Beijing, Bharata Online - Tiongkok berupaya meningkatkan tata kelola di tingkat akar rumput dan menjadikan layanan publik lebih tanggap terhadap kebutuhan masyarakat.

Di Beijing, salah satu contohnya bermula dari seorang warga yang menyuarakan masalah sehari-hari. Masukan darinya mendorong para pejabat setempat dan berbagai departemen terkait untuk bekerja sama dalam meningkatkan aksesibilitas bagi penyandang disabilitas netra.

Meng Lin adalah seorang pejabat tingkat komunitas di pemerintahan Distrik Chaoyang, Beijing. Salah satu tugasnya adalah menanggapi kekhawatiran warga mengenai kondisi jalan dan lalu lintas di wilayah tersebut.

Dua tahun lalu, ia menerima keluhan dari Wang Zhigang, seorang penyandang disabilitas netra yang mengatakan bahwa sinyal lalu lintas di dekat rumahnya tidak mengeluarkan suara yang cukup jelas untuk didengar.

"Saya tidak bisa mengetahui kapan lampu berubah menjadi hijau atau merah. Saat itu bertepatan dengan Festival Musim Semi, sehingga sangat sedikit pejalan kaki. Saya tidak bisa meminta bantuan siapa pun. Saya berdiri di sana selama empat atau lima menit. Saya berpikir, pasti ada cara untuk menyeberang, tetapi saya merasa benar-benar tidak berdaya," ujar Wang.

Meng menyadari bahwa ia harus mencoba menempuh rute tersebut sendiri agar dapat memahami masalahnya secara langsung.

"Keesokan harinya, saya menerima telepon. Sekitar 24 jam kemudian, seseorang menelepon untuk menanyakan kebutuhan saya. Hal yang paling membuat saya terkesan adalah ketika ia berkata, 'Saya akan menemani Anda menyusuri rute ini. Tunjukkan ke mana Anda ingin pergi dan kendala apa saja yang Anda hadapi'," kata Wang.

Mereka melakukan beberapa kali peninjauan bersama dan memperbaiki masalah pada lampu lalu lintas tersebut. Fokus kemudian diperluas, tidak hanya pada sinyal lalu lintas, tetapi juga mencakup pemeriksaan jalur pemandu (tactile paving) beserta desainnya.

"Ini adalah masalah yang kami temukan, dan kami segera melakukan perbaikan. Pengalaman beliau membantu saya memahami penyandang disabilitas netra dengan lebih baik. Hal ini juga menunjukkan kepada kami aspek apa saja yang perlu ditingkatkan terkait aksesibilitas," ujar Meng.

Namun, upaya aksesibilitas tidak berhenti begitu perbaikan selesai. Meng dan rekan-rekannya dari berbagai departemen membentuk grup percakapan bersama Wang, sehingga ia dapat melaporkan kendala yang muncul sewaktu-waktu.

Saat ini, Beijing tengah merancang proyek transportasi untuk lima tahun ke depan. Meng menyatakan bahwa aksesibilitas menjadi pertimbangan utama. Pengalaman mereka bersama Wang akan memberikan data yang berguna untuk perencanaan jangka panjang.

"Dulu, fokusnya hanya sebatas pada penyediaan jalan dan memastikan lebarnya memadai. Kini, kita beralih ke penyempurnaan yang lebih mendetail. Ibarat menyulam, kita perlu membuat setiap detail menjadi lebih presisi. Ke depannya, aksesibilitas akan menjadi aspek krusial dalam pekerjaan kami," jelas Meng.

Saat ini, penyeberangan di sekitar lingkungan tempat tinggal Wang jauh lebih mudah untuk dilalui. Bagi Wang, hal ini berarti keamanan yang lebih baik serta kebebasan yang lebih besar untuk bepergian secara mandiri.