Wenzhou, Bharata Online - Kecerdasan buatan (AI) diterapkan secara luas pada berbagai bisnis, baik besar maupun kecil, di Kota Wenzhou, Provinsi Zhejiang, Tiongkok Timur, guna meningkatkan efisiensi produksi dan membantu menekan biaya produksi.

Wang Bo, seorang "penerjemah AI", mengatakan bahwa konsep "penerjemah AI" diperkenalkan pada awal tahun ini. Wenzhou secara tradisional digerakkan oleh sektor manufaktur konvensional, khususnya industri alas kaki dan pakaian.

Seiring langkah industri-industri tersebut menuju transformasi cerdas, banyak perusahaan kekurangan tenaga ahli yang dibutuhkan di bidang ini. Oleh karena itu, mereka mulai mendatangkan tenaga profesional dari universitas dan lembaga penelitian yang berpengalaman di bidang ini untuk berperan sebagai semacam "jembatan".

Istilah "penerjemah" adalah sebutan yang tepat. Ia tidak tahu cara mengelola pabrik. Ia berdiri di antara pengrajin veteran dan mesin—mengubah pengalaman selama puluhan tahun menjadi sesuatu yang dapat dipahami oleh mesin.

Selama puluhan tahun, identifikasi dan pemeriksaan kualitas kulit bergantung pada pengamatan mata para pengrajin yang berpengalaman.

Dan di situlah tepatnya timnya memutuskan untuk memulai. Upaya yang dilakukan tim Wang adalah mengubah pengalaman pengrajin tersebut menjadi data.

"Kami mengumpulkan gambar hasil pemeriksaan awal (dari petugas pengendalian mutu). Gambar-gambar tersebut diperbesar menggunakan mikroskop lalu disimpan. Kami mengubahnya menjadi sebuah dataset. Kami melatih model AI menggunakan data tersebut. Setelah pelatihan, kami mencatat fitur-fitur ini. Saat ada sampel kulit baru, kami mengambil fotonya. Sistem akan mengidentifikasinya dengan membandingkannya terhadap dataset. Kemudian, model tersebut mengidentifikasi jenis kulitnya, apakah itu kulit domba, sapi, atau babi," ujarnya.

Dulu, pengujian satu kelompok produk membutuhkan waktu setidaknya dua hari, mulai dari pengambilan sampel hingga pelaporan. Kini, AI dapat mengidentifikasi bahan kulit hanya dalam hitungan detik. Tim tersebut saat ini juga sedang mengembangkan sistem pendeteksi cacat berbasis AI.

Maitian Energy adalah perusahaan asal Wenzhou yang memproduksi inverter surya dan sistem penyimpanan energi. Sebagian besar produknya dipasarkan ke luar negeri. Perusahaan tersebut telah menghabiskan Token senilai sekitar 300.000 yuan (sekitar 800 juta rupiah) sejak Juni 2026.

"Industri energi baru menghadapi banyak perubahan dan peluang. Oleh karena itu, kami ingin merespons perubahan pasar dengan cepat. Tahun ini, kemampuan model bahasa berskala besar (LLM) telah meningkat pesat, baik di Tiongkok maupun di luar negeri. Jadi, kami mulai mengembangkan aplikasi berbasis AI. Beberapa pekerja lini produksi membuat alat mereka sendiri untuk memantau efisiensi produksi. Tim penelitian dan pengembangan (litbang) membuat alat lain untuk mengelola paten dan kemajuan proyek. Hasil aplikasi-aplikasi ini melampaui ekspektasi kami," ujar Liu Lianbo, Direktur Departemen Teknologi Informasi (TI) di Maitian Energy.

Namun, begitu AI masuk ke lingkungan pabrik, muncul pertanyaan lain: mampukah teknologi ini menjangkau usaha kecil yang bahkan tidak memiliki departemen TI?

Wenzhou dikenal sebagai tempat kelahiran ekonomi swasta Tiongkok. Slogan "barang dagangan kecil, pasar yang besar" telah membuat kota ini tersohor.

Di balik roda ekonomi tersebut, terdapat ribuan usaha kecil. Pan Linglong, pemilik toko KH Ajie Collection, adalah seorang wirausahawan dari generasi pasca-1995 yang kini menjadi sosok paling paham soal AI di tokonya.

"Kami sudah menggunakan AI sejak tahun lalu. Teknologi ini menghemat biaya perekrutan model sungguhan. Dulu, biayanya mencapai puluhan ribu yuan per tahun. Sekarang, kami cukup memotret pakaiannya, lalu AI akan memasangkannya pada model virtual. Prosesnya hanya butuh beberapa menit. Kami bisa memproses beberapa set pakaian dalam sehari," ungkapnya.

Namun, ia tidak menyadari bahwa "poin" dan kredit "keanggotaan" yang digunakannya sehari-hari memiliki sebutan lain dalam industri ini: Token.

Untuk membantu usaha kecil dan menengah (UKM) memanfaatkan AI tanpa biaya selangit, dan tanpa perlu pusing memikirkan cara kerjanya, Pusat Operasi Token Wilayah Tenggara (Southeast Token Operations Center) resmi dibuka di Wenzhou pada bulan Juli 2026.

Ini adalah pusat Token pertama yang ditunjuk secara resmi di Provinsi Zhejiang. Pusat ini berupaya membantu usaha kecil yang tidak memiliki tim teknis agar dapat memanfaatkan teknologi AI. Berdasarkan data pemerintah Wenzhou, konsumsi token oleh sektor manufaktur kota tersebut melonjak sebesar 2.261 persen secara kuartalan pada kuartal pertama tahun 2026.