Shanghai, Bharata Online - Persaingan dalam industri otomotif global telah bergeser dari sekadar adu skala menjadi koordinasi kapabilitas yang bersifat multidimensi. Demikian diungkapkan dalam sebuah laporan baru yang dirilis pada Forum Ekonomi Internasional Hongqiao kesembilan, Kamis (6/11) lalu, yang juga menyerukan ekosistem industri global yang lebih kolaboratif.
Studi bertajuk "Laporan Daya Saing Otomotif Global 2026" (Global Automotive Competitiveness Report 2026) ini diperkenalkan dalam sesi paralel bertema "Perdagangan Bebas dan Adil serta Kerja Sama Daya Saing Industri" di Forum Hongqiao, yang merupakan bagian dari Pameran Impor Internasional Tiongkok (China International Import Expo/CIIE) kesembilan.
Laporan tersebut menyusun kerangka evaluasi untuk daya saing internasional industri otomotif yang mencakup lima dimensi, yakni fondasi industri, inovasi teknologi, daya saing pasar, alokasi sumber daya global, dan dukungan lingkungan, serta 29 indikator. Berdasarkan perhitungan dan perbandingan di 41 negara utama di seluruh dunia, laporan tersebut menyimpulkan bahwa persaingan otomotif global telah berevolusi dari persaingan berbasis skala menjadi koordinasi kapabilitas yang multidimensi.
Laporan ini mendorong upaya untuk membangun ekosistem industri otomotif global baru yang ditandai dengan rantai pasok yang lebih terkoordinasi, teknologi yang lebih inklusif, perdagangan yang lebih terbuka, investasi yang lebih saling menguntungkan, serta tata kelola yang lebih sinergis.
"Industri otomotif telah berevolusi dari kendaraan berbahan bakar konvensional menuju kendaraan energi baru, dan kini mengarah ke kendaraan cerdas yang saling terhubung (intelligent connected vehicles). Logika persaingannya secara keseluruhan sedang mengalami perubahan mendasar. Indikator evaluasi dan analisis sebelumnya, yang berfokus pada skala dan nilai output, tidak lagi memadai untuk menjelaskan daya saing yang baru ini. Iterasi dan peningkatan industri otomotif, termasuk pembukaan ruang pasar baru, menuntut koordinasi dan kerja sama yang lebih baik," ujar Tang Yunyi, Wakil Direktur Institut Ekonomi Terapan di Akademi Ilmu Sosial Shanghai.
Gagasan bahwa persaingan otomotif global kini lebih menitikberatkan pada koordinasi kapabilitas daripada sekadar skala, turut diamini oleh berbagai produsen mobil yang telah membangun bisnis mereka di Tiongkok melalui perpaduan antara persaingan dan kerja sama.
Bagi perusahaan seperti Mercedes-Benz, yang telah selama beberapa dekade memproduksi dan menjual kendaraan di pasar mobil terbesar di dunia, argumen utama laporan tersebut, yakni bahwa keunggulan jangka panjang terletak pada koordinasi, sejalan dengan prinsip yang telah diterapkan perusahaan tersebut dalam menjalankan bisnisnya di Tiongkok.
"Sebagai perusahaan Jerman, saya meyakini bahwa kolaborasi sejati ini mampu mendorong penciptaan nilai jangka panjang. Kolaborasi ini didasarkan pada aturan dan persaingan yang adil; oleh karena itu, kami sangat menantikan babak selanjutnya di Tiongkok," ujar Oliver Thone, Anggota Dewan Mercedes-Benz Group AG.
Forum Ekonomi Internasional Hongqiao, yang diselenggarakan di National Exhibition and Convention Center dengan mengusung tema "Stabilitas dan Kerja Sama: Bersama Membangun Ekonomi Dunia yang Terbuka", mempertemukan para pemimpin bisnis dan perwakilan dari seluruh dunia untuk menjajaki jalan menuju ekonomi global yang lebih terbuka, melalui serangkaian sesi paralel serta peluncuran berbagai laporan.
Forum ini berlangsung bersamaan dengan China International Import Expo (CIIE) yang resmi dibuka di Shanghai pada hari yang sama, dengan menghadirkan lebih dari 4.100 peserta pameran luar negeri dari 148 negara dan wilayah. Pertama kali digelar pada tahun 2018 sebagai pameran tingkat nasional pertama di dunia yang dikhususkan untuk impor, CIIE kini telah berkembang menjadi pintu gerbang vital bagi perusahaan asing yang ingin menjangkau pasar konsumen dan industri Tiongkok yang sangat luas.