Beijing, Bharata Online - Beragam peralatan cerdas nirawak untuk keperluan kontra-terorisme dipamerkan dalam forum internasional "Great Wall-2026" yang tengah berlangsung di Beijing sejak Rabu (14/10). Peralatan-peralatan ini menunjukkan kemampuan dalam pengintaian nirawak, pengendalian berbasis kelompok (klaster), serta penanganan target secara presisi.

Lebih dari 320 perwakilan dari 62 negara dan organisasi internasional menghadiri forum yang berlangsung selama tiga hari tersebut.

Diselenggarakan oleh Pasukan Polisi Bersenjata Rakyat Tiongkok (Chinese People's Armed Police Force), forum tahun ini menjadi wadah bagi para perwakilan untuk berbagi wawasan dan pengalaman mengenai kerja sama praktis dalam pemberantasan terorisme melalui empat sesi seminar.

Di lokasi pameran, para tamu dari dalam maupun luar negeri tampak bertukar pandangan dan mendiskusikan tren pengembangan peralatan nirawak, termasuk penerapan strategi tempur, kolaborasi antara manusia dan mesin, serta efektivitas tempur peralatan tersebut.

"Tren pertama adalah kolaborasi berbasis kelompok (klaster) dengan biaya rendah. Melalui kolaborasi sejumlah unit berbiaya rendah dan sederhana, kita dapat melakukan serangan berskala besar yang presisi terhadap target-target bernilai tinggi. Tren kedua adalah serangan dengan dampak tambahan (kolateral) yang minim. Saat ini, operasi dilakukan dengan mengikuti ketentuan hukum dan batasan tertentu, sehingga kerusakan berskala besar tidak dimungkinkan. Oleh karena itu, bagaimana mencapai serangan presisi dengan dampak kolateral yang rendah menjadi fokus utama penelitian kami ke depan," ujar Kolonel Wu Husheng, salah satu peserta pameran dari Universitas Teknik Pasukan Polisi Bersenjata.

"Tren ketiga adalah kolaborasi manusia-mesin, yang berarti keterpaduan dan kerja sama yang efisien antara peralatan nirawak dengan pasukan khusus kita dalam menjalankan tugas di medan tempur. Ini juga merupakan salah satu tren pengembangan utama yang akan kami prioritaskan di masa depan," lanjutnya.

Selain pengembangan peralatan, transformasi model pengambilan keputusan yang didukung oleh algoritma kecerdasan buatan (AI) juga turut memengaruhi keseluruhan proses respons kontra-terorisme.

Zhao Chunyu, peserta pameran lainnya, memaparkan perubahan-perubahan baru yang dihadirkan oleh teknologi AI dalam operasi kontra-terorisme.

"Sistem ini bisa menjadi lebih cerdas. Dulu, manusia harus menentukan sendiri langkah apa yang perlu diambil dan keputusan apa yang harus dibuat selanjutnya. Namun, seiring dengan perkembangan kecerdasan buatan (AI), data dari masa lalu kini menjadi sumber data bagi AI saat ini, yang membantu kita dalam menentukan langkah atau keputusan berikutnya. Sistem ini dapat memberikan dukungan bagi kita dalam pengambilan keputusan," jelas Zhao.