Beijing, Bharata Online - Beijing telah ditetapkan sebagai Ibu Kota Arsitektur Dunia UNESCO-UIA (Persatuan Arsitek Internasional) untuk tahun 2029, demikian diumumkan oleh UNESCO pada hari Rabu (5/8). Penetapan ini dilakukan menyusul rekomendasi dari Komite Bersama untuk Ibu Kota Arsitektur Dunia.

Program Ibu Kota Arsitektur Dunia, yang dibentuk bersama oleh UNESCO dan UIA, menyoroti peran transformatif arsitektur, perencanaan kota, budaya, dan warisan dalam memajukan pembangunan perkotaan yang berkelanjutan. Setiap tiga tahun, UNESCO menetapkan kota tuan rumah Kongres Dunia UIA sebagai Ibu Kota Arsitektur Dunia UNESCO-UIA.

Rio de Janeiro, Brasil, menjadi kota pertama yang ditetapkan sebagai Ibu Kota Arsitektur Dunia UNESCO-UIA pada tahun 2020, diikuti oleh Kopenhagen dan Barcelona.

Menurut UNESCO, Beijing terpilih karena "kemampuannya yang luar biasa dalam memadukan salah satu warisan arsitektur terkaya di dunia dengan visi pembangunan perkotaan berkelanjutan yang berorientasi ke masa depan".

"Karakter perkotaan yang bersejarah, proyek regenerasi yang sukses, dan budaya arsitektur yang dinamis menunjukkan bagaimana warisan, inovasi, dan kehidupan masyarakat dapat saling memperkuat dalam membentuk kota yang tangguh dan layak huni," ungkap UNESCO dalam siaran persnya.

Direktur Jenderal UNESCO, Khaled El-Enany, dikutip dalam siaran pers tersebut mengatakan bahwa warisan arsitektur Beijing yang luar biasa, transformasi perkotaan yang dinamis, dan visi yang berorientasi ke masa depan akan menginspirasi dialog internasional baru mengenai kekuatan arsitektur.

Mengusung tema "Back to Balance" (Kembali ke Keseimbangan), Beijing akan menyelenggarakan serangkaian pameran, konferensi, forum pendidikan, dan acara publik sepanjang tahun 2029, bersamaan dengan penyelenggaraan Kongres Dunia Arsitek UIA. Berbagai acara ini akan menjadi wadah global untuk mengeksplorasi arsitektur sebagai katalisator bagi pelestarian budaya, harmoni simbiotik antara manusia dan alam, serta pembangunan perkotaan yang berkelanjutan.