29 September 2026, kapal pemecah es penelitian Tiongkok, Xuelong dan Xuelong 2, kembali ke Shanghai setelah menyelesaikan misi mereka, sementara Jidi dan Tansuo 3 melanjutkan tugas ekspedisi dan diperkirakan akan kembali pada pertengahan Oktober 2026 setelah perjalanan selama tiga bulan.
Tim ekspedisi melakukan percakapan video via satelit dengan Stasiun Qinling Tiongkok di Antartika, menyampaikan ucapan selamat hari raya kepada rekan-rekan peneliti ilmiah kutub mereka, serta menguji konstelasi satelit berskala besar yang dirancang untuk menyediakan internet pita lebar (broadband) global dan mendukung jaringan 6G terintegrasi antara antariksa dan Bumi.
"Ini adalah kali pertama Tiongkok menggunakan sistem satelit komunikasi buatan dalam negeri untuk melakukan panggilan video yang menjangkau rentang garis lintang terjauh," ujar Liu Feng, Insinyur Senior di Layanan Data dan Informasi Kelautan Nasional (National Marine Data and Information Service).
Konstelasi GW yang terdiri dari sekitar 13.000 satelit, yang dipimpin oleh China Satellite Network Group (SatNet), merupakan proyek internet satelit mega-constellation orbit Bumi rendah (LEO) pertama milik Tiongkok. Selama uji coba di wilayah kutub, kecepatan uplink dan downlink maksimum mencapai sekitar 30 megabit per detik, setara dengan waktu sekitar 10 menit untuk mengunduh berkas berukuran 1 GB. Peralatan tersebut juga dapat digunakan untuk keperluan penyelamatan darurat dan komunikasi maritim.
"Selama masa uji coba, sistem ini juga mendukung komunikasi waktu nyata antara Xuelong, Jidi, Tansuo 3, Layanan Data dan Informasi Kelautan Nasional, serta Pusat Penelitian Kutub. Setelah Jidi dan Tansuo 3 memasuki area operasi di zona es, komunikasi mereka tidak dapat terjamin kestabilannya. Oleh karena itu, transfer berkas dan log navigasi harus dilakukan melalui peralatan SatNet tersebut," kata Zhang Bin, Insinyur di Layanan Data dan Informasi Kelautan Nasional.
Keberhasilan uji coba peralatan komunikasi satelit buatan dalam negeri menandai kendali mandiri Tiongkok atas komunikasi di wilayah kutub. Peralatan tersebut memastikan data tetap berada di dalam negeri, sehingga secara efektif menjaga keamanan data.