Kairo, Bharata Online - Forum Modernisasi Global South tahun 2026 diselenggarakan di Kairo pada hari Rabu (30/9), dengan para peserta menyerukan pemanfaatan kecerdasan buatan (AI) secara efektif.

Lebih dari 100 pakar dan akademisi dari hampir 30 negara dan wilayah menghadiri forum tersebut, yang merupakan inisiatif bersama antara lembaga-lembaga Tiongkok dan Mesir.

Mengusung tema "Kebangkitan Kecerdasan Buatan: Peluang dan Tantangan bagi Modernisasi di Global South", forum ini menghadirkan seminar dan diskusi meja bundar yang membahas bagaimana negara-negara Global South dapat menjadi produsen dan inovator di bidang AI.

Para peserta menyatakan bahwa inovasi dalam teknologi AI menghadirkan peluang besar sekaligus menimbulkan tantangan tata kelola.

"AI bagaikan pedang bermata dua. Bagi negara-negara berkembang, AI merupakan peluang pembangunan yang belum pernah ada sebelumnya, namun juga menghadirkan tantangan yang belum pernah terjadi sebelumnya. Secara khusus, AI tidak hanya meningkatkan produktivitas tenaga kerja dan produktivitas seluruh faktor produksi, tetapi juga membantu memecahkan berbagai masalah pembangunan dan hambatan pertumbuhan," ujar Cai Feng, Anggota Komite Akademik Akademi Ilmu Sosial Tiongkok.

Tema forum ini terinspirasi oleh seruan Presiden Tiongkok, Xi Jinping, agar AI diperuntukkan bagi semua pihak, bukan dikuasai oleh segelintir pihak saja.

"Jika kemampuan kecerdasan buatan yang canggih hanya terkonsentrasi pada sejumlah negara dan perusahaan tertentu, teknologi tersebut dapat berubah dari sarana pembangunan menjadi sumber hegemoni baru atas pihak lain. Dalam konteks ini, saya ingin menyampaikan apresiasi yang mendalam kepada Tiongkok, yang telah banyak berkontribusi bagi negara-negara Selatan, dengan Tiongkok juga menjadi bagian di dalamnya, melalui berbagai sarana keuangan, geo-ekonomi, teknis, komersial, dan kelembagaan," kata Ezzat Saad, Ketua Dewan Urusan Luar Negeri Mesir.

Para peserta mengapresiasi upaya Tiongkok dalam memperluas kerja sama AI dengan membuka pusat-pusat kegiatan di beberapa negara Selatan serta menyediakan 5.000 kesempatan pelatihan dan seminar AI bagi negara-negara berkembang dalam kurun waktu lima tahun ke depan.

"Tiongkok telah berperan sangat penting dalam menyediakan berbagai peluang dan sumber daya tersebut. Banyak orang cerdas dan akademisi di benua ini tidak dapat mengakses peluang tertentu, mungkin karena mereka tidak memiliki dana yang memadai. Ketika tersedia wadah seperti ini yang mampu melakukan identifikasi dan pelatihan, akan tercipta efek domino: satu generasi terlatih, lalu mereka mulai menyebarluaskan pengetahuan tersebut untuk membantu orang lain," ujar Oyebanke Abejirin, Pejabat Urusan Ekonomi di Komisi Ekonomi PBB untuk Afrika.