New York, Bharata Online - Para pelajar dan pakar di Amerika Serikat menantikan kunjungan kenegaraan Presiden Tiongkok, Xi Jinping, ke AS. Banyak pihak berharap kunjungan ini akan meningkatkan saling pengertian, memperluas pertukaran antarwarga, serta berkontribusi pada perdamaian dan kemakmuran global.

Xi dijadwalkan bertolak ke Washington untuk melakukan kunjungan kenegaraan dan pertemuan penting dengan Presiden AS, Donald Trump. Dengan adanya kunjungan mendatang ini, kedua presiden diperkirakan akan menuntaskan rangkaian kunjungan timbal balik dalam kurun waktu beberapa bulan.

Menyusul pengumuman resmi mengenai kunjungan Xi ke AS pada hari Senin (21/9), surat balasannya kepada para mahasiswa Amerika dipublikasikan. Dalam surat tersebut, Xi mendorong mereka untuk memupuk saling pengertian dan kedekatan yang lebih erat antara masyarakat kedua negara, serta memajukan perkembangan hubungan bilateral yang stabil dan berkelanjutan.

Para mahasiswa Amerika yang sebelumnya berkirim surat kepada Xi mengaku sangat senang menerima balasan beliau dan berharap kunjungannya ke AS akan semakin memajukan hubungan bilateral.

Mereka secara khusus mengapresiasi program Tiongkok yang mengundang 50.000 pemuda Amerika untuk berkunjung ke Tiongkok guna mengikuti kegiatan pertukaran dan studi selama lima tahun, sebuah program yang diluncurkan pada tahun 2023.

"Salah satu alasan kami menyampaikan rasa terima kasih atas inisiatif tersebut, yang berfokus mendatangkan mahasiswa AS ke Tiongkok serta memperkenalkan budaya, masyarakat, dan hal-hal semacamnya di sana, adalah karena kami ingin mengungkapkan apresiasi kami. Namun, kami juga ingin benar-benar menceritakan apa yang telah kami pelajari," ujar Mahasiswa Universitas Columbia.

"Presiden Tiongkok membalas surat kami secara tertulis. Tentu saja itu memberikan kesan yang sangat istimewa. Menurut saya, fokus beliau dalam menciptakan masa depan yang mengedepankan dialog bersama dan memperbanyak program pertukaran antarnegara adalah hal yang paling berkesan bagi saya," kata Mahasiswa American University.

Tashina Giraud, Direktur Kemitraan Internasional dan Inisiatif Strategis di American University, mencatat bahwa pertukaran semacam itu menyoroti pentingnya peran hubungan antarwarga.

"Hal ini menjadi pengingat bahwa masa depan hubungan AS-Tiongkok tidak hanya akan dibentuk oleh pemerintah, tetapi juga oleh hubungan antarwarga biasa, khususnya kaum muda. Pengalaman-pengalaman ini membantu kita meruntuhkan stereotip dan menumbuhkan rasa saling menghormati," ujarnya.

Para pengamat AS menekankan bahwa diplomasi tingkat kepala negara memainkan peran strategis yang tak tergantikan dalam mengarahkan hubungan Tiongkok-AS. Mereka berharap kedua pemimpin akan mencapai lebih banyak kesepakatan mengenai kerja sama bilateral dan isu-isu global.

"Saya berharap Presiden Xi dan Presiden Trump akan menemukan jalan baru ke depan. Saya sungguh meyakininya. Saya menaruh harapan besar pada masa depan. Menurut saya, masa-masa terbaik masih akan datang," ujar Adam Foster, Ketua Helen Foster Snow Foundation.

"Melihat kedua tokoh tersebut duduk berhadapan di meja perundingan akan menjadi momen yang sangat mengesankan. Saya rasa, yang mungkin paling istimewa adalah jeda waktu yang cukup singkat antara kedua pertemuan tersebut—dari bulan Mei hingga September—yang terasa sangat singkat, bahkan seperti sepersekian detik, jika kita berbicara tentang para pemimpin dunia. Bisa melihat pertemuan di satu negara pada bulan Mei dan kini Presiden Xi datang ke Amerika Serikat pada bulan September, menurut saya itu benar-benar merupakan hal yang sangat penting," ujar Anthony Moretti, Lektor Kepala (Associate Professor) di School of Communication and Media, Robert Morris University, Pennsylvania.