Kazan, Bharata Online - Danau Kaban merupakan tengara sejarah dan alam yang penting, serta sebuah catatan sejarah hidup bagi kota Kazan. Danau ini terdiri dari sistem tiga perairan yang saling terhubung, membentang sekitar 7 kilometer dengan kedalaman mencapai 19 meter.
Suasana yang tenang dan damai, udara segar, serta keragaman flora dan fauna, termasuk spesies yang terdaftar dalam Red Book (daftar spesies langka), menandakan sebuah ekosistem yang sehat. Namun, kondisi ini tidak selalu terjadi sebelumnya.
Selama beberapa dekade, pembuangan limbah dan urbanisasi telah mengubah Danau Kaban menjadi salah satu perairan paling tercemar di wilayah republik ini. Pada tahun 2015, Rusia memutuskan untuk memberikan kehidupan baru bagi danau tersebut, dengan 10 perusahaan internasional berpartisipasi dalam kompetisi desain revitalisasinya.
"Sebuah konsorsium Rusia-Tiongkok memenangkan kompetisi tersebut dengan mengajukan pendekatan yang tak terduga untuk pembangunan kembali kawasan ini. Kami terbiasa dengan gagasan penggunaan batu paving dan beton, material yang dipilih karena ketahanan dan keawetannya bagi warga kami. Sebaliknya, mereka justru mengusulkan desain yang sangat memperhatikan aspek ekologis, memiliki keterhubungan erat dengan danau itu sendiri, serta selaras dengan filosofi pengelolaan lingkungan dan pelestarian kota kami," ujar Wali Kota Kazan, Ilsur Metshin.
Proyek ini didasarkan pada konsep perencanaan kota "kota spons" (sponge city) dari Tiongkok. Pendekatan ini melibatkan pengumpulan, pemurnian, dan pemanfaatan air hujan serta air banjir melalui infrastruktur "hijau", alih-alih sekadar mengalirkannya dengan cepat melalui saluran drainase beton dan saluran limpasan air.
Saat ini, Danau Kaban dilengkapi dengan tujuh sistem pemurnian hayati (phyto-purification) bertingkat dan 10.000 tanaman baru yang masing-masing memiliki peran khusus dalam ekosistem.
"Ada tanaman luar biasa, anggota keluarga rumput-rumputan yang dikenal sebagai Miscanthus Sinensis, yang memberikan dampak positif terhadap kualitas air dan tanah. Akarnya menembus hingga kedalaman dua setengah meter, mengolah garam dan logam berat, serta secara bertahap memperbaiki kualitas tanah dan air dari tahun ke tahun," ungkap Nailya Nagumanova, Direktur Institut Pengembangan Perkotaan Republik Tatarstan, Federasi Rusia.
"Proyek ini sangat mengutamakan ekologi dan pendidikan lingkungan. Dampaknya, perspektif masyarakat mengenai ekologi perkotaan pun berubah. Proses ekologis yang berlangsung di sini telah menjadikan lokasi tersebut sebagai tengara baru bagi Kazan," ujar Ilyas Gilmanov, Kepala Arsitek untuk Tahap Ketiga Proyek Pengendalian Banjir Ramah Lingkungan dan Penataan Lanskap Danau Kaban.
Proyek ini tidak hanya meningkatkan keanekaragaman hayati ekosistem danau, tetapi juga memacu pembangunan di kawasan sekitarnya. Kawasan hunian kelas atas sedang dibangun dan pabrik-pabrik dipugar di sekitar perairan yang telah direvitalisasi tersebut. Area tepi air ini menarik lebih dari satu juta wisatawan setiap tahunnya.
Proyek semacam ini, dengan kota memandang banjir sebagai sumber daya dan bukan musuh, serta mengubah badan air menjadi ruang publik alih-alih sekadar struktur rekayasa teknis, telah menjadi "standar emas" di Tiongkok.
Taman Hutan Liuxiang di sepanjang Sungai Liangshuihe merupakan destinasi baru yang populer di Beijing, menawarkan daya tarik yang dapat dinikmati oleh siapa saja.
