BEIJING, Bharata Online - Sejenis lumut yang ditemukan di sebuah gurun di Daerah Otonom Uighur Xinjiang, Tiongkok barat laut, mampu bertahan hidup dalam kondisi yang dapat mematikan bagi sebagian besar tumbuhan, termasuk dehidrasi parah, radiasi intens, suhu dingin ekstrem, serta lingkungan luar angkasa yang menyerupai Mars.

Temuan ini menjadi salah satu kemajuan utama Ekspedisi Ilmiah Xinjiang Ketiga yang dirilis pada Sabtu (10/10) di Urumqi, ibu kota daerah otonom tersebut. Para ilmuwan menyebut lumut bernama ilmiah Syntrichia caninervis itu sebagai "tumbuhan gurun paling tangguh yang ditemukan hingga saat ini."

Bukti terbaru dari ketangguhan luar biasa lumut tersebut ditemukan melalui eksperimen di luar angkasa.

Pada Maret tahun ini, lumut Syntrichia caninervis kering dibawa ke luar angkasa menggunakan wahana antariksa kargo eksperimental milik Tiongkok, Qingzhou, untuk menjalani eksperimen pengaktifan kembali kehidupan di orbit.

Dalam kondisi mikrogravitasi dan radiasi kosmik, sistem penyiraman terkontrol hanya memberikan sedikit air kepada tanaman tersebut. Namun, lumut kering itu berhasil hidup kembali, berubah warna dari abu-abu kehitaman menjadi kuning kehijauan.

"Ini merupakan kasus pertama ketika tumbuhan utuh dibawa ke orbit rendah Bumi dan berhasil dihidupkan kembali," kata Li Xiaoshuang, peneliti di Institut Ekologi dan Geografi Xinjiang yang berada di bawah naungan Akademi Ilmu Pengetahuan Tiongkok.

Pengamatan lanjutan di orbit menunjukkan lumut tersebut terus beregenerasi dan tumbuh dengan baik, yang mengindikasikan potensinya sebagai bahan ideal untuk penelitian ilmu hayati di antariksa dalam, imbuh Li.

Pada 2024, Li, sebagai penulis utama, memublikasikan studi lumut tersebut di jurnal akademis, The Innovation, seraya menyatakan lumut ini sebagai tumbuhan perintis yang sangat menjanjikan untuk "kolonisasi lingkungan luar angkasa." 

Para peneliti dalam ekspedisi ilmiah Xinjiang menemukan tumbuhan tersebut di Gurun Gurbantunggut. Berdasarkan analisis laboratorium, mereka menemukan bahwa tumbuhan itu mampu bertahan meskipun lebih dari 98 persen kandungan air dalam selnya hilang akibat dehidrasi, tetap hidup setelah pembekuan cepat pada suhu minus 196 derajat Celsius, serta tahan terhadap radiasi gamma yang kuat.

Untuk memahami kemampuan lumut tersebut bertahan dalam kondisi ekstrem, para peneliti memperoleh data genetik berkualitas tinggi hingga tingkat kromosom dan menemukan sejumlah besar gen yang berkaitan dengan respons terhadap stres, yang mengungkap kode molekuler di balik toleransi spesies ini terhadap kondisi ekstrem.

Lumut tersebut dapat menjadi sumber materi genetik untuk meningkatkan kualitas tanaman pangan dan memulihkan lahan yang mengalami desertifikasi, kata Li.

Ekspedisi Ilmiah Xinjiang Ketiga diluncurkan pada 2021 oleh Kementerian Ilmu Pengetahuan dan Teknologi Tiongkok. Dua ekspedisi sebelumnya masing-masing dilaksanakan pada dekade 1950-an dan 1980-an.

Selama lima tahun terakhir, tim Ekspedisi Ilmiah Xinjiang Ketiga melakukan penelitian mengenai ekologi, lahan dan pertanian, keanekaragaman hayati dan sumber daya biologis, serta sumber daya mineral, energi, dan air di Xinjiang. [sumber Antara]