Jerman, Bharata Online - Seorang mantan badut asal Jerman yang jatuh cinta pada budaya Tiongkok hampir empat dekade lalu kini telah menjadi produser untuk sirkus nasional Tiongkok. Ia memanfaatkan sosok badut yang jenaka, peran yang sebelumnya asing bagi tradisi Tiongkok—untuk membantu penonton Eropa agar lebih bisa terhubung dengan seni akrobat Tiongkok.

Menggambarkan dirinya sebagai "anak yang berbeda dari anggota keluarga lainnya" (black sheep of the family), Raoul Schoregge mengawali kiprahnya di industri ini dengan membangun reputasi sebagai badut dalam sebuah sirkus keliling Eropa saat masih muda.

Namun, hidupnya berubah pada akhir tahun 1980-an ketika sebuah pertemuan tak terduga memicu kecintaan seumur hidup terhadap budaya Tiongkok. Hal ini membawanya meniti karier gemilang hingga akhirnya menjabat sebagai produser untuk sirkus nasional Tiongkok yang sangat diakui.

"Setelah beberapa waktu berkeliling Eropa sebagai badut, saya jatuh cinta pada satu jenis budaya yang sangat istimewa di dalam budaya Tiongkok, yaitu sirkus Tiongkok. Saya rasa pertama kali saya melihat pertunjukan mereka adalah pada akhir tahun 1980-an. Sejak saat itu, saya jatuh cinta pada budaya Tiongkok, pada jenis budaya ini. Dan kemudian, setelah bertahun-tahun, saya menjadi produser sirkus nasional Tiongkok," ujarnya.

Schoregge mengungkapkan kekagumannya terhadap warisan seni pertunjukan Tiongkok yang panjang dan mendalam, serta memuji kemampuan luar biasa para akrobat yang seolah mampu menaklukkan gravitasi dengan begitu luwes.

"Sirkus Tiongkok memiliki sejarah selama 2.000 tahun. Bisa dibilang, ini seperti sebuah ilmu pengetahuan. Sebagai contoh, seorang akrobat Tiongkok yang melakukan handstand (berdiri dengan tangan) tidak sekadar 'melakukan' gerakan handstand, ia 'menyatu' dengan gerakan handstand itu sendiri," katanya.

Berupaya mengembangkan sejarah yang kaya dan atraksi fisik yang memukau ini, Schoregge memiliki gagasan inovatif untuk memadukan elemen-elemen luar ke dalam pertunjukan sirkus tradisional Tiongkok, dengan tujuan memperkenalkan pesona unik budaya Tiongkok kepada lebih banyak orang.

"Dalam sirkus Tiongkok, tidak ada sosok badut yang sebenarnya. Anda akan menemukan sosok badut dalam Opera Beijing atau Opera Sichuan, di sanalah badut itu ada, dan gayanya sangat mirip dengan badut ala Eropa. Namun, dalam sirkus Tiongkok, tidak benar-benar ada badut. Sayalah yang pertama kali menghadirkan badut dalam pertunjukan Tiongkok di Eropa, sebagai jembatan antara penonton—penonton Barat, dan budaya Timur. Ibaratnya, ini seperti peran seorang penerjemah. Lupakan segala batasan yang ada di benak kita. Soal tawa, rasanya selalu sama," ujarnya.

Seniman sekaligus produser kawakan itu kini berharap akan lebih banyak seniman Tiongkok dan Eropa yang bekerja sama dalam pertukaran kreatif, sehingga bentuk hiburan yang memikat ini dapat melintasi batas negara dan menjadi jembatan penghubung antarperadaban.

"Kita memiliki keunggulan yang berbeda, baik pihak Tiongkok maupun Jerman, dan dalam artian tertentu, juga pihak Eropa, dan menurut saya, jika kita benar-benar bisa menyatukan segala kelebihan kita, maka kita memiliki peluang untuk menjadikan dunia ini tempat yang lebih baik," tuturnya.

Sembari menjalankan perannya dalam memajukan bentuk seni ini, Schoregge juga menggunakan metafora tentang orang-orang yang memindahkan gunung untuk menggambarkan bagaimana upaya kecil dari banyak orang dapat berkontribusi pada sesuatu yang jauh lebih besar.

"Orang-orang yang berhasil memindahkan gunung itu adalah mereka yang memulainya dengan memindahkan bagian-bagian kecil. Dan inilah yang saya lakukan setiap hari: memindahkan bagian-bagian kecil. Begitu pula dengan mitra-mitra saya dari Tiongkok. Mereka juga memindahkan bagian-bagian kecil. Jika Anda mau, Anda pun bisa turut memindahkan bagian-bagian kecil itu. Jika kita semua melakukannya, pada akhirnya kita akan berhasil memindahkan gunung tersebut," ujarnya.