Beijing, Bharata Online - Para pejabat keamanan dan pakar berkumpul dalam sebuah forum penanggulangan terorisme di Beijing yang berakhir pada hari Kamis (15/10), untuk membahas penggunaan teknologi baru serta keterampilan baru guna melindungi perbatasan dan jalur pelayaran maritim dari ancaman teroris.
Lebih dari 320 perwakilan dari 62 negara dan organisasi internasional menghadiri forum tiga hari bertajuk "Great Wall-2026 International Forum on Counter-Terrorism" yang diselenggarakan oleh Pasukan Polisi Bersenjata Rakyat Tiongkok (Chinese People's Armed Police Force).
Personel militer, keamanan perbatasan, dan kepolisian, bersama dengan pejabat bea cukai serta para peneliti, mendiskusikan langkah-langkah respons terhadap berbagai ancaman di lingkungan yang berbeda.
Mohamad Daher, Atase Militer di Kedutaan Besar Lebanon untuk Tiongkok, memaparkan pendekatan keamanan perbatasan darat yang mengombinasikan peralatan pengawasan dengan pemeriksaan dokumen, pertukaran intelijen, dan pelatihan rutin. Ia menekankan bahwa efektivitas teknologi bergantung pada sumber daya manusia yang mampu mengoperasikannya.
"Anda memerlukan seseorang yang bisa menggunakan teknologi semacam ini. Hal ini sangat penting karena membantu kita memahami secara efektif di mana mereka berada dan bagaimana mereka bergerak. Dengan kamera inframerah, kita bisa memantau pergerakan mereka sepanjang malam. Oleh karena itu, teknologi sangatlah krusial, termasuk penggunaan drone. Teknologi tinggi, seperti pertukaran informasi antarlembaga, juga meningkatkan kesiapsiagaan dalam melawan kelompok teroris," ujar Daher.
Para delegasi menelaah tantangan dalam memantau jalur pelayaran serta lokasi-lokasi yang tersebar luas, termasuk pelabuhan dan anjungan lepas pantai, guna memberikan perlindungan terhadap ancaman pembajakan dan terorisme.
Vijay D. Chafekar, Direktur Eksekutif ReCAAP Information Sharing Center, berbagi pengalaman organisasinya dalam memfasilitasi kerja sama antarnegara untuk mengamankan jalur pelayaran di Asia.
"Ini adalah model berbasis kepercayaan, di mana negara-negara dengan kepentingan yang beragam bersatu untuk bekerja sama dalam menjaga keamanan perdagangan maritim serta menangani aktor non-negara yang mengancam perdagangan tersebut. Menurut saya, ini telah menjadi model kerja sama regional yang dapat direplikasi di belahan dunia lain yang masih menghadapi masalah pembajakan," kata Chafekar.