Shenzhen, Bharata Online - Seorang profesional muda asal Amerika Serikat yang bekerja di Tiongkok berbagi kesannya mengenai kehidupan di negara tersebut, seraya mengungkapkan harapan agar Tiongkok dan Amerika Serikat dapat menjalin hubungan yang lebih erat serta bekerja sama demi mewujudkan dunia yang lebih baik.
Kris, Manajer Media Sosial yang bekerja di Shenzhen, pusat teknologi di Provinsi Guangdong, Tiongkok Selatan, mengatakan bahwa ia datang ke Tiongkok dengan pikiran terbuka, dengan harapan dapat mempelajari negara dan budaya yang berbeda.
"Menurut saya, salah satu alasan saya datang ke Tiongkok bukan hanya karena peluang kerja atau untuk mengembangkan keterampilan, tetapi juga untuk melihat seperti apa gaya hidup yang berbeda. Saya sudah sedikit tahu tentang Tiongkok sebelum datang ke sini, dan saya merasa negara ini benar-benar banyak berubah. Kemajuannya sangat pesat," ujarnya dalam sebuah wawancara dengan China Global Television Network (CGTN).
Sebelum berangkat ke Tiongkok, Kris membayangkan sebuah negara yang tradisional, namun setelah tiba, ia justru menemukan kota-kota modern, teknologi canggih, dan gaya hidup yang sangat praktis.
"Saya sempat mencari tahu sedikit tentang kondisi Tiongkok sebelum datang ke sini, namun saya masih memiliki anggapan bahwa negara ini sangat kuno dan masih kental dengan cara hidup lama. Namun, setelah tiba di Tiongkok, saya melihat banyak kota dan teknologi, serta kemewahan. Semuanya terasa sangat baru. Saya sempat menduga mungkin hanya sebagian orang yang bisa berbahasa Inggris atau mengetahui peristiwa di luar Tiongkok. Namun kenyataannya, sebagian besar orang yang saya ajak bicara memiliki kemampuan berbahasa Inggris yang memadai dan pemahaman yang cukup baik mengenai kehidupan di luar Tiongkok. Bahkan, sering kali teman-teman Tiongkok saya mengetahui berita dari Amerika lebih dulu daripada saya sendiri. Sepengamatan saya, Tiongkok sangat terbuka terhadap dunia internasional," ungkapnya.
Hal yang paling membuatnya terkesan adalah efisiensi sistem yang saling terintegrasi, dengan hampir semua kebutuhan transaksinya dapat dipenuhi melalui satu aplikasi serbaguna (super-app).
"Menurut saya, hal yang paling berkesan adalah efisiensinya. Ini bukan soal satu teknologi tertentu saja, melainkan bagaimana semua sistem bekerja sama dengan sangat cepat dan praktis. Alipay saya memuat kode QR, dan dari aplikasi Alipay itu, saya juga bisa memesan tiket kereta cepat. Saya bisa memesan hotel, mengatur layanan seluler untuk penggunaan di luar negeri, dan semuanya sangat praktis karena aplikasi itu sudah menyimpan informasi kartu serta paspor saya. Jadi, saya bisa melakukan semua itu dalam waktu 10 menit, sangat cepat dan mudah, karena informasinya terintegrasi di seluruh sistem. Sistem-sistem tersebut tidak berdiri sendiri, melainkan saling terhubung," ujarnya.
Selama berada di Shenzhen, ia juga merasakan kehangatan dari warga biasa yang tampak tulus ingin menjalin hubungan dengannya.
"Secara keseluruhan, pengalaman saya di Tiongkok terasa sangat ramah dan hangat. Namun, jika harus memilih satu hal khusus, saya sangat tersentuh melihat pengelola apartemen saya sedang belajar bahasa Inggris. Kemampuan bahasa Mandarin saya cukup untuk kebutuhan sehari-hari, tetapi saya merasa sangat terharu dan senang melihat pengelola apartemen saya berupaya mempelajari bahasa tersebut agar bisa berkomunikasi langsung dengan saya," ungkapnya.
Pengalaman-pengalaman tak terduga ini telah mengubah cara pandang Kris terhadap hubungan AS-Tiongkok. Ia meyakini bahwa landasan yang kuat bagi kemitraan yang produktif dapat dibangun mulai dari interaksi antarwarga.
"Menurut saya, di kalangan masyarakat umum, kita melihat adanya hubungan kerja yang sangat erat antara Tiongkok dan Amerika. Khususnya bagi generasi muda, mereka bisa melihat bahwa Tiongkok saat ini bukanlah Tiongkok yang digambarkan oleh orang tua kita dulu. Saya rasa, untuk melangkah maju menuju kerja sama yang lebih kuat, penting bagi kita untuk menjembatani kesenjangan tersebut, misalnya melalui media sosial, agar bisa melihat wajah Tiongkok yang sesungguhnya. Sebaliknya, masyarakat Tiongkok juga bisa melihat seperti apa Amerika itu. Kita bisa menjembatani kesenjangan budaya tersebut dengan saling berinteraksi serta membangun pemahaman dan hubungan bisnis yang lebih kuat bersama-sama," ujar perempuan muda asal Amerika tersebut.
"Saya berharap Amerika dan Tiongkok dapat menjalin hubungan yang lebih kuat ke depannya. Menurut saya, Amerika mungkin kini berada pada titik di mana mereka memandang Tiongkok sebagai pesaing, hal yang banyak kita lihat melalui berbagai regulasi dan larangan pasar, namun saya berharap Amerika tidak lagi melihat Tiongkok sebagai pesaing, melainkan sebagai mitra. Saya rasa ada banyak kontribusi yang dapat diberikan oleh kedua negara untuk bersama-sama memajukan dunia," ujarnya.