Washington D.C., Bharata Online - Dalam kunjungan Presiden Tiongkok, Xi Jinping, ke Amerika Serikat pekan lalu, frasa "hubungan yang konstruktif dan memiliki stabilitas strategis" menjadi sorotan utama dalam pembicaraannya dengan Presiden AS, Donald Trump.

David Lampton, mantan Presiden Komite Nasional Hubungan Amerika Serikat-Tiongkok, mengatakan bahwa frasa tersebut berperan penting sebagai sebuah slogan, namun diperlukan langkah lebih lanjut untuk memperbaiki hubungan krusial antara kedua negara.

"Untuk mewujudkan hubungan yang stabil, menurut saya perlu ada pemahaman bersama mengenai apa tujuan dan sasaran—tujuan bersama—yang ingin dicapai. Saya rasa memiliki slogan itu sangat penting. Dan menurut saya, frasa ini memuat dua kata yang sangat bagus: hubungan yang 'konstruktif' dan 'strategis'. Jadi, menurut saya itu adalah kou hao atau slogan umum yang baik. Namun, terus terang, saya rasa kita belum sepenuhnya menangani berbagai persoalan yang ada. Kita memang sudah sedikit membahasnya, tetapi belum banyak kemajuan yang dicapai terkait isu-isu yang sebenarnya dapat membuat hubungan kita lebih meyakinkan secara strategis bagi masing-masing negara dan lebih konstruktif," ujarnya.

Terlepas dari berbagai perbedaan yang ada, Lampton mengatakan Tiongkok dan AS dapat menemukan kepentingan bersama dalam berbagai bidang, dengan penanganan isu-isu titik rawan (hotspot) global sebagai salah satu prioritasnya. Ia menambahkan bahwa penyelesaian masalah-masalah ini bukan semata-mata demi kepentingan salah satu pihak, melainkan memberikan manfaat bagi kedua belah pihak dalam kerangka yang lebih luas.

"Tentu saja kita menghadapi berbagai persoalan terkait keamanan dan militer, dan kedua belah pihak memiliki kekhawatiran masing-masing di ranah tersebut, namun saya rasa kita memiliki sejumlah kepentingan bersama di sana. Jadi, aspek militer jelas merupakan salah satunya. Begitu pula aspek ekonomi dan perdagangan, serta pengelolaan keuangan global. Selain itu, aspek militer dan ekonomi juga saling berkaitan. Kita sama-sama perlu mengelola situasi di titik-titik rawan—baik itu di kawasan Laut Merah maupun Selat Hormuz. Kita perlu menyelesaikan masalah-masalah ini bukan sebagai bentuk bantuan atau kebaikan bagi satu sama lain, melainkan demi kepentingan sistem yang lebih luas yang menguntungkan kita berdua. Jadi, menurut saya, langkah yang perlu kita ambil saat ini adalah beralih dari sekadar slogan menuju pelaksanaan hal-hal yang semakin penting dalam ranah tersebut," jelasnya.

Presiden Xi melakukan kunjungan kenegaraan ke Amerika Serikat pada tanggal 23-25 ​​September 2026 atas undangan Presiden Donald Trump. Ini merupakan kunjungan kenegaraan pertama Xi ke negara tersebut dalam kurun waktu 11 tahun, menyusul kunjungan kenegaraan Trump ke Tiongkok pada bulan Mei lalu.

Kedua pemimpin mencapai serangkaian kesepakatan yang mencakup berbagai bidang selama kunjungan tersebut, termasuk kesepakatan menyeluruh untuk membangun hubungan konstruktif yang berlandaskan stabilitas strategis serta didasarkan pada rasa saling menghormati, keadilan, dan prinsip timbal balik.