Washington D.C., Bharata Online - Seorang pakar Tiongkok pada hari Jumat (25/9) menyoroti pentingnya pemantapan posisi hubungan Tiongkok-AS yang telah diperkaya, dengan menyatakan bahwa hubungan konstruktif yang didasarkan pada stabilitas strategis, rasa saling menghormati, keadilan, dan timbal balik merupakan hal yang vital bagi kedua negara maupun dunia.
Presiden Tiongkok, Xi Jinping, telah merampungkan kunjungan kenegaraan selama tiga hari ke Amerika Serikat dengan sukses pada hari Jumat (25/9). Dalam kunjungan tersebut, Xi dan Presiden AS, Donald Trump, sepakat untuk membangun hubungan konstruktif yang didasarkan pada stabilitas strategis, rasa saling menghormati, keadilan, dan timbal balik.
Prof. Diao Daming, Wakil Dekan Akademi Nasional untuk Pembangunan dan Strategi di Universitas Renmin Tiongkok, memberikan pandangannya mengenai pemantapan posisi yang telah diperkaya tersebut.
"Dari tanggal 23 hingga 25 September 2026, Presiden Xi melakukan kunjungan kenegaraan yang sangat sukses ke Amerika Serikat atas undangan Presiden Trump. Dalam kunjungan bersejarah yang menjadi tonggak penting ini, para pemimpin Tiongkok dan Amerika Serikat semakin memperkaya makna dari posisi baru hubungan bilateral yang telah disepakati dalam pertemuan puncak bulan Mei lalu, serta sepakat untuk bersama-sama membangun 'hubungan konstruktif yang didasarkan pada stabilitas strategis, rasa saling menghormati, keadilan, dan timbal balik'," ujar Diao.
Ia menjelaskan bahwa prinsip-prinsip rasa saling menghormati, keadilan, dan timbal balik selaras dengan pendekatan Tiongkok yang telah lama diterapkan dalam mengelola hubungan dengan Amerika Serikat, yang memadukan warisan sejarah dengan langkah konstruktif ke masa depan.
"Makna dari posisi baru ini, rasa saling menghormati, keadilan, dan timbal balik, sejalan dengan prinsip saling menghormati, hidup berdampingan secara damai, dan kerja sama yang saling menguntungkan (win-win) yang secara konsisten dijunjung tinggi oleh Tiongkok dalam menangani hubusngan Tiongkok-AS. Hal ini mencerminkan warisan prinsip-prinsip masa lalu sekaligus kelanjutan dari pengalaman sejarah, dan terlebih lagi, merupakan pengembangan berkelanjutan mengenai cara yang tepat bagi kedua negara untuk menjalin hubungan di era baru ini," kata sang profesor.
"'Saling menghormati' adalah prasyarat, yang berarti menghormati sistem sosial, jalur pembangunan, dan kepentingan inti satu sama lain, sembari menjunjung tinggi semangat ketiga komunike bersama Tiongkok-AS. 'Keadilan' mencerminkan nilai yang diperjuangkan, yang terkandung dalam hubungan internasional jenis baru yang digagas oleh Tiongkok. Gagasan ini menekankan pada keadilan dan kejujuran, baik dalam hubungan internasional maupun dalam penegakan hukum serta tatanan internasional. 'Timbal balik' menekankan pada keuntungan bersama serta keseimbangan antara hak dan kewajiban, dengan menggarisbawahi kesetaraan status dan pertimbangan kepentingan dalam interaksi internasional, satu pihak tidak bisa hanya menikmati hak sementara pihak lain memikul kewajiban sendirian," jelasnya.
Diao menegaskan bahwa prinsip-prinsip ini sangat penting untuk memajukan arah baru hubungan bilateral, yang pada akhirnya akan memberikan manfaat bagi rakyat kedua negara serta masyarakat global secara lebih luas.
"Makna dari saling menghormati, keadilan, dan timbal balik akan membantu Tiongkok dan Amerika Serikat untuk terus memajukan arah baru hubungan konstruktif yang berlandaskan stabilitas strategis, sehingga hubungan tersebut dapat memberikan manfaat lebih besar bagi rakyat kedua negara maupun masyarakat dunia. Hubungan konstruktif yang berlandaskan stabilitas strategis, yang didasarkan pada prinsip saling menghormati, keadilan, dan timbal balik, memberikan stabilitas dan kepastian baru bagi hubungan Tiongkok-AS: mengelola perbedaan melalui sikap saling menghormati, membentuk tatanan melalui keadilan, dan mencapai keuntungan bersama melalui prinsip timbal balik. Menjaga dan terus mengembangkan hubungan konstruktif yang berlandaskan stabilitas strategis ini merupakan cara bagi Tiongkok dan Amerika Serikat, dua negara besar, untuk menemukan jalan yang tepat dalam menjalin hubungan. Hal ini bermanfaat bagi rakyat kedua negara sekaligus menjadi jangkar penstabil bagi dunia yang sedang dilanda gejolak," papar Diao.