Beijing, Bharata Online - Sebuah survei terbaru menunjukkan adanya pergeseran sikap lintas generasi di kalangan warga Amerika terhadap Tiongkok, dengan generasi muda Amerika cenderung lebih mendukung interaksi dan kerja sama antara kedua negara.
Hampir 100 mahasiswa dari 10 universitas di AS, termasuk Universitas Harvard, baru-baru ini berpartisipasi dalam program "Future Makers 2026: China-U.S. Youth Tour for a Shared Asia-Pacific Future" (Tur Pemuda Tiongkok-AS untuk Masa Depan Asia-Pasifik Bersama). Dalam kegiatan tersebut, mereka bertemu dengan rekan-rekan sebaya dari Tiongkok serta mengunjungi sejumlah situs warisan budaya paling ternama dan fasilitas teknologi canggih di Tiongkok.
Setelah perjalanan itu, mereka menulis surat kepada Presiden Tiongkok, Xi Jinping, untuk menyampaikan kesan-kesan mereka serta menyatakan kesediaan untuk berkontribusi dalam mempererat persahabatan antara AS dan Tiongkok.
Dalam surat balasannya pada hari Selasa (22/9) lalu, Xi mendorong kaum muda dari kedua negara untuk terus memupuk persahabatan.
Christina Cogdell, Profesor di Universitas California, Davis yang mendampingi para mahasiswa dalam perjalanan tersebut, mengatakan bahwa pengalaman itu telah mengubah cara pandang para mahasiswa terhadap Tiongkok.
"Hal ini sangat kontras dengan bagaimana media kita menggambarkan Tiongkok dan kehidupan di sana. Pengalaman ini mengubah persepsi mahasiswa saya mengenai Tiongkok. Salah satu mahasiswa bahkan mempertimbangkan untuk melanjutkan studi pascasarjana di Universitas Tsinghua jika ia berhasil diterima. Mahasiswa lainnya menyadari bahwa ia bisa saja tinggal di Tiongkok. Sebelumnya ia tidak menyadari adanya dunia yang lebih luas dan bahwa ia bisa merasa bahagia tinggal di tempat lain," ujarnya.
Mahasiswa dari kedua negara juga menemukan kesamaan melalui minat akademik dan penelitian yang mereka bagi bersama.
"Saya berbincang cukup panjang lebar dengan salah satu mahasiswa mengenai penelitian saya. Saya melakukan penelitian di bidang kimia material dan topik terkait. Sementara itu, mahasiswa yang berbicara dengan saya adalah mahasiswa doktoral di bidang teknik biomedis, jadi kami memiliki pengalaman yang cukup serupa. Meskipun jarak kami berjauhan, kami mampu menjalin ikatan melalui koneksi di bidang akademik dan penelitian tersebut," kata Madilynn Borger, Mahasiswa di Central Michigan University.
Bagi banyak mahasiswa Amerika tersebut, tur ini juga mengubah cara pandang mereka terhadap hubungan antara kedua negara.
"Dalam perjalanan ini, saat saya berbincang dengan para mahasiswa di sebuah universitas di Tiongkok, saya melihat bahwa kita semua, sebagai individu, lebih banyak memiliki kesamaan daripada perbedaan. Menurut saya, membangun hubungan yang lebih baik dan mempererat ikatan antara kedua negara kita akan sangat bermanfaat bagi semua orang di seluruh dunia. Maksud saya, kita adalah dua negara besar. Saya mencintai Amerika, dan saya sangat menikmati kunjungan saya ke Tiongkok. Saya berharap kita dapat bekerja sama di masa depan," ujar Delaney Murphy, Mahasiswa lain dari Central Michigan University.
Kendaraan listrik, robot humanoid, dan berbagai produk cerdas buatan Tiongkok juga memberikan kesan mendalam bagi para mahasiswa AS tersebut.
"Melihat teknologi canggih, serta penerapan robotika dan kecerdasan buatan dalam skala besar untuk memproduksi kendaraan listrik—hal itu sungguh mengesankan," kata Michael Mitchell, Mahasiswa University of Chicago.
Menatap masa depan, Profesor Cogdell menyatakan harapannya agar kedua belah pihak dapat menemukan titik temu dan memajukan kerja sama.
"Harapan saya adalah adanya kemampuan untuk saling mendengarkan dan upaya untuk memahami perspektif satu sama lain, serta mengambil jalan tengah guna menemukan solusi yang tepat—sebuah titik temu yang memungkinkan kedua belah pihak untuk tetap eksis sekaligus melangkah maju bersama. Saya berharap titik temu tersebut bersifat progresif dan benar-benar memajukan kerja sama kita," ujarnya.