Xi'an, Bharata Online - Kunjungan terbaru Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, ke Amerika Serikat kemungkinan besar tidak akan memperbaiki hubungan bilateral yang tegang karena perbedaan signifikan mengenai Timur Tengah masih tetap ada, menurut seorang pakar urusan regional asal Tiongkok.

Presiden AS, Donald Trump, bertemu dengan Netanyahu di Gedung Putih pada hari Selasa (28/7) dalam pertemuan tatap muka pertama mereka sejak Amerika Serikat dan Israel meluncurkan operasi militer gabungan terhadap Iran pada 28 Februari 2026.

Menurut pernyataan yang dirilis oleh kedua pemerintah setelah pertemuan tersebut, pertemuan tertutup itu berlangsung hampir 90 menit dan terutama berfokus pada Iran dan program nuklirnya.

Wang Jin, seorang Profesor di Institut Studi Timur Tengah di Universitas Barat Laut Tiongkok, menekankan dalam sebuah wawancara dengan China Central Television (CCTV) bahwa Netanyahu telah menghadapi penolakan tajam dari sekutu terdekatnya terkait kebijakan Timur Tengah, sementara juga menghadapi posisi politik yang genting di dalam negeri.

"Netanyahu berharap dapat memperbaiki hubungannya dengan pemimpin AS dan menunjukkan niat baik antara AS dan Israel. Di bidang domestik, ia menghadapi tantangan politik yang besar. Berdasarkan agenda politik saat ini, Israel kemungkinan akan mengadakan pemilihan umum baru paling cepat September, dan paling lambat akhir Oktober. Jajak pendapat saat ini menunjukkan dukungan Netanyahu berada pada tingkat rendah, dan kritik publik semakin meningkat. Dalam situasi ini, Netanyahu sangat perlu meningkatkan prospek pemilu dan dukungan publiknya. Jadi kunjungan ini memberinya kesempatan yang sangat penting untuk menunjukkan sikap yang kuat dan doktrin keamanan intinya," ujar Wang.

Meskipun pernyataan dari kedua pihak menggambarkan pertemuan tersebut sebagai "positif dan produktif", Wang mengatakan perselisihan mendasar antara kedua negara kemungkinan besar tidak akan terselesaikan.

"Meskipun Netanyahu berupaya memperbaiki hubungan Israel dengan AS, saya pikir perselisihan mereka masih sulit disembunyikan. Di satu sisi, konflik utama antara kedua negara adalah perbedaan signifikan mereka mengenai Iran. Kedua pihak mengambil sikap agresif dan mengeluarkan ancaman terhadap Iran, tetapi tujuan mereka berbeda. Israel ingin melemahkan Iran semaksimal mungkin. Secara khusus, Israel mengikuti perkembangan isu nuklir Iran dengan saksama dan dengan tegas menentang pengembangan kemampuan nuklir Iran, sedangkan AS melihat tekanan militer sebagai alat untuk mencapai tujuan politik, dan serangan militernya bertujuan untuk memaksa Teheran kembali ke meja perundingan untuk mencapai kesepakatan dan konsesi yang dapat diterima oleh AS dan Iran. Oleh karena itu, kedua pihak memiliki posisi yang sangat berbeda," jelas Wang.

Hubungan semakin rumit karena aksi militer Israel yang terus berlanjut di Gaza dan Lebanon.

"Mengenai isu Palestina dan Lebanon, AS berharap Israel akan menahan diri dalam kebijakan Timur Tengahnya secara keseluruhan, sementara Israel tidak dapat membuat konsesi karena dinamika politik domestik. Oleh karena itu, meskipun AS dan Israel akan mengadakan serangkaian pembicaraan, keretakan yang dalam kemungkinan besar tidak akan dapat diatasi atau disembunyikan," kata profesor tersebut.