Botswana, Bharata Online - Menurut seorang pejabat Botswana, negara tersebut berharap dapat memperdalam kerja sama dengan Tiongkok di bidang digital dan teknologi guna mempercepat serta mendiversifikasi transformasi ekonominya, sekaligus mengejar ketertinggalan dari negara-negara dengan ekonomi yang lebih maju.
Atas undangan Presiden Tiongkok, Xi Jinping, Presiden Republik Botswana, Duma Gideon Boko, melakukan kunjungan kenegaraan ke Tiongkok pada tanggal 12 hingga 17 Oktober 2026. Boko menyatakan bahwa kedua belah pihak akan berfokus pada perluasan kerja sama di bidang perdagangan, ekonomi digital, energi terbarukan, dan sektor lainnya.
Dalam wawancara dengan China Global Television Network (CGTN) menjelang kunjungan Boko, Shawn Ntlhaile, Asisten Menteri Komunikasi dan Inovasi Botswana, memaparkan harapannya terkait kerja sama antara kedua negara.
Ia mencatat bahwa Botswana mendukung seruan penting yang disampaikan Xi dalam pidato utamanya di Konferensi AI Dunia (World AI Conference) di Shanghai pada bulan Juli lalu, ketika Xi menyerukan kerja sama internasional yang luas untuk membantu negara-negara Global Selatan menjembatani kesenjangan AI dan digital.
Ntlhaile mengatakan bahwa peningkatan akses terhadap infrastruktur digital dapat membantu Botswana dan negara-negara Afrika lainnya mempersempit kesenjangan teknologi, serta meyakini bahwa kolaborasi yang lebih erat dengan Tiongkok akan menyediakan sumber daya yang diperlukan bagi negaranya untuk terus maju.
"Kami yakin bahwa seruan Presiden Xi Jinping agar dunia bersatu dan menyediakan infrastruktur digital sangatlah penting bagi pembangunan, sehingga Afrika, dan khususnya negara-negara seperti Botswana yang tertinggal dalam hal teknologi, bisa mendapatkan kesempatan untuk melakukan lompatan kemajuan. Kami juga terinspirasi oleh lompatan kemajuan Tiongkok; dalam kurun waktu 30 hingga 40 tahun terakhir, Tiongkok berhasil membangun perekonomiannya," ujarnya.
"Kami mendengar bahwa Tiongkok secara khusus mendorong penggunaan open source dalam teknologi seperti kecerdasan buatan. Bagi kami, hal ini menjadi inspirasi dan dorongan besar untuk bersatu, terutama bagi negara-negara Afrika, mendukung seruan Presiden Xi, karena langkah ini akan membantu kami bergerak cepat dan mengejar ketertinggalan dari negara-negara maju di bidang teknologi. Dunia terus memajukan teknologi dan bergerak menuju ekonomi digital. Oleh karena itu, kami yakin ini adalah peluang besar bagi Botswana untuk mengejar ketertinggalan tersebut," ujarnya.
Meskipun Ntlhaile menyoroti kekuatan Botswana di sektor berlian, yang menyumbang lebih dari 90 persen total ekspor negara itu, ia berharap teknologi baru akan memungkinkan Botswana untuk melakukan diversifikasi ekonomi.
"Selama ini, berlian telah sangat membantu kami, namun kami menyadari adanya tantangan baru dan perlunya melakukan diversifikasi. Teknologi pun menawarkan peluang besar bagi kami sebagai sebuah negara," katanya.