Beijing, Bharata Online - Sikap terbuka dan nonblok yang diusung Forum Xiangshan Beijing membantu mempertemukan perwakilan dengan pandangan yang berbeda untuk berdialog, demikian disampaikan oleh seorang pakar asal Prancis pada hari Rabu (16/9).
Forum yang kini memasuki penyelenggaraan ke-13 itu resmi dibuka pada hari Rabu (16/9) di Beijing, dengan menghadirkan perwakilan resmi, akademisi, pakar, dan pengamat dari lebih dari 100 negara, kawasan, dan organisasi internasional.
Dalam sebuah wawancara di sela-sela forum, akademisi Prancis, Jean Christophe Iseux von Pfetten, Ketua Royal Institute for East-West Strategic Studies di Inggris yang juga sering berpartisipasi dalam forum ini, menyatakan bahwa kebijakan Tiongkok untuk menjalin hubungan bersahabat dengan semua negara dan tidak memihak dalam konflik merupakan kunci daya tarik forum tersebut.
"Menurut saya, hal ini disebabkan oleh dua alasan utama. Pertama, Forum Xiangshan berlokasi di Tiongkok dan Tiongkok sangat terbuka, menjalin persahabatan dengan semua negara di dunia serta tidak memihak dalam konflik. Itulah sebabnya para pejabat bersedia datang ke sini dan membahas isu-isu yang sangat sensitif. Alasan kedua, menurut saya, adalah karena konferensi ini, khususnya Forum Xiangshan, memiliki keunggulan kompetitif dibandingkan forum keamanan lainnya, seperti Shangri-La atau Konferensi Munich di Jerman, yang cenderung dihadiri oleh pihak Barat. Jika tidak ada perwakilan dari Rusia atau Iran, Anda tidak bisa benar-benar melakukan dialog," ujarnya.
Acara yang berlangsung selama tiga hari ini mencakup empat sesi pleno, delapan sesi paralel, dan delapan seminar tertutup, yang membahas isu-isu keamanan tradisional maupun nontradisional, seperti stabilitas strategis, titik-titik panas (hotspots) regional, teknologi terkini, dan operasi kontra-terorisme.
Forum ini telah berkembang menjadi wadah bagi perwakilan dari berbagai negara untuk saling bertukar pandangan. Jean Christophe Iseux von Pfetten mengatakan bahwa penyelenggaraan kali ini juga dapat membantu menangani isu-isu titik panas di tingkat internasional maupun regional.
"Kami mengadakan seminar tertutup yang dihadiri oleh perwakilan dari Lebanon, Iran, Israel, dan negara-negara Barat. Meskipun mungkin tidak akan menghasilkan keputusan terobosan ataupun kesepakatan, dialog yang terjalin dapat membantu meredakan eskalasi lebih lanjut. Seperti yang Anda ketahui, saat ini terjadi eskalasi besar akibat upaya kelompok Houthi untuk memblokade Teluk Aden, sebuah masalah tambahan bagi dunia, tidak hanya bagi Barat tetapi juga bagi Tiongkok, mengingat jalur tersebut krusial bagi arus perdagangan utama yang melewati Terusan Suez. Hal ini tidak hanya menyangkut aliran minyak, tetapi juga perdagangan internasional secara keseluruhan antara Timur dan Barat. Saya sangat yakin masa depan akan lebih cerah karena Tiongkok benar-benar mengambil langkah-langkah yang tepat untuk memperkuat multilateralisme," jelasnya.