Beijing, Bharata Online - Menurut seorang pakar, prinsip saling menghormati, keadilan, dan timbal balik akan menjadi pedoman bagi tahap selanjutnya dalam hubungan Tiongkok-AS, menyusul kesepakatan antara Presiden Tiongkok, Xi Jinping, dan Presiden AS, Donald Trump, pada hari Jumat (25/9) untuk membangun hubungan konstruktif yang berlandaskan stabilitas strategis dan ketiga prinsip tersebut.
Dalam sebuah wawancara pada hari Sabtu (26/9) di Beijing, Ruan Zongze, seorang peneliti dari China Institute of International Studies, menyampaikan pandangannya mengenai karakteristik terkini hubungan Tiongkok-AS.
"Mendefinisikan dan menggambarkan fase hubungan Tiongkok-AS saat ini sebagai hubungan yang didasarkan pada rasa saling menghormati, keadilan, dan timbal balik, menurut saya, mencerminkan prinsip untuk terus mengikuti perkembangan zaman. Deskripsi kami mengenai hubungan ini merupakan sebuah rangkuman yang dinamis. Jadi, ketiga kata tersebut tidak hanya merangkum hubungan Tiongkok-AS, tetapi sekaligus mengangkat kualitas hubungan itu ke tingkat yang lebih tinggi. Ketiga kata tersebut memiliki makna yang sangat kaya, dan saya yakin ketiganya akan berperan sebagai pedoman bagi perkembangan hubungan ini di masa mendatang," ujar Ruan.
Ruan mencatat bahwa Tiongkok telah lama berupaya mencari cara yang tepat bagi negara-negara besar di era baru untuk menjalin hubungan yang harmonis, serta terus bertukar pandangan dengan Amerika Serikat dan memperkaya hubungan tersebut dengan makna-makna baru.
"Pada dasarnya, kita dapat melihat hal ini sebagai bentuk perkembangan lebih lanjut dan vitalitas hubungan Tiongkok-AS. Situasi terus berubah dan deskripsi kami pun disesuaikan dengan perubahan tersebut, namun semangat yang mendasarinya senantiasa dikembangkan dengan menekankan aspek 'saling menghormati', 'keadilan', dan 'timbal balik' di antara kedua belah pihak," ungkapnya.