Guizhou, Bharata Online - Jembatan Grand Canyon Huajiang, jembatan tertinggi di dunia, telah mengubah rintangan yang dulunya sangat berat bagi Tentara Merah selama peristiwa Long March menjadi jalur penghubung yang membawa kemakmuran bersama bagi masyarakat masa kini di Provinsi Guizhou, Tiongkok Barat Daya.
Tentara Merah, yang dipimpin oleh Partai Komunis Tiongkok (PKT), menempuh perjalanan sejauh hingga 12.500 kilometer antara tahun 1934 dan 1936 untuk menerobos kepungan Partai Kuomintang (KMT), sebuah perjalanan yang kemudian dikenal sebagai Long March.
Pada tahun 1935, Tentara Merah melintasi Sungai Chishui di wilayah tersebut sebanyak empat kali atas arahan Mao Zedong, yang menandai salah satu langkah militer paling menentukan dan penuh kemenangan selama Long March.
Di Erlangtan, salah satu titik penyeberangan feri utama dalam peristiwa tersebut, para prajurit Tentara Merah menyeberangi sungai menggunakan papan kayu yang disumbangkan oleh penduduk desa setempat.
"Saat itu, Tentara Merah tiba di Erlangtan. Arus Sungai Chishui sedang sangat deras. Penduduk desa menyumbangkan papan pintu kayu untuk membangun jembatan ponton, sehingga seluruh pasukan dapat menyeberangi sungai," ujar Wang Haiqing, Ahli Sejarah Peristiwa Empat Penyeberangan Sungai Chishui.
Beberapa dekade kemudian, Jembatan Grand Canyon Huajiang dibuka untuk lalu lintas pada bulan September 2025. Menjulang setinggi 626 meter di atas Sungai Beipan, jembatan ini telah menjadi objek wisata utama. Data resmi menunjukkan bahwa jembatan beserta area sekitarnya telah dikunjungi oleh lebih dari 3,3 juta orang hingga bulan September 2026.
Pada hari-hari ramai, hampir 10.000 wisatawan dari seluruh dunia datang mengunjungi jembatan yang menjulang tinggi ini, sementara tim pemeliharaan disiagakan di lokasi untuk memastikan keselamatan mereka.
"Kami melakukan patroli di jembatan setiap hari. Saat angin bertiup kencang, kami memantau peralatan serta kondisi angin, dan melakukan pemeriksaan menyeluruh terhadap semua fasilitas," kata Li Jie, Pengawas Pemeliharaan Jembatan dari Stasiun Pemeliharaan Shuangrufeng.
Jembatan tersebut telah memangkas waktu perjalanan melintasi ngarai tersebut dari dua jam menjadi hanya dua menit.
"Pembangunan jembatan ini memakan waktu tiga tahun sembilan bulan. Sejak rampung, jembatan ini sangat memudahkan perjalanan warga desa setempat," ujar Long Jiyang, Insinyur Proyek Jembatan Grand Canyon Huajiang.
Hingga tahun 2026, Guizhou memiliki lebih dari 32.000 jembatan, baik yang sudah rampung maupun yang sedang dalam tahap pembangunan. Akses jalan yang lebih baik telah menghubungkan desa-desa etnis minoritas yang terletak jauh di pegunungan dengan dunia luar.
"Transportasi yang lebih baik telah mendatangkan banyak wisatawan dan peluang pasar. Kami memadukan kerajinan warisan budaya takbenda tradisional dengan pariwisata untuk mengembangkan suvenir khas. Tahun lalu, penjualan kerajinan tangan kami melampaui 20 juta yuan (sekitar 53,4 miliar rupiah)," kata Lu Yongmei, seorang pewaris warisan budaya takbenda.
"Berkat pariwisata, warga setempat dapat memperoleh pekerjaan atau merintis usaha sendiri di sini. Semakin sedikit warga desa yang harus meninggalkan kampung halaman untuk bekerja di tempat lain," ujar Lu Yuguang, seorang pejabat desa setempat.