Kunming, Bharata Online - Sebuah film dokumenter baru yang dirilis di Tiongkok pekan ini mengupas secara mendalam penyelidikan polisi Tiongkok terhadap sebuah kompleks penipuan telekomunikasi dan insiden penembakan mematikan di wilayah Kokang, Myanmar Utara.

Bertajuk "Berakhirnya Penipuan Telekomunikasi di Myanmar Utara", dokumenter tiga bagian ini diproduksi bersama oleh Kementerian Keamanan Publik dan China Media Group (CMG). Film ini mengungkap kondisi brutal di dalam kompleks penipuan telekomunikasi di Myanmar utara serta upaya Tiongkok untuk menindak jaringan penipuan telekomunikasi lintas batas.

Bagian pertama dokumenter ini ditayangkan di CCTV-1 pada Senin (5/10) malam, sementara dua bagian berikutnya dijadwalkan tayang pada hari Selasa (6/10) dan Rabu (7/10).

Dokumenter tersebut memperlihatkan bagaimana, menyusul insiden penembakan yang melibatkan warga negara Tiongkok di Kokang pada 20 Oktober 2023, polisi Tiongkok dan Myanmar membentuk tim investigasi gabungan di bawah mekanisme kerja sama penegakan hukum dan keamanan antara Tiongkok dan Myanmar.

Untuk pertama kalinya, penyelidik Tiongkok diizinkan memasuki kompleks penipuan di Kokang, termasuk tiga kompleks yang terkait dengan penembakan tersebut: Wohushan Manor, "Red House", dan Donghu Manor.

Para petugas ditugaskan untuk mengamankan bukti-bukti penting guna membangun kasus hukum terhadap para operator kompleks tersebut.

Namun, saat Kementerian Keamanan Publik Tiongkok sedang memindahkan komando garis depan dari Kota Kunming di Provinsi Yunnan (Tiongkok Barat Daya) langsung ke perbatasan Myanmar, konflik bersenjata antara pasukan pemerintah Myanmar dan kelompok pemberontak pecah di Kokang.

"Pertempuran itu sangat sengit. Pesawat militer Myanmar bahkan terbang di atas kepala kami dan menjatuhkan bom di medan perang. Namun sebagai petugas polisi, kami hanya memiliki satu pemikiran: bukti-bukti itu tidak boleh hancur akibat pertempuran," ujar Na Xin, Inspektur Polisi Senior dari Divisi Investigasi Kriminal Biro Keamanan Publik Kunming.

Berdasarkan informasi intelijen yang dikumpulkan selama penyelidikan awal, sebuah satuan tugas khusus mendatangi lokasi yang diduga menjadi tempat penguburan para korban penembakan, dan menemukan tiga jenazah yang kondisinya sudah sangat membusuk.

"Pihak Myanmar berulang kali mengatakan kepada kami bahwa tidak ada warga negara Tiongkok yang tewas. Sebelum kami berangkat, pihak komando telah mempertimbangkan masak-masak kesulitan dalam mengumpulkan bukti di luar negeri. Instruksi saya jelas: jika kami menemukan jenazah, meskipun kami tidak bisa membawanya pulang, kami harus membawa kembali sampel biologis," ujar Na.

Otoritas Myanmar tidak langsung menyetujui permintaan satuan tugas untuk memulangkan jenazah ke Tiongkok, namun tim Tiongkok berhasil mengambil sampel biologis dari ketiga korban untuk dibawa kembali ke Tiongkok guna pemeriksaan forensik.

Akhirnya, setelah negosiasi intensif sepanjang malam antara pejabat Myanmar dan polisi Tiongkok, tim tersebut berhasil membawa ketiga jenazah kembali ke Tiongkok pada hari berikutnya.

Pemeriksaan forensik menyimpulkan bahwa seluruh korban tewas akibat luka tembak, dan peluru masih bersarang di tubuh dua korban. Kemudian, dengan persetujuan pejabat Myanmar, anggota satuan tugas berulang kali mempertaruhkan nyawa untuk memasuki lokasi-lokasi penting di tengah pertempuran guna melakukan penyelidikan dan mengumpulkan bukti.

"Yang perlu kami bawa pulang bukan hanya bukti kasus pembunuhan, tetapi juga bukti terkait perjudian dan penipuan telekomunikasi. Wilayah yang harus kami selidiki sangat luas. Bahkan terdapat ranjau darat dan bahan peledak yang belum meledak. Namun, kami tidak terlalu memikirkan risikonya. Saat dihadapkan pada pilihan untuk pergi atau tidak, tidak ada pilihan lain. Kami harus pergi. Sekalipun itu berarti kami tidak bisa kembali, akan ada rekan lain yang siap melanjutkan langkah kami," jelas Yang Guoqiang, Wakil Kepala Divisi Investigasi Kriminal di bawah Biro Keamanan Publik Wenzhou, Provinsi Zhejiang, Tiongkok Timur.

Otoritas Tiongkok meluncurkan operasi khusus pada Juli 2023 untuk memerangi penipuan telekomunikasi dan daring lintas batas yang menargetkan Tiongkok dari wilayah Myanmar Utara.

Pada 29 Januari 2026, Tiongkok mengeksekusi 11 anggota komplotan yang menjalankan operasi penipuan telekomunikasi di Myanmar utara, termasuk tokoh-tokoh kunci dalam jaringan penipuan tersebut. Kesebelas orang itu sebelumnya dijatuhi hukuman mati pada September 2025 oleh pengadilan di Wenzhou atas berbagai kejahatan, termasuk pembunuhan berencana, penganiayaan berat, penyekapan ilegal, penipuan, dan pengoperasian tempat perjudian.