Irlandia, Bharata Online - Para pengamat internasional menyambut baik pertemuan puncak baru-baru ini antara Presiden Tiongkok, Xi Jinping, dan Presiden AS, Donald Trump, serta menilai bahwa peningkatan kerja sama Tiongkok-AS sangat penting bagi stabilitas global dan perkembangan yang positif.
Xi mengakhiri kunjungan kenegaraan selama tiga hari ke Amerika Serikat pada hari Jumat (25/9). Dalam kunjungan tersebut, ia dan Trump menegaskan kembali komitmen mereka terhadap hubungan yang konstruktif dan stabil secara strategis, yang berlandaskan pada prinsip keadilan, timbal balik, dan saling menghormati.
Dalam wawancara terpisah dengan China Central Television (CCTV), para pemimpin dan pakar dari berbagai penjuru dunia menekankan bahwa upaya untuk menemukan cara yang tepat bagi negara-negara besar untuk hidup berdampingan tidak hanya bermanfaat bagi Tiongkok dan AS, tetapi juga memberikan stabilitas dan energi positif yang sangat dibutuhkan bagi perdamaian dan pembangunan global.
"Penerapan kerangka kerja (untuk kerja sama yang dibangun di atas hubungan konstruktif dan stabilitas strategis antara Tiongkok dan AS) ini sungguh penting. Kita tahu bahwa jenis hubungan seperti itu efektif dan berhasil. Jadi, kita harus memastikan adanya lebih banyak kerja sama antarnegara dalam skala global," ujar Catherine Ardagh, Menteri Negara di Departemen Kehakiman, Dalam Negeri, dan Migrasi Irlandia.
"Setelah 11 tahun, Presiden Xi menjadi presiden Tiongkok pertama yang mengunjungi Amerika Serikat. Jika melihat hasil-hasil dari kunjungan ini, terdapat lebih dari delapan poin kesepakatan, atau sekitar delapan poin. Dunia menaruh perhatian pada pertemuan bersejarah ini," kata Tahir Malik, Kepala Departemen Hubungan Internasional di National University of Modern Languages, Islamabad, Pakistan.
"Jadi, kolaborasi dan sikap saling menghormati antara Amerika Serikat dan Tiongkok ini seolah menetapkan standar bagi stabilitas, pertumbuhan, dan pembangunan. Menurut saya, kolaborasi bersama yang telah disepakati kedua presiden untuk menjaga komunikasi berkelanjutan itu pastilah penting," ujar Richard A. Black, Perwakilan Schiller Institute di Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).
"Pesan kuat dari Presiden Xi adalah: investasi terbesar Tiongkok adalah persahabatan, kerja sama, dan kemitraan—bukan kekuatan bersenjata—melainkan solusi damai untuk berbagai persoalan dunia," kata Zijad Becirovic, Direktur International Institute for Middle East and Balkan Studies di Slovenia.
"Penekanan Presiden Xi Jinping mengenai ketulusan dan komunikasi, hidup berdampingan serta komunikasi yang efektif, sangatlah tepat waktu. Menurut saya, kita sedang menuju dunia yang stabil ketika negara-negara adidaya berbicara seperti itu dan terus hidup berdampingan," ujar Fabian Mutale, Analis Politik Zambia.
Kunjungan Xi tersebut dilakukan atas undangan Presiden AS, Donald Trump. Kunjungan ini menyusul kunjungan kenegaraan Trump ke Tiongkok pada bulan Mei lalu.