Beijing, Bharata Online - Zhang Lu, Komandan Misi Berawak Shenzhou-21 sekaligus pemegang rekor aktivitas di luar wahana antariksa (extravehicular activity) terbanyak bagi astronaut Tiongkok, berbicara mengenai tugas-tugas paling menantang yang dihadapinya di luar angkasa serta perannya dalam meneruskan tongkat estafet kepada generasi baru penjelajah antariksa dalam sebuah wawancara baru-baru ini.

Pada 31 Oktober 2025, pesawat antariksa Shenzhou-21 meluncur dari Pusat Peluncuran Satelit Jiuquan di Tiongkok Barat Laut, membawa astronaut Zhang Lu, Wu Fei, dan Zhang Hongzhang.

Awalnya, Shenzhou-21 diluncurkan untuk memfasilitasi pergantian awak dengan misi Shenzhou-20. Namun, jendela observasi pada kapsul kembali Shenzhou-20 mengalami kerusakan akibat dugaan benturan dengan sampah antariksa, sehingga dianggap tidak aman untuk melakukan penerbangan kembali ke Bumi (re-entry).

Akibatnya, awak Shenzhou-20 kembali ke Bumi dengan menumpang Shenzhou-21. Stasiun antariksa Tiongkok kemudian hanya menyisakan kapsul Shenzhou-20 yang rusak dan pesawat kargo Tianzhou-9. Awak Shenzhou-21 harus menunggu selama 11 hari sebelum peluncuran darurat Shenzhou-22 dilakukan.

Dalam wawancara dengan China Central Television (CCTV) di Beijing, Zhang mengatakan bahwa awak telah menyiapkan rencana darurat, namun tanpa adanya pesawat antariksa cadangan, setiap tugas harus dilaksanakan dengan ekstra hati-hati.

"Jika terjadi keadaan darurat, kami memiliki strategi untuk mengevakuasi diri ke modul laboratorium Wentian atau ke modul yang terisolasi. Tanpa pesawat antariksa sebagai cadangan dan pendukung, seluruh pekerjaan kami harus dilakukan dengan sangat hati-hati—bahkan dengan tingkat kehati-hatian yang lebih tinggi lagi. Kami tidak boleh mengalami masalah tambahan apa pun; jika tidak, hal itu akan menambah beban bagi tim di Bumi serta meningkatkan risiko bagi kami sendiri," ujarnya.

Pada 9 Desember 2025, Zhang menaiki lengan robotik di luar stasiun antariksa untuk melakukan pemeriksaan jarak dekat terhadap jendela dan badan pesawat Shenzhou-20.

"Saya membawa kamera dan menempatkannya di platform operasi lengan robotik, sekitar dua meter dari pesawat antariksa, untuk mengambil foto. Saya berpikir bahwa dengan mengambil lebih banyak foto dari berbagai sudut, detail objek dapat diamati dengan lebih jelas," kata Zhang.

Ini adalah kali pertama stasiun luar angkasa melakukan aktivitas di luar wahana (EVA) saat dua wahana antariksa berawak sedang berlabuh, sehingga menuntut perencanaan jalur dan keamanan pergerakan lengan robotik yang lebih tinggi.

Mengatur posisi tubuh di luar wahana antariksa merupakan hal yang sulit, dan mencapai posisi yang tepat sering kali bergantung pada koordinasi antara pusat kendali di Bumi dan lengan robotik, sebagaimana dijelaskan oleh Zhang.

"Di luar angkasa, mengubah posisi tubuh sebenarnya sangat sulit karena kaki orang yang berada di lengan robotik sudah terpasang tetap, sehingga sulit untuk mengubah arah kiri-kanan atau kemiringan (pitch). Untuk menghemat waktu, saya mungkin bergerak naik-turun atau ke kiri-kanan secara mandiri, namun sebenarnya rentang gerakan tersebut sangat sulit bagi saya," ujarnya.