Sungai Liangshuihe atau "Sungai Dingin" di Beijing telah dimanfaatkan oleh masyarakat selama lebih dari seribu tahun. Saat kota berkembang pesat, sungai ini sempat berubah menjadi saluran pembuangan terbuka; orang yang melintas biasanya akan menutup hidung dan bergegas pergi. Kini, situasinya jauh berbeda: airnya bersih, dan taman hutan di tepi sungai telah meningkatkan kualitas hidup warga setempat, menjadikannya tempat bersantai favorit bagi penduduk Beijing.
"Saya tinggal di dekat sini dan menyaksikan dari balkon saat endapan lumpur dikeruk secara bertahap. Sekarang banyak warga kota yang datang ke sini. Bagi penduduk setempat, terutama mereka yang tinggal tepat di sebelahnya, ini adalah manfaat yang luar biasa," kata Ren Zhijie, seorang warga Beijing.
Infrastruktur taman hutan itu mencakup jalur sepeda sepanjang tiga kilometer, lintasan lari sepanjang 3,5 kilometer, dan jalur pejalan kaki (boardwalk) tepi air sepanjang lebih dari 2,5 kilometer. Taman ini juga dilengkapi dengan area bagi pemilik hewan peliharaan, taman skateboard, dan taman bermain anak. Lokasi ini secara rutin menjadi tempat penyelenggaraan berbagai pameran dan festival.
"Seiring berkembangnya kota, permintaan masyarakat akan ruang publik yang ramah lingkungan pun turut meningkat. Bagaimana kita bisa menjadikan taman lebih nyaman dan bermanfaat? Solusi kami adalah menciptakan lingkungan yang nyaman dengan jalur akses tanpa hambatan serta beragam zona rekreasi," ujar Wu Xiaodan, Direktur Cabang ke-6 Perusahaan Lanskap Turenscape.
Ini adalah contoh penerapan konsep "kota spons". Saat musim hujan, kawasan ini menampung air banjir. Jika debit air berlebih, pintu air akan dibuka untuk mengalihkan air ke area padang rumput banjir buatan. Dalam kondisi normal, air dialirkan dari sungai, dimurnikan melalui lahan basah filtrasi bawah tanah, lalu disalurkan kembali ke area yang sama, mengubahnya menjadi ruang rekreasi berbasis air. Pada musim dingin, lokasi ini berubah menjadi gelanggang es dan pusat aktivitas musim dingin.
Proyek perbaikan sungai di Beijing dan proyek danau di Kazan sama-sama dirancang oleh perusahaan lanskap asal Tiongkok tersebut. Keduanya mengusung konsep yang sama: mengubah sistem perairan menjadi infrastruktur ekologis yang berfungsi penuh untuk pengendalian banjir sekaligus sebagai ruang publik yang nyaman.
"Tahap pertama proyek Danau Kaban kini telah rampung. Area yang dicakup relatif kecil; ini baru permulaan. Kami telah bekerja sama erat dengan tim Rusia sejak tahun 2018. Peran utama kami adalah sebagai konsultan dalam proses pengembangan keseluruhan rangkaian danau tersebut," tegas Yu Wenze, Wakil Direktur Cabang ke-3 perusahaan lanskap Turenscape.
Lebih dari 3,5 miliar rubel (sekitar 747 miliar rupiah) telah digelontorkan untuk penataan ulang kawasan Danau Kaban di Kazan. Tahap renovasi jalan-jalan di sekitarnya dijadwalkan akan dimulai tahun depan, dengan target penyelesaian proyek dalam kurun waktu sepuluh tahun. Mendekatkan masyarakat dengan alam merupakan visi bersama yang tengah diwujudkan oleh Rusia dan Tiongkok, mulai dari Danau Kaban di Kazan hingga Sungai Liangshuihe di Beijing, kedua belah pihak secara bertahap merealisasikan visi hidup berdampingan secara harmonis antara kawasan perkotaan dan perairan.