Arktik, Bharata Online - Setelah lebih dari tiga bulan mengarungi lautan, para anggota ekspedisi Samudra Arktik ke-16 Tiongkok bersama-sama menciptakan sebuah lukisan yang menggambarkan keberhasilan sekaligus tantangan dalam penelitian ilmiah di wilayah kutub.

Ekspedisi yang diselenggarakan oleh Kementerian Sumber Daya Alam Tiongkok ini mengerahkan empat kapal, Xuelong, Xuelong 2, Jidi, dan Tansuo 3, untuk mempelajari perubahan lingkungan ekstrem di Arktik di tengah pemanasan global yang kian cepat. Pada tanggal 29 September 2026, Xuelong dan Xuelong 2 kembali ke Shanghai setelah menyelesaikan misi mereka.

Selama pelayaran, reporter China Media Group (CMG) yang berada di atas kapal Xuelong mengajak hampir 100 awak kapal untuk berkolaborasi melukis di atas kanvas sembari berbagi pengalaman mereka. Lukisan tersebut menggambarkan kesulitan dan tantangan yang mereka hadapi, kehormatan serta harapan terkait penelitian mereka, dan sosok-sosok yang berdedikasi pada ilmu pengetahuan.

Sebelum satu pun awak kapal menyentuh kuas, wilayah Arktik telah lebih dulu melukis latar belakangnya melalui cuaca ekstrem. Angin kencang, arus deras, dan lingkungan yang keras menjadi tantangan besar bagi para peneliti.

"Setelah berada di luar selama sekitar lima atau sepuluh menit, tangan kami sudah membeku hingga memerah. Saat kami berada di lembah gelombang (di atas kapal), rasanya seolah-olah ombak akan menerjang tepat di atas kepala kami," kenang Zhu Chengwei, salah satu anggota ekspedisi.

Terlepas dari segala kesulitan tersebut, para peneliti berhasil menguji dan menggunakan peralatan observasi laut canggih buatan dalam negeri dalam penelitian kutub, salah satu momen paling membanggakan yang mereka abadikan di atas kanvas.

Qin Chuan, Kapten Tim Kelautan Xuelong, memilih untuk melukis pelampung pemantau buatan dalam negeri Tiongkok.

"Ini adalah pelampung Argo yang kami luncurkan, yang secara otomatis memantau profil lautan. Alat ini sangat penting untuk memahami kondisi dasar lingkungan laut, dan ini buatan Tiongkok," ujarnya.

Xie Haixiang, Direktur Laboratorium Xuelong, membuat sketsa peralatan penelitian mendasar yang digunakan dalam perjalanan tersebut.

"Saya akan menggambar CTD (instrumen pengukur Konduktivitas, Suhu, dan Kedalaman). CTD adalah peralatan paling penting untuk survei kelautan, yang menyediakan data dasar serta sampel air," katanya.

"Hanya dengan membawa sendiri peralatan ke atas lapisan es laut Arktik dan menurunkan instrumen-instrumen tersebut, Anda bisa mendapatkan apa yang dicari. Sebagai contoh, kami mengambil sedikit air laut dan menganalisis kandungannya untuk memahami perubahan yang terjadi dari tahun ke tahun. Pemanasan global perlu dipahami dari berbagai dimensi," kenang Peneliti Zhu.

Di luar lukisan itu sendiri, hal yang jauh lebih mencolok adalah momen-momen penuh dedikasi: anggota senior yang memandu anggota baru melintasi hamparan es, sekelompok orang yang tetap bertahan di tengah badai angin berkekuatan tingkat 8 dan hujan salju lebat, serta 30 orang yang bahu-membahu secara estafet untuk mengambil kembali peralatan yang terjebak di dalam es.

Elemen terpenting yang melampaui segala catatan atau gambar dalam lukisan tersebut adalah kelompok anggota ekspedisi yang pantang menyerah menghadapi kesulitan.

"Setiap kali saya memikirkan semangat penjelajahan kutub, tak terhitung banyaknya bayangan sosok-sosok yang berdiri di garis depan akan terlintas di benak saya," ujar Zhu.

"Apa yang kami lakukan hari ini akan bermanfaat bagi generasi mendatang. Meskipun kami melakukan sesuatu yang mungkin tampak sangat sepele, saya yakin hal itu pasti akan terbukti bernilai di masa depan," kata Ning Wenfeng, anggota tim lainnya.