Urumqi, Bharata Online - Para ilmuwan dan pejabat daerah di Tiongkok berkumpul pada hari Selasa (22/9) dalam sebuah forum meteorologi di Urumqi, ibu kota Daerah Otonom Xinjiang Uygur di Tiongkok Barat Laut, untuk membahas solusi guna mengatasi penyusutan gletser yang semakin cepat serta risiko yang ditimbulkannya bagi wilayah pedalaman Eurasia yang gersang.
Forum Kerja Sama Meteorologi Tiongkok-Asia Tengah Kedua yang berlangsung selama dua hari itu dibuka pada hari Selasa (22/9 di Urumqi. Dalam acara tersebut, Tiongkok mengumumkan penyerahan versi khusus dari sistem peringatan dini meteorologi berbasis kecerdasan buatan (AI) buatan dalam negeri kepada Nepal, guna membantu negara tersebut meningkatkan kemampuan peringatan dini dan respons bencana.
Langkah ini diambil setelah Administrasi Meteorologi Tiongkok (CMA) menyerahkan versi sistem MAZU kepada departemen meteorologi Nepal untuk uji coba berbasis cloud pada 29 Agustus, menyusul peristiwa tanah longsor mematikan di titik perlintasan perbatasan Gyirong-Rasuwa antara Tiongkok dan Nepal.
MAZU, singkatan dari multi-hazard (multi-bahaya), alert (peringatan), zero-gap (tanpa celah/terintegrasi penuh), dan universal, adalah platform peringatan dini meteorologi berbasis AI yang namanya diambil dari nama dewi pelindung laut dalam kepercayaan Tiongkok.
Pegunungan Tianshan yang megah, yang membentang melintasi wilayah Xinjiang di Tiongkok serta Kazakhstan, Kirgistan, dan Uzbekistan, berfungsi sebagai "menara air" alami yang krusial bagi Asia Tengah. Namun, kenaikan suhu akibat perubahan iklim menyebabkan cadangan air vital ini mencair dengan kecepatan yang mengkhawatirkan, sehingga mengancam sektor pertanian, produksi energi, dan ekosistem yang melintasi batas-batas negara.
"Kelima negara Asia Tengah terhubung erat oleh pegunungan dan sungai yang sama. Perubahan pada gletser berdampak pada sumber daya air, lingkungan ekologis, dan pemanfaatan air di wilayah gersang dalam segala aspek. Di Asia Tengah, sebagian besar kegiatan pertanian, pembangkit listrik tenaga air, dan aktivitas industri—serta kebutuhan air minum masyarakat dan ekosistem secara luas—bergantung pada air lelehan gletser. Oleh karena itu, ketika gletser di wilayah ini menyusut atau bahkan menghilang, dampak yang ditimbulkannya jauh lebih besar dibandingkan dengan banyak wilayah lain di dunia," ujar Li Zhongqin, Peneliti di Institut Ekologi-Lingkungan dan Sumber Daya Barat Laut di bawah naungan Akademi Ilmu Pengetahuan Tiongkok (Chinese Academy of Sciences/CAS).
Dampak tekanan ini sudah mulai dirasakan di wilayah hilir. Di Uzbekistan, negara yang tidak memiliki akses langsung ke laut (landlocked), para petani harus berjuang menghadapi ketersediaan air yang tidak menentu, yang mengganggu pola budidaya tanaman musiman.
"Hal ini berdampak pada kesejahteraan masyarakat, karena pencairan es menyebabkan aliran air limpasan yang berujung pada kelangkaan air di saat-saat krusial—terutama pada masa penanaman tanaman pertanian dan sebagainya," ujar Farrukh Sattarov, Direktur Pusat Perubahan Iklim Nasional di bawah naungan Kementerian Ekologi Uzbekistan.
"Di Asia Tengah, suhu meningkat lebih cepat dibandingkan rata-rata global. Kawasan ini lebih rentan karena sebagian besar penduduknya bergantung pada sektor pertanian. Jika kekeringan atau kekurangan air terjadi, hal itu dapat memicu migrasi massal, dan situasi tersebut bisa berkembang menjadi masalah sosial-ekonomi," kata Azamat Kauazov, Manajer Program di Program Perubahan Iklim dan Energi Berkelanjutan pada Pusat Lingkungan Hidup Regional untuk Asia Tengah.
Untuk mengatasi tantangan lintas batas ini, para ilmuwan menegaskan bahwa respons yang terpisah-pisah tidak lagi memadai. Pemantauan yang komprehensif dan kolaboratif di seluruh daerah aliran sungai sangatlah penting.
"Sumber daya air saling terhubung. Jika pemantauan hanya mengandalkan upaya satu negara, maka hanya sebagian dari gletser yang dapat diamati. Negara-negara Asia Tengah perlu bekerja sama untuk memantau gletser secara menyeluruh di berbagai daerah aliran sungai yang sumber airnya berasal dari gletser tersebut," kata Li.
Dalam acara yang sama, CMA memaparkan rencana penerapan sistem MAZU di negara-negara Asia Tengah untuk periode 2026-2027. Inisiatif ini bertujuan untuk memperdalam kerja sama meteorologi antara Tiongkok dan negara-negara Asia Tengah, secara bersama-sama meningkatkan kapasitas pencegahan dan mitigasi bencana di kawasan, serta mendukung pembangunan ekonomi dan sosial regional dengan lebih baik.
Sebagai upaya memperkuat langkah-langkah regional tersebut, para peserta menyatakan harapan mereka bahwa MAZU akan menyediakan prakiraan akurat yang diperlukan untuk mengantisipasi guncangan akibat perubahan iklim.
"Saat ini, pengambilan keputusan memerlukan data yang akurat. MAZU mampu menyajikan data semacam itu karena sistem ini merupakan perpaduan antara kecerdasan buatan, data satelit, dan data berbasis pengamatan darat. Dengan demikian, kita akan memiliki data yang lebih akurat. Kita dapat memprediksi berbagai dampak terkait perubahan iklim maupun kondisi meteorologis," ujar Sattarov.