Shanghai, Bharata Online - Hubungan yang sehat dan stabil antara Tiongkok dan Amerika Serikat bermanfaat bagi semua negara di dunia, karena memberikan prospek kerja sama yang dapat diprediksi dengan kedua kekuatan besar tersebut, kata Presiden Dewan Bisnis AS-Tiongkok, Sean Stein.

Dalam wawancara baru-baru ini dengan China Media Group (CMG) di Shanghai, yang ditayangkan pada hari Jumat (25/9) saat Presiden Tiongkok, Xi Jinping, mengakhiri kunjungan kenegaraan tiga hari ke Amerika Serikat, Stein menyoroti bahwa AS telah memperluas cakupan konsep keamanan nasional secara berlebihan, seraya menyerukan definisi yang lebih masuk akal.

"Bayangkan sebuah diagram Venn, yaitu diagram dengan lingkaran-lingkaran yang saling tumpang tindih. Awalnya, tumpang tindihnya sangat kecil, namun kini hampir sepenuhnya tumpang tindih. Jadi, segala hal yang berkaitan dengan Tiongkok, pariwisata, perdagangan, perjalanan, pendidikan, dan sebagainya, dianggap sebagai masalah keamanan nasional. Itu sudah berlebihan. Oleh karena itu, kami berupaya membantu mencapai keseimbangan yang wajar mengenai apa yang sebenarnya termasuk keamanan nasional dan apa yang bukan. Itulah yang kami sampaikan kepada kedua pemerintah: keamanan nasional harus didefinisikan secara spesifik dan transparan. Dengan cara itulah kepercayaan dibangun," ujarnya.

Terkait praktik pemerintah AS yang menyertakan ketentuan mengenai Tiongkok dalam perjanjian perdagangan dengan negara lain, Stein mengatakan bahwa banyak negara yang sedang melakukan perundingan perdagangan dengan AS telah menghubunginya untuk menanyakan bagaimana mereka harus menyikapi berbagai perkembangan dalam hubungan AS-Tiongkok.

"Secara pribadi, saya sangat meyakini bahwa ketika hubungan antara Amerika Serikat dan Tiongkok stabil, manfaatnya tidak hanya dirasakan oleh kedua negara kita; hal itu juga memberikan kejelasan bagi negara-negara di mana pun, baik di ASEAN, wilayah Global South lainnya, maupun di Eropa atau Amerika Latin. Situasi ini memungkinkan mereka memahami cara berinteraksi dengan kedua negara tersebut, karena pada akhirnya, tidak ada pihak yang ingin dipaksa memilih kubu. Tidak ada yang ingin menyatakan, 'Kami berada di kubu Amerika' atau 'Kami berada di kubu Tiongkok'. Karena mereka memiliki kepentingan di kedua pihak. Oleh karena itu, bagi kami, dengan turut menjaga hubungan yang stabil dan dapat diprediksi seperti ini, negara-negara tersebut dapat memperjuangkan kepentingan mereka sendiri serta memperoleh manfaat maksimal dari hubungan yang kuat dengan Amerika Serikat maupun hubungan yang luar biasa dengan Tiongkok," jelasnya.

Kunjungan terbaru Xi ke Washington merupakan kunjungan kenegaraan pertamanya ke Amerika Serikat dalam kurun waktu 11 tahun. Dalam kunjungan tersebut, Xi dan Presiden AS, Donald Trump, sepakat untuk membangun hubungan yang konstruktif dan berlandaskan stabilitas strategis, yang didasarkan pada prinsip saling menghormati, keadilan, dan timbal balik.