Karena Zhang mengenakan sarung tangan bertekanan udara saat memotret di luar wahana, gerakannya jauh lebih terbatas dibandingkan saat berada di Bumi. Kamera juga memerlukan berbagai langkah perlindungan saat berada di luar wahana, dan beberapa operasi harus dikendalikan dari Bumi, yang membuat kegiatan fotografi luar angkasa jauh lebih sulit dibandingkan di Bumi.

Setelah menyelesaikan inspeksi dan pemotretan wahana antariksa, Zhang tiba di bagian luar modul inti Tianhe dengan bantuan lengan robotik pada pukul 15.21 dan mulai memasang perangkat pelindung dari sampah antariksa untuk stasiun tersebut.

Pemasangan panel pelindung tersebut juga menghadirkan tantangan yang cukup besar.

"Sebenarnya, proses pemasangannya mungkin bukan masalah tersulit. Cara memasang panel pelindung pada platform kerja saya dan kemudian cara melepasnya mungkin menjadi masalah besar. Panel pelindung kami bukanlah papan dengan bentuk seragam. Setiap panel berbeda-beda, dengan beragam bentuk, termasuk persegi, persegi panjang, belah ketupat, trapesium sama kaki, bahkan bentuk bergelombang. Platform kerja kami, seperti yang Anda ketahui, hanya memiliki dua penyangga untuk penempatan dan penguncian. Setiap kali keluar, saya harus membawa setidaknya empat, lima, atau bahkan enam panel. Selain pemasangan, saya harus mencegah panel-panel ini hanyut terbawa arus; jika panel tidak terpasang dengan kuat, atau jika panel tersebut terbentur saat saya memasang panel berikutnya lalu hanyut, itu akan menjadi masalah yang sangat besar," jelas Zhang.

Mulai dari masa persiapan selama 12 tahun hingga penerbangan antariksa pertamanya, dan kemudian saat kembali ke luar angkasa dua tahun kemudian, Zhang, anggota kelompok astronaut kedua Tiongkok, memimpin dua astronaut dari kelompok ketiga, Wu Fei dan Zhang Hongzhang, dalam misi kembali ke luar angkasa sebagai komandan misi.

Sejak dimulainya misi stasiun luar angkasa Tiongkok, telah dilakukan 27 kegiatan di luar wahana antariksa (extravehicular activity), dan Zhang berpartisipasi dalam tujuh di antaranya, sekaligus mencetak rekor baru sebagai astronaut Tiongkok dengan jumlah kegiatan berjalan di luar angkasa (spacewalk) terbanyak.

Saat merenungkan perannya sebagai komandan, Zhang mengatakan bahwa misinya adalah membantu pengembangan generasi penerus.

"Bagi saya, selama misi Shenzhou-15, komandan saya Fei Junlong membimbing saya; beliau mengajak saya keluar dari pesawat antariksa dan memberikan pemahaman yang lebih mendalam mengenai aktivitas berjalan di luar wahana antariksa (spacewalk). Kini saya sudah berpengalaman. Kali ini, sebagai komandan, tugas saya adalah memimpin Wu Fei untuk melakukan aktivitas di luar wahana, agar melalui tiga kali kegiatan tersebut, ia pun bisa menjadi sosok yang berpengalaman. Ketiga aktivitas spacewalk yang saya lakukan sebelumnya bertujuan memasang panel pelindung bagi stasiun antariksa, demi menjaga dan melindungi stasiun antariksa kita dengan lebih baik. Mengingat stasiun antariksa adalah rumah kita di angkasa, tempat kita bekerja dan tinggal, kita perlu meneruskan estafet tugas dari satu misi ke misi berikutnya. Di masa depan, panel surya kita mungkin perlu diganti atau dipindahkan. Seandainya suatu hari nanti saya bisa keluar dan mengganti seluruh panel surya—ibarat memegang daun pisang raksasa di luar pesawat antariksa, betapa kerennya hal itu," paparnya.