Jingdezhen, Bharata Online - Jingdezhen, ibu kota porselen yang tersohor di dunia dan terletak di Provinsi Jiangxi, Tiongkok Timur, sedang merevitalisasi kawasan bersejarahnya untuk menghidupkan kembali seni kriya kunonya. Langkah ini menarik minat para perajin muda melalui penyediaan bengkel yang telah dipugar, keringanan biaya sewa, serta dukungan bagi usaha rintisan.

Kota ini telah lama berkecimpung dalam seni membentuk tanah liat dan pembakaran keramik selama lebih dari seribu tahun. Pada bulan Juli 2026, warisan tersebut mendapat pengakuan resmi ketika Situs Industri Porselen Kriya Jingdezhen ditetapkan sebagai Warisan Dunia UNESCO, yang mengukuhkan posisinya sebagai salah satu pusat seni keramik terkemuka di dunia.

Kota ini telah menemukan cara untuk menyeimbangkan pelestarian dengan pembangunan, menjaga keutuhan warisan budaya sembari membuka ruang bagi generasi muda. Pada tahun 2016, Jingdezhen memulai upaya pembaruan kawasan perkotaan. Di distrik Taoyangli, lebih dari 1.000 bangunan tempat tinggal dipugar. Sebagian besar bangunan tersebut berasal dari masa Dinasti Ming dan Qing (1368-1911). Tujuannya bukan untuk mengubah kawasan itu menjadi museum, melainkan menjadikannya lingkungan yang hidup dan aktif bagi orang-orang yang melestarikan seni kriya tersebut.

Tahun lalu, Taoyangli meluncurkan program "Perajin dan Seni Rakyat" (Craftsmen and Folk Arts), yang mengundang para perajin untuk bergabung sekaligus mempromosikan wisata budaya. Para perajin mendapatkan dukungan berupa promosi gratis dan keringanan biaya sewa, sehingga mereka dapat membuka bengkel dan lebih fokus pada karya mereka daripada sekadar berjuang untuk bertahan hidup.

Sejauh ini, program tersebut telah menerima 26 perajin yang memiliki keahlian khusus dalam restorasi porselen, pewarnaan alami, dan seni kriya tradisional lainnya, serta membantu mereka membangun identitas merek sendiri dan memperoleh ruang gratis untuk memamerkan keahlian mereka.

Bagi Dai Jingwu, seorang spesialis restorasi porselen yang telah tinggal di Jingdezhen selama enam tahun, perubahan yang dirasakan sangat nyata.

"Dalam enam bulan terakhir, jumlah pengunjung terus meningkat. Banyak di antara mereka yang tertarik pada seni kriya, dan kami telah menerima pengunjung dari Shanghai, Beijing, serta Hangzhou," ujarnya.

Bagi Tang Haini, seorang perajin pewarnaan botani tradisional, program ini memberikan manfaat yang lebih dari sekadar mendatangkan pelanggan. Program ini telah mengubah cara pandangnya terhadap pekerjaannya.

"Hal ini membantu saya membangun pola pikir merek secara bertahap, karena sebelumnya kami hanya ingin menjual produk. Namun seiring berjalannya waktu, kami mulai mengubah produk kami menjadi sebuah seri, sebagai respons terhadap permintaan pelanggan atau kebutuhan pasar," ujar Tang.

Taoyangli, tempat beradanya sisa-sisa banyak tungku pembakaran kekaisaran, merupakan lokasi di mana Jingdezhen melestarikan warisannya. Di sini, bengkel-bengkel lama masih berdiri dan para perajin masih memperbaiki porselen dengan tangan.

Bagi mereka yang ingin mengubah kerajinan tangan menjadi sebuah bisnis, kawasan Taoxichuan menawarkan jalur yang berbeda. Kawasan ini berfungsi sebagai wadah inkubasi tempat para kreator muda dapat menguji karya mereka di pasar, membangun merek, dan mencari penghasilan dari kerajinan tersebut. Setiap akhir pekan, kawasan ini menggelar pasar malam dengan sekitar 460 stan. Area "Yi Space" di dalamnya dikhususkan bagi kreator terpilih dan menampung lebih dari 100 toko. Kawasan ini juga bekerja sama dengan bank-bank lokal untuk menyediakan pinjaman bagi usaha rintisan.

Chen Xiaojie, seorang seniman keramik dari Provinsi Zhejiang, memahami betul betapa pentingnya dukungan tersebut. Pada tahun pertamanya di Taoxichuan, pihak kawasan membantunya memperoleh pinjaman tanpa bunga senilai sekitar 30.000 dolar AS (sekitar 537 juta rupiah), yang meringankan beban keuangannya.

"Saya mendapatkan pinjaman bersubsidi sebesar 200.000 yuan, yang berarti tanpa bunga. Saya menggunakannya untuk meningkatkan fasilitas studio dan membeli tungku pembakaran. Siapa pun yang berkecimpung di dunia keramik tahu bahwa jika ukuran tungku terlalu kecil, biaya akan membengkak karena kapasitas pembakaran dalam satu kali proses menjadi terbatas," kata Chen.

Mulai dari bengkel-bengkel bersejarah di Taoyangli hingga wadah inkubasi di Taoxichuan, Jingdezhen telah menciptakan ruang di mana tradisi dan kreator muda dapat berkembang berdampingan, dan yang lebih penting lagi, dengan kerajinan yang telah diwariskan secara turun-temurun tetap memiliki masa depan.