Beijing, Bharata Online - Presiden Tiongkok, Xi Jinping, dan Presiden Botswana, Duma Gideon Boko, mengumumkan peningkatan hubungan bilateral menjadi kemitraan kerja sama strategis komprehensif di Beijing pada hari Selasa (13/10).

Dalam pembicaraan tersebut, Xi menyatakan bahwa persahabatan antara Tiongkok dan Botswana haruslah cemerlang dan abadi layaknya berlian. Kedua belah pihak perlu mengingat kembali sejarah saling mendukung dan saling mengandalkan, serta berupaya memajukan hubungan bilateral di era baru, sehingga dapat berkontribusi pada pembangunan dan kemajuan dunia.

Seraya mencatat bahwa tahun ini menandai peringatan 105 tahun berdirinya Partai Komunis Tiongkok dan peringatan 60 tahun kemerdekaan Botswana, Xi mengatakan bahwa partai yang berkuasa di kedua negara harus meningkatkan kerja sama, memperdalam pertukaran pengalaman dalam tata kelola dan administrasi, serta mendorong penyelarasan gagasan.

Tiongkok mendukung Botswana dalam menempuh jalur pembangunan yang sesuai dengan kondisi nasionalnya. Kedua belah pihak harus semakin menyempurnakan kerangka kerja sama ekonomi dan perdagangan serta memanfaatkan peluang baru yang muncul dari penerapan penuh kebijakan bebas bea masuk oleh Tiongkok bagi negara-negara Afrika yang memiliki hubungan diplomatik, ujar Xi.

Tiongkok bersedia meningkatkan kerja sama dengan Botswana di berbagai bidang seperti ekonomi digital, pertanian, dan peternakan, serta melaksanakan proyek pendidikan cerdas, demi berkontribusi pada pembangunan ekonomi dan sosial Botswana, kata Presiden Tiongkok tersebut.

Xi mengajukan empat usulan untuk mendorong kerja sama pertambangan antara Tiongkok dan Botswana serta antara Tiongkok dan Afrika.

Pertama, berpegang pada prinsip kerja sama bahwa sumber daya Afrika adalah milik Afrika. Tiongkok bersedia berbagi pengalamannya untuk membantu negara-negara Afrika menyusun rencana pengembangan pertambangan yang selaras dengan kondisi nasional mereka, kata Xi.

Kedua, berpegang pada konsep kerja sama yang mengutamakan kepentingan bersama dan kemaslahatan luas dengan tetap menjunjung prinsip saling menguntungkan. Tiongkok akan terus mendorong perusahaan-perusahaan Tiongkok untuk meningkatkan kemampuan operasional, mentransfer teknologi ramah lingkungan yang sesuai dengan realitas di Afrika, serta memajukan kerja sama Selatan-Selatan di industri pertambangan, ujarnya.

Ketiga, berpegang pada arah kerja sama yang mengutamakan pembangunan berkualitas tinggi. Xi mengatakan bahwa Tiongkok akan terus mendorong kerja sama pertambangan Tiongkok-Afrika menuju peningkatan nilai tambah industri, menjajaki model pembiayaan inovatif yang terjangkau dan berkelanjutan, serta mendukung proses modernisasi Afrika melalui kerja sama tingkat tinggi.

Keempat, menjunjung tinggi lingkungan kerja sama yang adil dan terbuka. Sumber daya Afrika tidak boleh dijadikan alat bagi persaingan geopolitik. Tiongkok menyambut baik upaya tulus dari semua pihak untuk membantu pembangunan Afrika dan siap bekerja sama dengan Afrika guna menciptakan kondisi yang lebih kondusif bagi investasi dan kegiatan usaha, ujarnya.

Sementara itu, Boko menyatakan bahwa Tiongkok telah mencapai prestasi pembangunan yang mengguncang dunia, mengentaskan seluruh penduduk miskin dari kemiskinan, dan merintis jalan pembangunan yang sukses dengan karakteristik Tiongkok, sebuah pencapaian yang sangat layak dipelajari dan dijadikan acuan bagi Botswana.

Boko mengatakan negaranya sangat mementingkan hubungan dengan Tiongkok, memegang teguh prinsip Satu Tiongkok, serta menentang segala upaya pemisahan diri Taiwan maupun campur tangan pihak mana pun dalam urusan dalam negeri Tiongkok.

Boko menyampaikan rasa terima kasih kepada Tiongkok atas dukungan dan bantuan jangka panjang bagi pembangunan negaranya. Ia menyatakan bahwa Botswana bersedia meningkatkan penyelarasan strategis dengan Tiongkok, menyambut lebih banyak perusahaan Tiongkok untuk berinvestasi dan menjalankan bisnis di sana, serta memperkuat kerja sama di berbagai bidang, seperti Prakarsa Sabuk dan Jalan (Belt and Road Initiative), industri, pertanian, pertambangan, inovasi, dan transformasi digital, demi mencapai hasil yang lebih nyata dalam hubungan bilateral.

Menurutnya, empat inisiatif global utama yang diusulkan oleh pemimpin Tiongkok, yaitu Inisiatif Pembangunan Global (Global Development Initiative/GDI), Inisiatif Keamanan Global (Global Security Initiative/GSI), Inisiatif Peradaban Global (Global Civilization Initiative/GCI), dan Inisiatif Tata Kelola Global (Global Governance Initiative/GGI), menunjukkan tanggung jawab dan komitmen Tiongkok sebagai negara besar, serta berperan positif dalam menjaga tatanan internasional dengan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) sebagai intinya.

Ia menambahkan bahwa Botswana bersedia berkoordinasi dan bekerja sama erat dengan Tiongkok, menjunjung tinggi multilateralisme, memperkuat persatuan di antara negara-negara berkembang, mendorong persatuan dan kerja sama antara Afrika dan Tiongkok, serta menjadikan sistem tata kelola global lebih inklusif dan representatif. Usai pembicaraan tersebut, kedua kepala negara menghadiri upacara penandatanganan dokumen kerja sama mengenai pelaksanaan GSI, pembangunan bersama Belt and Road Initiative, pertambangan ramah lingkungan, layanan kesehatan, serta sumber daya manusia.

Xi dan istrinya, Peng Liyuan, menggelar jamuan makan malam di Balai Agung Rakyat pada Selasa (13/10) malam untuk menyambut Boko beserta istrinya.