Tiongkok, Bharata Online - Astronaut Wu Fei, anggota kru Shenzhou-21, berbagi kisah perjalanannya dari seorang insinyur pesawat antariksa menjadi astronaut, serta cerita yang jarang diketahui tentang bagaimana kapsul kembali Shenzhou-20 yang mengalami keretakan berhasil dibawa pulang dengan selamat.

Wu lahir pada tahun 1993 di Baotou, Daerah Otonom Mongolia Dalam, Tiongkok Utara. Pada tahun 2010, ia diterima di Universitas Beihang di Beijing, tempat ia mengambil jurusan desain pesawat terbang.

Setelah menyelesaikan gelar magisternya, ia bekerja sebagai insinyur di China Academy of Space Technology (CAST) di bawah naungan China Aerospace Science and Technology Corporation (CASC). Di sana, pekerjaannya berfokus pada pengujian termal untuk pesawat antariksa.

Pada bulan Mei 2018, Tiongkok mulai menyeleksi kelompok astronot ketiganya, dengan menambahkan dua kategori baru: insinyur antariksa dan spesialis muatan. Wu mendaftar tanpa ragu. Lalu di bulan September 2020, ia direkrut sebagai astronaut.

"Saat pertama kali menjalani pelatihan, kami sebenarnya menghadapi banyak kendala, termasuk transisi dari posisi sebagai ahli di bidang masing-masing menjadi individu yang harus menguasai wawasan luas. Meskipun kami memiliki peran spesifik, menjadi astronot tetap menuntut kami untuk memahami seluruh sistem yang ada," ujar Wu.

Dalam perjalanannya dari insinyur menjadi astronaut, Wu harus mengatasi lebih banyak kesulitan daripada yang ia perkirakan. Awalnya, ia cenderung bertindak terburu-buru, namun kemudian ia menyadari bahwa sikap itu tidak akan membawanya ke mana-mana.

"Saya berkata pada diri sendiri untuk mengenali polanya dan kemudian menyusun metode pelatihan yang ilmiah. Komandan saya (Zhang Lu) telah menghabiskan lebih dari 10 tahun menempa diri untuk menjalankan tugas ini, dan beliau bersedia berbagi pengalaman berharga yang telah ia kumpulkan. Kita harus memanfaatkan sumber daya ini dengan baik—sebuah warisan bagi kita: bagaimana belajar dari pengalamannya, serta bagaimana 'berdiri di atas bahu para raksasa' untuk melakukan eksplorasi yang lebih canggih dan menyelesaikan tugas-tugas kita dengan lebih baik," kata Wu.

Wu telah bekerja memverifikasi sistem kendali termal untuk modul inti Tianhe dan modul laboratorium Wentian milik stasiun antariksa Tiongkok. Ia mengungkapkan bahwa mengoperasikan pesawat antariksa yang pernah ia bantu uji dan kembangkan akan menjadi pengalaman yang "sangat bermakna" baginya.

"Sebagai insinyur antariksa, saya lebih memperhatikan parameter seluruh instrumen saat bertugas menjaga operasional stasiun luar angkasa secara keseluruhan, karena tugas saya adalah memantau parameter-parameter tersebut sebelum berangkat ke luar angkasa. Saat berada di orbit, saya akhirnya memiliki kesempatan untuk melihat kondisi operasionalnya yang sebenarnya; jadi, saya sering memeriksa parameter tersebut dan mempelajari cara kerja setiap sistem," ujar Wu.

Tiga kegiatan di luar wahana antariksa (extravehicular activities) juga memberinya kesempatan untuk mengamati Bumi dan luar angkasa dari sudut pandang yang berbeda.

"Saya merasa agak gugup saat melihat Bumi secara utuh untuk pertama kalinya begitu membuka pintu kabin. Sudut pandang itu sulit digambarkan, saya berdiri di tempat yang sangat tinggi, memandang ke bawah, tanpa ada apa pun yang menghalangi pandangan," kata Wu.

Ia mengungkapkan betapa mengesankannya melihat Bumi dari kejauhan dengan latar belakang luar angkasa untuk pertama kalinya.

"Menyadari bahwa pencapaian kita di bidang sains dan teknologi telah melampaui atmosfer, serta melihat stasiun luar angkasa yang sarat akan teknologi tepat di depan mata, itu adalah perasaan yang sangat menggugah," ungkap Wu.

Tiongkok meluncurkan pesawat antariksa Shenzhou-22 dari Pusat Peluncuran Satelit Jiuquan di Tiongkok Barat Laut pada tanggal 25 November 2025 pukul 12.11 (Waktu Beijing), sekaligus sukses menuntaskan misi peluncuran darurat pertama dalam program penerbangan antariksa berawak negara tersebut.

Pesawat antariksa yang terbang tanpa awak ini membawa muatan berupa makanan khusus antariksa, perlengkapan medis, buah dan sayuran segar, serta peralatan untuk memperbaiki jendela yang retak pada pesawat antariksa Shenzhou-20.

Misi pemulangan tiga astronaut Shenzhou-20 ke Bumi, yang awalnya dijadwalkan pada 5 November 2025 menggunakan pesawat Shenzhou-20, sempat tertunda akibat dugaan benturan dengan serpihan antariksa.

"Setelah retakan muncul pada jendela pesawat antariksa Shenzhou-20, tim di Bumi tidak dapat menilai secara akurat dari jarak jauh apakah jendela tersebut mampu menahan suhu dan tekanan tinggi selama keseluruhan proses kepulangan. Mengenai struktur jendela itu sendiri, kami tidak bisa melepasnya karena akan menyebabkan kondisi vakum jika dilepas. Namun, langkah yang bisa kami ambil adalah melindunginya. Kami melakukan penguatan pada bagian dalam kabin. Masalah serupa mungkin saja terjadi dalam misi-misi selanjutnya. Bagaimana kita bisa menilai sejauh mana keandalannya? (Memulangkan pesawat antariksa ini) memberikan kesempatan bagi para ahli di Bumi untuk melakukan penelitian," jelas Wu.

Kapsul kembali pesawat antariksa Shenzhou-20, yang tidak membawa astronaut, mendarat di lokasi pendaratan Dongfeng di Daerah Otonom Mongolia Dalam, Tiongkok utara, pada 19 Januari 2026. Pemeriksaan di lokasi mengonfirmasi bahwa tampilan keseluruhan kapsul kembali tersebut tampak normal dan kondisi barang-barang di dalamnya pun baik.

Wu mengatakan bahwa sebelum pesawat antariksa Shenzhou-20 mendarat di Bumi, ia lebih mengkhawatirkan upaya penguatan yang telah dilakukan.

"Yang lebih kami khawatirkan adalah apakah pekerjaan penguatan kami telah dilakukan dengan cukup baik untuk mencapai hasil yang diharapkan dan membawa kembali peluang penelitian berharga ini ke Bumi secara utuh," ujarnya.